Tampilkan postingan dengan label Rambling. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Rambling. Tampilkan semua postingan

Latent Content : 26 Tahun hidup di dunia

Tadi pagi aku membaca buku The Wind-up Bird-nya Haruki Murakami sebentar. Aku tidak melihat jam, tapi kurasa aku hanya membaca 30 menit sampai akhirnya tertidur. Tadinya aku ingin mengisi waktu sampai jam 5.30, aku berencana lari pagi pada jam itu. Alih-alih aku malah tertidur pulas dan mengalami mimpi yang begitu jernih. 

Aku jarang bisa mengingat mimpi. Tetapi terkadang mimpi yang muncul saat aku tertidur di pagi hari setelah solat subuh terasa begitu jelas. Sejelas aku berjalan ke luar rumah di siang hari saat matahari terik. Semua peristiwa yang terjadi begitu jernih. Detail benda-benda, emosi, sensasi indra- rasa sakit, sentuhan, kelelahan, dipabrikasi oleh otak ku dengan begitu baik. Memang ada satu area di otak yang berfungsi mengatur hal itu. Area itu mengelaborasi persitiwa dengan cermat, menyusun semua material menjadi bentuk cerita utuh, seperti ribosom dalam menerjemahkan mRNA, menyusun data genetis. 

Sesaat setelah terbangun aku selalu mencoba mengingat-ingat mimpi apa yang baru saja terjadi. Kali ini, seperti saat aku tertidur pagi-pagi di kesempatan lain, apa yang berlangsung dalam mimpiku rasanya seperti persitiwa yang terjadi kemarin sore. Aku ingat semuanya, bahkan sadar bahwa material-material yang dicampur adukan oleh kepalaku menjadi bentuk cerita sebagiannya pasti diambil dari buku Murakami yang aku baca sebelum terlelap. Suasana, udara, cahaya, dan segalanya mirip seperti sepenggal deskripsi di dalam buku. 

Membaca lagi beberapa ceramah Freud, mimpi sepertinya jalan yang lebih baik dan cerdas bagi diri untuk "merasakan" apa yang tidak mungkin terjadi di dunia nyata, jauh melampaui khayalan yang berlangsung saat kita sadar. Saat duduk sebentar di tempat tidur dan menyusun ulang peristiwa dalam mimpi, aku dipenuhi perasaan pathetic. Apa yang sedang repot-repot aku lakukan? kalau otak-ku ingin "mengkhayal" dengan sendirinya tanpa aku mangatur semua adegan dalam khayalan itu, lantas pikiran bawah sadarku menambahkan sedikit dramatisasi suasana musim panas dalam The Wind-up Bird-nya Murakami, memangnya kenapa?   

Aku tidak pernah berpikir untuk mencatat ringkas atau bahkan peduli pada kejadian di dalam mimpi, apalagi menyusunnya dalam sebuah tulisan kronoligis seperti satu penggal cerpen yang memiliki open ending. Tetapi mengingat pandangan Freud soal mimpi, aku pikir apa yang berlangsung dalam mimpiku, segamblang apa pun semua peristiwa terlihat jelas, adalah bentuk latent content. Kemudian aku bertanya, apa yang hendak disampaikan alam bawah sadarku? Jika ada simbol-simbol, atau mungkin ada satu dua hal yang begitu ingin aku capai atau aku singkirkan dalam kehidupan nyata, dan aku ingin memahami semua itu, maka jalan terbaik adalah mulai menuliskan sedetail mungkin apa yang berlangsung. 

Menuliskan itu di sini kurasa bukan tempatnya. Tetapi ada benang merah yang bisa aku tarik dari hal-hal yang terjadi. Semuanya jika kuringkas menjadi keyword dalam satu tulisan panjang, maka rasa-rasanya akan terdengar seperti ini : 26 tahun hidup di dunia dan apa-apa saja yang seharusnya telah terjadi.

Dua apel dan dua jeruk tiap dua hari sekali

Aku terkadang tertawa sendiri saat menyadari beberapa hal kecil yang aku lakukan adalah upayaku mengatasi ketidakmampuanku dalam banyak hal. Sebagian besar adalah keputusan yang kupilih tanpa sadar. Seperti saat aku membeli dua buah apel dan dua buah jeruk secara teratur tiap dua hari sekali di minimarket. Aku bisa saja membeli banyak sekaligus untuk disimpan selama seminggu. Tapi saat itu aku tidak memiliki kulkas, sehingga yang kupikirkan (tanpa sadar) adalah : apel-apel itu tidak akan kemana-mana, kenapa tidak biarkan saja mereka tetap selalu segar dan utuh.

Di minimarket yang hanya punya kulkas kecil pun apel-apel itu bisa bertahan lama dengan lebih baik. Secara teknis apel-apel itu belum jadi milik-ku, tapi bagaimana pun aku telah membuat keputusan. Jadi aku telah membeli apel-apel itu dalam pikiran, seara idealis, teoritis. Dan kenyataannya memang aku mampu memiliki apel-apel itu sekarang juga jika aku mau.

Lama-kelamaan aku memperoleh ilusi; khayalan bahwa pada dasarnya semua kebutuhanku telah tersedia, setidakrealistis apa pun itu. Bahkan dengan fakta yang gamblang bahwa kebanyakan hal bukanlah apel atau jeruk yang bisa mudah diperoleh. Lucu saat menyadari bahwa aku dengan mudahnya termakan mentalitas itu, seperti saat aku berpikir bahwa upayaku dalam mempresentasikan diri, misalnya di media sosial atau kantor tempat kerja, akan mengesani orang-orang bahwa aku sebetulnya memiliki lebih dari apa yang sebetulnya aku punya.  

Aku penasaran apakah pikiran serupa juga pernah muncul dibenak orang-orang, bahkan mereka yang punya dampak signifikan dalam terbentuknya dunia seperti apa adanya sekarang. Jika melihat tindakan yang dibuat orang, contohlah Hitler jauh sebelum Ia merealisasikan tujaun hidupnya, rasanya aku dengan mudah bisa menebak bahwa barangkali 'mentalitas telah memiki' adalah hal yang lumrah. Misalkan ide nya tentang Lebensraum, yang kelak akan mengharuskannya membabat banyak tanah milik negeri lain di Eropa agar rakyat Jerman punya tempat yang luas untuk hidup makmur dengan sumber daya melimpah. 

Lalu bagaimana dengan politik luar negeri Spanyol dan Portugis 400 tahun lalu, saat membagi peta dunia: ini bagianku, ini bagianmu? Atau Kebijakan AS yang suka ikut campur kalau-kalau di satu negara ada sumber minyak sangat melimpah. 

Barangkali, jika mentalitas ini bisa teraktualisasi ke banyak bentuk, maka salah satunya pasti adalah ide-ide optimis (segila apapun itu) bahwa benda yang kini masih abstrak dan belum ada dalam genggaman sebetulnya adalah hak inherent yang melekat sejak lahir.

Mungkin aku kejauhan. 

Satu saat aku pernah meminta temanku mengambil fotoku saat kami bermain ke kafe. Aku duduk, di depanku adalah gelas kopi dan makanan yang terlampau bagus dipresentasikan sehingga sayang menghabiskannya. Aku pindah ke balkon, di foto lagi dengan latar gedung-gedung tinggi. Bagaimana dengan itu? aku hampir membagikannya di media sosial lantaran saat itu yang muncul di benakku adalah keharusan untuk mengesani semua orang; bahwa aku berada pada satu titik saat di sekelilingku ada cozy thing, dan begitu menyenangkannya mendapati orang-orang penyadari fakta itu melekat pada kehidupanku, segamblang apa pun kenyataan bahwa aku hanya datang ke tempat itu pada saat tertentu saja, sekali-kali saat sedang tidak meyesal hendak kehilangan banyak uang tabungan dalam satu kesempatan singkat. Aku tidak jadi memposting nya karena kenyataan bahwa tampangku konyol sekali di foto-foto itu.

Kupikir 'mentalitas telah memiliki' sungguhan ada di benak orang-orang sebagai bentuk kelaziman. Mungki ada istilah lain untuk itu yang tidak terdengar konyol seperti bagaimana aku menyebutnya. Bukan hal penting untuk dipikirkan, tapi setidaknya aku dapat penjelasan yang cukup memuaskan dan komplit kenapa dulu aku suka sekali repot bolak-balik membeli dua apel dan dua jeruk tiap dua hari sekali.

 

 



Aku mengambil foto ini tanggal 25 Maret , hampir 5 bulan lalu di masa awal pandemi. Karena punya banyak waktu aku memutuskan lari pagi mengitari tempat itu. Kurasa saat itu pukul 5.30 pagi, dan meskipun telah melewati tempat itu ratusan kali aku berpikir barangkali aku tidak benar-benar mengenal banyak hal di sekitarku. Di hari-hari berikutnya saat aku melewati tempat itu lagi, seperti sebuah wajah, aku beroleh kesan bahwa Ia dengan begitu mudah bisa mengubah-ubah air mukanya. 
Jika mengingat tempat asalku yang selalu senyap sepanjang waktu, secuil waktu di pagi hari seperti ini membuatku menyadari bahwa dunia pada dasarnya adalah tempat yang sepi. Tapi tidak berapa lama aku bisa mendengar suara bising yang menghapuskan semua kesan itu. 
Seharusnya matahari dengan bentuk mirip seperti itu pernah terjadi berkali-kali karena dunia telah ada jutaan tahun. 

Mungkin kemarin-kemarin ada juga sesorang yang mengamati langit yang mirip dengan ini dan beroleh kesan bahwa dunia pada dasarnya adalah tempat yang sepi.

-Samping gedung Gandaria 8-


1 Bulan Terisolasi

Saat iseng membuka-buka jurnal yang sebagian besar tidak tersalin ke blog dan melihat foto-foto lama, aku mencoba mengingat suasana hati macam apa yang menghinggapiku saat itu. Sekarang tanggal 2 Ramadhan, bertepatan dengan 26 April 2020. Aku mulai berpikir ini adalah tahun paling aneh dalam hidupku. Setiap kali menulis hal-hal semacam ini aku diliputi rasa ganjil yang sama saat aku mulai menulis nyaris 10 tahun lalu. Masuk SMA aku menyalin beberapa ke sini, kebiasaan tidak berguna itu terus berlanjut. Entah kenapa aku melakukannya, saat itu mungkin aku hanya ingin meninggalkan semacam jejak. 

Aku begitu sadar semua ini adalah buang-buang waktu. Pukul 9:59 pagi, hari minggu, aku bisa menghabiskan waktu untuk apapun, tapi aku lagi-lagi mulai membuat kalimat-kalimat di sini (Sebetulnya aku sedang lembur, tetapi hanya menunggu pekerjaan seseorang selesai dan aku cuma sekedar menjadi reviewer).
Hanya Tuhan yang tahu kapan aku akhirnya berhenti menulis.

Tapi aku ingat alasanku buang-buang waktu di sini. Aku mungkin ingin meninggalkan semacam jejak, atau sekedar ingin merasa lega saat tahu bahwa aku pernah punya suasana hati serupa seperti apa yang terjadi hari ini. 
5,7, atau 10 tahun lagi aku akan iseng membuka catatan ini, dan menerka-nerka suasana hati semacam apa yang sedang aku rasakan.

-----------------------------------------------------------------------------

Ada beberapa catatan penting yang ingin aku ingat agar 5,7, atau 10 tahun lagi aku dapat gambaran  lebih baik saat menerka-nerka apa yang berlangsung hari ini.

1) Aku telah bekerja secara remote selama satu bulan lebih dan selama itu motivasiku turun drastis. Dalam waktu singkat ini aku sering berdebat dengan beberapa orang di kejauhan (mungkin aku berhasil membuat satu dua orang merasa jengkel). 
Beberapa kali aku diskusi dengan seorang teman soal pekerjaan, atau kami sekedar iseng membicaran atasan yang mulai menjadi menyebalkan di masa pandemik ini. Bersyukur aku bisa melakukan hal itu dan banyak memperoleh semacam motivasi. Aku kadang memaki-maki dalam hati kenapa wabah ini terjadi bersamaan dengan saat-saat akhir masa kontrak kerjaku. Sejak lulus kuliah hampir 2 tahun lalu, baru kali ini merasa ketakutan. Aku menelfon orang tuaku dan mengatakan bahwa aku telah berusaha melamar pekerjaan ke banyak tempat, hanya saja belum membuahkan hasil. Jika kontrak kerja habis dan aku tidak mendapat perpanjangan maka aku akan stuck di kota ini di tengah wabah bodoh, sebagai pengangguran

2) Wabah ini semakin parah saat Ramadhan datang sehingga rencanaku pulang ke rumah Jumat sore setiap minggu tidak terlaksana. Tapi aku bersyukur karena beberapa hal :
- Adik perempuanku berhasil masuk universitas yang dinginkannya, aku tidak akan bisa memberinya selamat secara langsung, paling tidak sampai Jakarta resmi di buka dan aku tidak akan disuruh putar balik saat hendak pulang. 
- Kakak perempuanku, sekitar 3 minggu lalu, entah bagaimana caranya bisa diam-diam pulang ke rumah tanpa terdeteksi. Aku khawatir jika Ia ketahuan keluargaku akan masuk daftar ODP. Ia tentunya paham juga hal itu dan pasti berusahan menjadi invisible. Seharusnya kini ia sudah melewati masa self quarantine.
- Adik laki-laki ku sama-sama harus menghabiskan masa-masa ini di Jakarta. Tapi ia punya penghidupan yang jauh-jauh lebih baik di sini (sudah sejak lama aku diam-diam punya prediksi kalau Ia akan melampauiku di banyak hal, termasuk pekerjaan). Entah kenapa itu membuatku lega. Aku telah lama mengakui, sejak SD, bahwa barangkali aku yang seorang adik. 

3) Andi Taufan dan Belva Devara mundur dari jabatan staf khusus presiden. Aku bersimpati pada mereka yang berusaha berkontribusi, tetapi harus menelan banyak celaan. Walaupun mundur mereka tidak mengendurkan effort kerja nya. Dan di masa-masa pandemik yang menyulitkan semua orang ini kita akan tahu kualitas orang sesungguhnya. Aku mendapat semacam tamparan karena masuk bulan Ramadhan motivasiku kering sama sekali. Belajar dari orang-orang itu membuatku paham bahwa kapasitasku bukan apa-apa bahkan untuk sekedar bisa menyulut lagi motivasi.

4) Aku menulis ini sambil menunggu pekerjaan Pak Maryanto usai (ia alasan aku harus lembur). Aku sering mendebatnya lewat telfon. Kurasa Ia merasa sangat jengkel, tapi belakangan, entah kenapa Ia sering share foto lingkungan rumahnya yang masih aman di Indramayu. Seperti kakak perempuanku, ia diam-diam 'kabur' dari Jakarta. Katanya Ia naik motor malam-malam menempuh 200 km, dan begitu sampai langsung melakukan self quarantine. Ia menceritakan aksi nekat itu lewat telfon beberap hari lalu, dan dengan lucu mengatakan bahwa Ia otomatis menjadi ODP kalau sampai kepergok jalan-jalan pagi. Mungkin gara-gara aku mulai mengurangi intensitas bantahanku di telfon, Ia pun menceritakan keluarganya, pekerjaan lamanya sebelum pindah (dan kini Ia sial karena harus satu tim denganku). Sangat melegekan mengetahui banyak orang masih bisa berada di rumah bersama keluarga di tengah pandemik.

Jakarta, 22 Maret 2020

Aku memikirkan hal ini saat sedang duduk di mikrolet yang berjalan dari Bogor menuju terminal dekat rumahku lebih dari sebulan lalu.  Beberapa menit sebelumnya, aku berdiri di depan stasiun Bogor, dipenuhi perasan yang hanya akan muncul di saat-saat tertentu. Aku bisa dengan enteng 'menghanguskan' uang untuk segelas minuman ringan yang  lebih mahal dari tiket kereta yang juga baru saja hangus itu. 5 menit, itu yang aku katakan berulang-ulang dalam hati. Ya Tuhan, kalau aku datang 5 menit lebih awal aku pasti sedang duduk di gerbong ber AC dan sampai rumah sejam kemudian, alih-alih kini aku harus menghabiskan 2 jam tambahan lagi. Aku lupa sejak kapan situasi trivial dengan mudahnya bisa merubah perasaan secara signifikan. Atau mungkin ini hanya satu hal asing lain yang berkembang di dalam benak semua orang saat pelan-pelan tumbuh dewasa.

Selama duduk berdesak-desakan di kendaraan meyedihkan itu aku berpikir lebih jauh lagi. Semuanya adalah pertanyaan serupa : 'mengapa dulu aku memutuskan itu', 'apa jadinya kalau aku melakukan atau tidak melakukan itu', 'mengapa aku tumbuh di sebuah kota kecil', dan seterusnya.

Di tengah-tengah miserable feeling (ya aku suka melebih-lebihkan) aku tetap menemukan perjalanan pulang menjadi pemicu paling baik dari munculnya pikiran, seperti bagaimana sukabumi yang menjadi tempat aku menghabiskan masa kecil membentuk apa yang aku tahu tentang diriku sekarang. Aku bisa saja tumbuh di tempat mana pun di dunia, tapi nampaknya kota kecil ini yg dipilih Tuhan. Kemudian benak ini, ruang jasmani yg aku tempati, resource yang aku punya sekarang, lingkaran kecil kehidupan di Jakarta, semua menjadi terasa asing saat aku duduk di kereta menyaksikan kota yang pelan-pelan ingin aku kenali lagi. 

Aku satu dua kali bertemu beberapa teman lama saat berjalan dari stasiun menuju rumah. Kami berpura-pura masih menyimpan keakraban, seolah 5, 10, 15 tahun bukan waktu yang lama untuk membuat orang menjadi merasa asing satu sama lain; bahwa orang yang saat itu bicara padaku telah menjalani semua bagian penting dalam hidupnya tanpa aku pernah terlibat sedikitpun.
Dan kurasa kami dilingkupi satu perasaan sama saat saling bergegas mengakhiri percakapan yang dibuat-buat untuk terasa hangat : kami seperti sekumpulan ikan salmon yang terbaru-buru mencapai hulu sungai, ingin kembali ke tempat asal. Teman-teman lama itu biasanya tidak pernah lagi aku temui, atau berusaha aku hubungi.

Peristiwa kecil semacam itu sering mengingatkanku bahwa barangkali kota ini telah seutuhnya menjadi 'orang' asing lain dalam hidupku, dan bahwa sepanjang hidupku nanti aku akan terus-menerus menjumpai hal-hal baru, orang-orang baru, tempat baru, yang semuanya pada satu titik akan  menjadi orang-orang asing lainnya.

***
Aku lupa pernah menulis catatan ini di handphone, dan kini terdorong untuk menyelesaikannya  lantaran waktuku terasa lebih longgar di tengah-tengah semua kejadian yang berlangsung.
Jakarta sudah sejak lama membatasi akses keluar masuk.
Kini tempatku menghabiskan masa kecil itu terasa sangat-sangat jauh.

Jakarta, 22 Maret 2020

Jakarta, 29 Februari 2020

Biasanya aku mulai merasa ingin menulis saat selesai membaca satu buku, setelah menonton film bagus, atau terserang insomnia, meskipun belakangan semua itu tidak bisa membuatku ingin menuliskan apapun.

Semua hal abstak yang aku pikirkan ini muncul beberapa waktu lalu. Lantaran pulang larut malam dan merasa kalaparan, aku berkeliaran dulu mencari makanan. Aku berjalan cukup jauh dari tempatku bekerja. Di jalan aku tidak berpkir apa-apa, tapi ingat melihat seorang gelandangan yang tidur dengan damai di jembatan penyeberangan. Jalanan becek, kupikir (satu-satunya yang aku pikirkan saat itu) hujan turun tidak berselang lama. Udara hangat dan kemeja flanel yang aku pakai mulai lengket dengan kulitku.

Aku sebetulnya hanya ingin mengatakan bahwa malam itu aku tidak bisa tidur. Tapi aku tidak bisa mengatakannya tanpa merasa perlu mengungkapkan dulu beberapa kejadian secara kronologis:

1. Aku telah lulus dari perguruan tinggi 2 tahun berselang, dan menjalani hidup dengan alakadarnya sebagai insinyur struktur. Aku bekerja penuh waktu, dan baru-baru ini keranjingan pulang malam.
2. Saat itu aku lagi-lagi dengan sengaja pulang larut malam, meskipun tidak ada deadline yang mesti aku selesaikan.
3. Satu hal membuatku sadar bahwa aku telah berlama-lama berada dalam permainan pikiranku sendiri, bahwa aku telah berbuat bodoh habis-habisan, dan barangkali aku telah mencapai titik balik.
4. Aku duduk diam di kursi begitu sampai di kamar, menaruh kantong plastik berisi makanan yang tidak jadi aku makan malam itu.

Dalam upaya keras untuk bisa tertidur (aku kesulitan 'mematikan' pikiranku) aku terus-menerus menyesali diri yang mulai kehilangan keinginan dalam melakukan banyak hal. Aku memutuskan berhenti dari kelas musik setelah menjalaninya selama 5 tahun, dan membatalkan niatku manjadi pangajar di salah satu sekolah; bebulan-bulan di Jakarta aku kesulitan menghabiskan satu buku pun; aku bekerja seperti robot tanpa menikmati apa yang aku lakukan, dan seterusnya dan seterusnya.

Entah bagaimana akhirnya aku tidur, dan tahu-tahu mendapati diri keesokan paginya berusaha kembali mengulang hari.

Aku terkesan pada daya tahanku menghadapi persoalan ini. Saat ini adalah satu penggal waktu yang aku tidak bisa mengukur, memprediksi, dan berharap bagaimana ujungnya akan berlangsung. Biasanya aku tidak pernah repot-repot selain sibuk berkutat meyakinkan diri bahwa di satu masa apa pun aku berada, aku hanya seperti orang yang duduk di dalam bus, menjumpai orang asing di bangku sebelah, kemudian berbincang sepanjang jalan, lantas berpisah di tujuan masing-masing.

Hidup rasanya mudah jika berlangsung seperti itu. Aku tahu pasti tujuanku, paham apa-apa yang aku ingingkan, dan tidak repot menebak arah mana yang mesti ditempuh atau dihindari. Hubungan dengan orang lain hanya seperti perbincangan hangat yang berlangsung singkat dalam bus, tidak lebih. Kini bahkan aku kerap merasa muak pada upaya-upaya kecil membesarkan hati seperti, "kamu masih muda, coba banyak hal! apapun yang terjadi hadapi saja", hal klise seperti "semua ada timing nya.."

Kurasa Tuhan mau memberi reward besar untuk sebuah kesabaran atau rasa syukur lantaran kedua hal itu sulit dijalani. Hanya saja, aku biasa menipu diri dengan mengatakan aku bersyukur, lihat saja, aku melakukan rutinitasku setiap hari dengan baik, tanpa sekali pun tergoda untuk mangkir.

Kupikir setidaknya itu penemuan penting yang aku peroleh dalam satu penggal waktu ini, bahwa sehebat apa pun aku berusaha bersyukur, rasa tidak tenang, tidak puas, frustasi karena kegagalan-kegagalan keinginan, selalu ambil bagian.
Barangkali seseorang mencapai kedewasaan ketika mampu memilah dan menentukan sebanyak apa porsi yang mau repot-repot dipikirkan. Dan seharusnya gejolak-gejolak semacam ini tidak ambil banyak tempat.

Jakarta, 29 Februari 2020

Flowers

Part 1
It was 15 years ago when I began to conduct a few experiments with trivial things I can easily found. I realized that ordinary yet mysterious stuff around me can be an object of a deep thought. I suppose that's how scientist, let say Newton and Einstein come up with many brilliant ideas.

There are two flowers among them, whose existence is being something I never noticed before, something I didn’t want to pay attention to.

I remember that day I was walking with friends, passed by the abandoned yard thronged with ‘wilding’ and bush. Wedged among those wild plants are some red flowers. Their appearance is obvious: Shaped attractively, yet their petals didn’t catch my attention. Not until one of my friends took one of those flowers harshly, and at that ordinary moment shown us a disgusting spectacle. He ripped out the lower part of it, a tiny green cover that reminds me with a cap, or scarf, but this one suppose to attach to the flower permanently. After mutilating the flower, he observed for a moment, look at something that shouldn’t be exposed to the universe, to the sunshine, to the lustful eyes.
I didn’t understand what would he did with that tiny red thing—the creature whose existence just stops at that moment.

“Look!” He said. Shown us what lays under the “green cap” he ripped out a moment before. That was a liquid. Small amount of clear colorless water. That was the first time I witnessed such a thing. Not until mid-school I clearly understand what the water is. Nectar: the holy water of life. The very essence of their existence. Of course they can count on wind or rainfall to spread their seed. But the fact they provide the ‘water’ in such a way is a proof that this is the matter of life and death for them.

Death is what those flowers would have faced that day. Naturally, bees or another ‘civilized’ creature who needs the nectar will go into the petal. Politely knock the door and entering the very private room of such vulnerable creatures. They are just like a delegate from foreign country entering emperor palace to bring friendship offering and diplomatic treaty. The great mutual symbiosis designed perfectly by God Almighty Himself.
But this ‘filthy’ creature, friend of mine, like European Bandit who called themselves ‘VOC’, literally took everything from the small red creature, including its life, for that crystal clear nectar. He sucked the flower at its lower part that covered by green cover a moment before, the part of pity creature that shouldn’t experience such a thing. After drying up all the nectar inside, he threw away the dying flower.

“That was sweet and delicious.” He cried.
What happened next is something I can’t bear to tell. For it was the greatest looting of life itself, the annihilation of all possibility for the creature to continue its existence by spreading their seed, vandalism to the natural balance.

And I, was not only seeing the incident, but also took a part in that pillage. We left that place after all the flowers ripped out from the tree. They lied died on the ground.


Part 2
It was a rainy day. I hate it because nothing I can do, but the tranquillity clinging in the air I was doing fine staying inside. I watched ‘Wall-E’ movie, laid I my bed with a warm blanket and a bowl of instant noodles. There was the scene when ‘Eva’ discovers the tiny green seed, the only plant survives in the earth. To watch that scene remind me of ‘the white flower’, that’s how I called her. I accidentally found ‘the white flower’ when I play football long ago when I was at elementary school. I forget the detail, but I thought I kicked the ball too hard it flew away and goes under the ditch.

The ditch not very big but little kid in my size can easily cramp to it. When I looked down, the ball was there covered by a layer of mud (not that kind of filthy and stink muds). The water inside the ditch was nearly as clear as water at the aquarium in my house. Even it looked more attractive with all those wild green aquatic flora. Dozens of tiny fish swam around, didn’t realized I watched over them through that crystal clear water. I took the ball. All the fish gone immediately as the water become chaotic. I was just about to leave that place when I saw a white flower attached to the ditch wall. She was alone at that ditch. The size was as big as my hand. Big enough to make her look prominent.

I remembered the “red flower” incident not long before, and I thought if inside those ordinary red flowers lays nectar, there must one that much more delicious lays inside this beautiful flower. I immediately took the flower, killed her without any hesitance, and voilà! I found them. Just like the red flower, all the nectar was hidden over there at the bottom of her body (Of course, I ripped out some “part” of her.).

I sucked it all and was very surprised with what I found. I cried a bit. Such an awful thing! The nectar is rather sweet and delicious, it tastes like a spicy sauce. The most terrible thing I ever taste. It reminds me of an acid at ants body, or perhaps it was similar to it. Perhaps she “eats” the flies, or any bug who dare to disturb her kingdom. She uses the liquid to digested her prey, kind of, perhaps, I am not sure.

After the incident, every time I saw her grow everywhere at a damp wall, surrounded by moss or fern at any kind, I saw something magnificent. She looks like a proud princess between her protectors.

One should not dare to mess with her.

The God of Small Things


Entering 2020 I got a lot of goals to be achieved. Among those goals are all of my articles, essay, journal, or whatever I have written, got translated into English. I found this is the easiest way to push myself drafting. I do give a fuck with grammatical or spelling, but I don’t want to strictly make it perfect.

#1. The God of Small Things, Sunday 20th October 2019

Traveling home to my parents' house at Sukabumi now becomes my new habit. As the distance is relatively close, compare to 2 years ago when I still living in Surabaya, I at least take a short 3 to 4 hours journey in every 3 weeks. It was 28th September 2019 when I took the last journey. At the point I sat down on the train 3 weeks ago, until I found myself inside the same train this morning, I saw the city change bit by bit – I was amazed by how my little city grow.

It takes more than a year after graduating from college until I realized that I was challenged. But by whom?

I shall face the truth, a pretty and enchanting reality that I am NOTHING, while In front of me are thousands of doors from which I shall start over. What I have to do is to decide which door I want to open. I did a lot of mistakes in the past of how I bring myself: I turned to another direction for no good reason and abruptly change my plan. Now every single hesitance, even a thought to start doing a new thing, can easily put me into dejected feeling. I face a big deal problem of how to be an adult, which I rarely given a fuck at before. I realize that a decisive change shall be taken, although I have a lack of resources to understand even the smallest thing, such as a simple rule of thumb of how I have to pay every single stupidity I’ve done.

When randomly took a book from my bookshelf this morning, I found The God of Small Things novel. It belongs to my sister. I don’t remember how it finally ends up there but I steal her books so often, then it makes any sense. The book that told the story about British colonial era in India reminds me of Pramoedya Ananta Toer works, but in another version with different cultural backgrounds. Nevertheless, I found a subtle similarity in how the cruelty is going on.

I’m not going to make a review of the book here. But, there is something slip into my mind just by reading its title and it feels like someone slaps my face.

How I can expect the big thing will happen, if I always ignoring all of little thing scattered around?
I heard about this very often, yet it never put me into this feeling before: to bring myself in such a manner that I never ignore all the little thing.  I never really understand that the trivial can bring the most important thing in my life, or even show me the turning point.

I can’t simply ignoring the daily small act such as praying in mosque, answer my mother’s chat in WhatsApp immediately, or push myself to attend monthly religious talk at my working place. 
I found that taking such things into account, in a serious way, is somehow similar with witnessing my little city growing.

Sering-sering pulang ke rumah membuatku memaafkan banyak hal, tapi hal itu berlaku juga sebaliknya

Aku pernah beberapa kali memutuskan untuk membenci satu dua hal. Mengingat masa kecilku di Sukabumi, saat sekolah dasar dan menengah aku membenci harus berjalan melewati sekumpulan orang yang selalu usil dalam berbagai situasi, dan saat duduk berkumpul bersama-sama, mereka dapat tempat khusus untuk menjadi mengesalkan sehingga tidak mau melewatkan semenit pun tanpa menganggu anak-anak lain. Dalam banyak kesempatan aku akan putar balik mencari jalan lain. Tapi sesekali aku turut bersama satu dua yang dikerjai habis-habisan.

Mengalami hal semacam itu saat kecil bagi banyak orang adalah persoalan serius lantaran menurut mereka, psikologi seorang anak seperti bubur encer, dan bagaimanpun ia kelak akan tumbuh dewasa, dengan atau tanpa menyadari psikologinya telah diganggu seperti bubur yang terlalu banyak diaduk-aduk. Aku merasa tidak setuju dengan pendapat ini, tetapi belakangan aku berpikir apa jadinya jika dulu aku tidak perlu selalu merasa khawatir saat berjalan sendiri.

Di usia setua ini, jika mengingat-ingat bagaimana aku bertemu tanpa sengaja dengan satu dua anak yang sering mengganggu saat kecil dulu, aku diliputi satu perasaan halus saat kami menaruh hormat satu sama lain. Saling melempar senyum dan menanyai kabar, membagi informasi sekarang sedang kerja di mana, berbasa-basi mengajak mampir ke rumah, dan seterusnya. Aku lupa pada kenyataan bahwa orang yang berada di hadapanku pernah aku benci habis-habisan.

Perasaan itu bisa berlaku kebalikannya dalam banyak situasi lain. Hal yang mirip aku rasakan di awal-awal masa SMA, aku bertemu sahabat dekat yang dalam tiga tahun tidak aku temui karena berbeda SMP, dan saat bertemu kembali kami merasa asing satu sama lain. Akhirnya SMA aku lalui tanpa punya satu kesempatan lagi untuk membentuk pertemanan yang pernah berlangsung tiga tahun lalu. Aku bisanya dengan iri memperhatikan bagaimana satu dua teman dekatku tumbuh sedemikian rupa tanpa aku terlibat sedikit pun di dalamnya.

Ada banyak hal akan berubah, tanpa aku bisa berpikir apa yang semestinya akan menjadi baik atau menjadi buruk dalam waktu yang terlewati itu. Tiga tahun lagi akan datang titik di mana aku menyimpulkan sesuatu yang mustahil kubayangkan sekarang, entah itu hal-hal yang berkaitan dengan orang-orang di sekitarku atau diriku sendiri. Kini aku masuk dalam kehidupan yang dulu kubayangkannya dengan sedemikian rupa, anehnya aku telah sama sekali lupa bagaimana aku pernah membayangkannya. Aku hanya merasa yakin kalau Ia (aku saat itu) akan begitu bernafsu untuk menghajarku habis-habisan jika tahu apa yang akan terjadi pada dirinya.

Aku ingat satu memoar dalam kumpulan esai yang ditulis Orwell. Di penghujung masa perang dunia II ia harus berjalan menemani Jurnalis anti perang yang sangat benci pada Jerman. Tidak ada yang aneh dengan itu karena tampaknya sebagian besar penduduk Eropa merasakan hal sama. Kebenciannya begitu jeneral, seolah apapun yang dilekati kata 'Jerman' adalah benda busuk. Persoalannya, ia belum pernah terlibat langsung dalam konflik sehingga apa yang ada di pikirannya betul-betul subjektif. Begitu kondisi telah sedikit 'aman',  ia mengambil kesempatan pertama untuk terjun ke lapangan dan dengan membawa serta kebenciannya ia berjalan masuk ke daerah konflik yang baru berakhir. Titik balik terjadi saat di tengah jalan ia melihat mayat tentara Jerman yang sangat memprihatinkan. Dalam sekejap rasa bencinya yang jeneral pada apapun tentang Jerman menguap habis. Apa yang terjadi setelahnya ada kebalikan dari semua hal yang dipikirkan dan diucapkan jurnalis itu. Ia menjadi begitu simpati dan tersentuh begitu menemui bagaimana orang-orang Jerman juga menjadi sengsara lantaran perang. Melihat kejadian itu, Orwell berkesimpulan bagaimana manusia sebetulnya membenci hanya pada situasi lemah atau takut. Melihat apa yang dibencinya kini tidak berdaya sama sekali membuat perasaan berputar balik.
Aku memikirkan hal itu baik-baik. Dan setelah sekian lama, saat aku akhirnya bisa sering-sering pulang ke rumah, kurasa apa yang Orwell katakan ada benarnya juga.

Hanya saja di satu sisi aku merasa kebingungan apakah perkataannya akurat lantaran aku telah melupakan banyak hal, atau kerena sesuatu telah tumbuh dalam diriku sehingga aku tidak lagi merasa 'lemah' terhadap satu hal yang begitu aku takuti dulu. Dan pikiran ini rupanya berlaku juga pada kondisi sebaliknya. Apa yang dulu begitu aku bayangkan akan terjadi dan berjalan dengan baik, kini adalah asal mula perasaan cemas terbesar dan ketakutan atas kehilangan waktu.

Delicate

Jakarta, Akhir Juli

Selalu ada cukup kata untuk mendefiniskan sesuatu. Aku menyadari bahwa ‘delicate’ tidak ada padanannya (atau aku belum menemukan saja). “Secara Halus”, paling-paling itu yang muncul di kamus. Satu kalimat bisa menggunakannya dengan ganjil seperti : The plumber working delicately. Awalnya aku mengartikan secara harfiah dengan “bekerja secara halus”. Tetapi informasi yang kuperoleh belakangan menunjukan bahwa belajar bahasa memang tidak segampang yang aku pikir. Hanya tukang pipa yang betul-betul mengerti cara memperbaiki wastafel bocor. Kira-kira itu maksud sesungguhnya.
Aku agak memahami kenapa ia diterjemahkan secara hafiah sebagai “cara yang halus”. Rasanya sulit menjelaskan bagaimana seseorang bisa melakukan satu hal lebih baik dari orang lain. Saat mencoba menjawab teka-teki itu, aku perlu berpikir seperti ini terlebih dahulu:

Aku kerap berada dalam situasi canggung saat masuk ke lingkungan baru yang sama sekali asing bagiku. Secara natural biasanya aku akan memencilkan diri di sudutku dan berusaha untuk tidak menonjolkan diri sedikit pun. Orang semacamku kelihatannya memang berbakat untuk memainkan peran itu. Dalam situasi itu aku dapat tempat istimewa khusus untuk bisa merasakan jati diriku sebaik mungkin. Kehidupan tengah bermaksud menjalankan rencananya tanpa mementingkan apakah aku terlibat atau tidak.

Kenyataannya aku membenci situasi itu habis-habisan. Dengan dungu aku sering melihat bagaimana wajahku terpantul di monitor komputer yang mati lantaran masuk ke mode sleep, lalu secara tergesa-gesa aku menekan satu tombol di keyboard agar pantulan wajahku segera lenyap. Dalam detik-detik terakhir itu aku biasanya berhasil menangkap sekilas wajah yang mengatakan: bagaimana aku akan membawa diriku andai masuk ke dalam lingkaran orang-orang? Satu pikiran segara mengusaiku dan mangatakan bahwa aku akan tetap berada di sudutku duduk dengan tenang, di lingkaran pergaulan apapun aku berada. Memahami maksud delicate dengan cara membandingkan dir terhadap lingkungan sekitar rupanya memberiku pengertian yang cukup memuaskan.

Bagaimana seseorang bisa mempraktikan tindakan-tindakan sederhana yang menimbulkan suasana hangat, inisiatif untuk membuka pembicaraan, menjadi cair dengan lawan bicara yang punya karakter berlainan, dan seterusnya dan seterusnya, adalah bentuk terjemahan yang bagus dari delicate. Memahami bahwa kemampuan yang teramat khusus itu akan sulit ditemui dalam diriku membuatku sadar bahwa satu pengertian yang mampu mewakili banyak keaadaan, terutama saat berkaitan dengan kondisi 'halus' yang susah diungkapkan, adalah penemuan yang teramat penting. Aku semacam memperoleh tongkat penggaruk untuk mencapai satu sudut di punggungku yang sulit dijangkau.
Dan tongkat itu membantu beroleh pengertian lebih baik tentang siapa orang di dalam ruang jasmani yang telah mengisi kehidupannya tanpa menjadi signifikan bagi apa pun ini.

Beberapa detail penting yang aku pikirkan dan ingin aku nikmati

Jakarta belum terasa mengesankan seperti Surabaya. Tapi cukup banyak detail kecil terjadi di tahun ini. Sebetulnya aku ingin menikmati kesan dari banyak detail yg berlangsung, tapi yang ada malah pikiran seperti ini : seharusnya kini aku sedang melesat dengan cepat di tengah-tengah usahaku ntuk mewujudkan berbagai hal yang telah kurencanakan dengan baik, kalau saja aku mulai memupuk sejak lama ambisi ke dalam diriku yang begitu enggan menerima yang paling sepele sekalipun. 

Kalaupun aku mendapati diri menjalani hari-hari sebagai pekerja yang tekun, bukan karena aku punya ambisi tinggi. Kenyataannya apa yang kulakukan kini ala kadarnya. Rasa-rasanya semua itu hanya lantaran aku tidak mau kelaparan! atau meminta ibuku mengirimi uang . Aku bekerja sekeras yang aku mampu hingga beroleh kepuasan kecil ketika satu tahap aku lalui, dan aku pulang berjalan kaki sambil berpikir apa yang akan aku kerjakan besok. Barangkali aku hanya menghabiskan waktu seperti anak kecil yang bosan di tengah film kartun dan mulai mencari makanan ringan.

Gagasan itu sempat aku kemukakan pada seorang teman dan seperti yang kuduga, ia berkata bahwa pikiran semacam itu cukup membahayakan. Ia menjelaskan pokok masalahnya sehingga aku paham bahwa gagasan itu agak ngeri untuk dijalani. Barangkali saja nanti aku akan dengan enteng berujar bahwa aku sibuk menjalani ibadah, Shalat, Puasa, hanya karena aku takut masuk neraka. Ia berkata lebih lanjut bahwa barangkali aku, pada satu titik akan mulai membenci kehidupan yang sendiri ini, hanya lantaran pikiran bahwa aku tidak mau menua seorang diri, tanpa ada seseorang di sampingku : kami menghabiskan waktu di dalam semacam rumah dengan perapian, dan seterusnya dan seterusnya.

Aku iri bagaimana kebanyakan orang dapat sepenuh hatinya menjalani banyak hal sambil memasukan ruh kedalamnya. Menjadikan persoalan yang ia geluti sebagai bagian tak terpisahkan dari jiwanya, dan perasaan yang dilibatkan dalam melakukan semua hal membuat ia jauh dari gagasan mengenai manusia separuh mesin.

Kubiarkan diriku puas dengan kesimpulan menyesakkan bahwa aku tidak lebih dari serangkaian komponen mesin yang tidak punya inisiatif, tapi takut diancam kelaparan, atau takut oleh kemarahan Tuhan, dan seterusnya.
Tulisan ini mengendap cukup lama dan aku tunda untuk menaruhnya di sini lantaran aku kesulitan menyusunnya. Ia begitu melelahkanku, dan aku kesulitan membuatnya menjadi bentuk yang rapih.

Pada intinya aku mau menceritakan beberapa nama yang setiap kali aku tanyakan pada seseorang, jarang yang pernah mendengarnya:
Kira-kira, di awal masa-masa kuliah, aku mulai tertarik dengan tulisan-tulisan Nietzsche. Awalnya aku mengetahui sedikit tentangnya dari buku Syahwat Keabadian yang aku "curi" dari kamar kakakku, Raudika. (Banyak bukunya yang aku curi, makanya aku merasa tidak enak dan tulisan ini bagaimanapun bisa aku buat lantaran buku curian itu. Karena rajin menulis, ia bisa dengan mudah di temui di sini : mazeass.wordpress.com) Aku kira itu bertahun lalu, tapi puisi-puisi Nietzche masih rajin aku baca sampai sekarang. Sama seperti semua orang yang berkomentar tentang Nietzche, aku pun berpikiran betapa malangnya orang ini.

Aku tertarik pada pria ini bukan secara positif, mengingat sisi keyakinan soal ketuhanan yang ia pegang, atau caranya menghujat, menyatakan Tuhan telah mati. Aku tertarik pada Nietzsche sebagai manusia yang jujur. Kudengar sebelum mati, akal sehatnya terganggu dan suatu hari orang-orang mendapatinya manangis memeluk kuda penarik gerobak yang sekarat. Barangkali ia berpikir tentang betapa beruntungnya kuda yang tersiksa dan hendak mati itu. Nietzche membuatku berpikir betapa sangat disayangkan bagaimana sesuatu yang cemerlang bisa berakhir demikian.

Tulisan lain yang begitu banyak mempengaruhiku adalah cerpen-cerpen dan novel-novel Kafka. Ia tidak bernasib lebih baik dari Nietzche. Karya brilian seperti novela "Metamorphosis" tentang seorang pria yang tiba-tiba berubah menjadi seekor kecoa, bisa saja lenyap dari sejarah dan tidak pernah dibaca siapa pun seperti hari ini, mengingat kondisi mental pada akhirnya membuat Kafka membakar sebagian karyanya. Nietzche dan Kafka selanjutnya menjadi sebab aku menghabiskan waktu dengan Samarago dan Dostoyefsky. Jika mengingat-ingat lagi bagaimana aku secara berulang-ulang membolak-balik Note from the Underground-nya Dostoyefksy  atau Things-nya samarago, kupikir kala itu aku telah sepakat dengan mereka tentang bagaimana diri ini hendak menempati dunia.

Berkaca melalui tulisan-tulisan mereka, aku diliputi rasa ngeri bagaimana kehidupan ini berlangsung. Dan semuanya membawaku pada kesimpulan bahwa diri ini tidak akan pernah bisa menjangkau semua hal teramat halus yang membanjiri sekitarku berisi satu hal yang absolut : kegelapan berisi absurditas. Aku kerap berjalan (bergerak di dalam gerbong, Bus, atau hanya berjalan) melaui banyak manusia dan bertanya betapa banyak wajah telah aku jumpai (dan kulupakan). Sebagain barangkali telah menghadapi kematian. Di satu sudut kota aku mendapati diri berada di lingkungan yang jika aku berjalan menjuhinya beberapa meter saja, maka aku mendapati keadaan yang bertolak dengan lingkungan itu. Sekelompok orang duduk dengan semangkuk Remen, sekelompok lagi berjingkat-jingkat di pinggir jalan raya penuh asap.
Kemudian berpuluh-puluh pertanyaan seperti ini muncul :
Dari mana kejahatan berasal?
Kenapa setan dibiarkan?
dan seterunsya..

Aku sebetulnya  ingin menyelesaikan tulisan ini sekali duduk, hanya barangkali akan sangat lama sampai ini berakhir. Tetapi satu hal membantuku mencapai kesimpulan yang memuaskanku, yaitu Tuhan telah berkehendak dan apa yang kupikir baik atau buruk adalah apa yang muncul semata-mata dari kemampuan akalku yang terbatas.

Upaya kecil meniru kreatifitas Tuhan

Banyak cerita yang terngiang-ngiang di benakku. Beberapa dengan siginifikan membuatku berpikir bahwa penulis-penulis itu dengan sengaja mengkritik bagaimana hidupku berlangsung. Aku ingat bagaimana "Inside Out" (Salah satu film animasi Pixar) mempersonifikasikan jalan pikiran manusia. Pikiran adalah dunia yang sistematis, organisasi yang berjalan seperti sebauh industri besar. Memori diceritakan sebagai prodak industri berupa bola-bola kaca yang samar-samar menggambarkan secuplik kejadian emosional. Bola-bola paling penting disimpan dalam rak-rak utama di ruang kontrol untuk bisa diakses dengan mudah. Sementara mayoritas bola adalah arsip-arsip yang berjumlah luar biasa banyaknya disusun pada rak-rak terlupakan, perpustakaan besar alam bawah sadar. Dari mayoritas bola-bola itu, sebagian yang paling tidak penting akan menjadi bola yang kosong sama sekali dan di buang ke semacam tempat sampah memori.

Aku tidak bermaksud mengulas film itu. Tetapi konsep comical tentang cara otak manusia bekerja menjelaskan bagaimana kini aku berhasil kembali mengigat dengat jelas (seperti melihat tembok tinggi yang berwarna mencolok) jalan hidup Osman dalam kisah "Yeni Hayat", bahasa turki untuk "The New Life". Aku habis membacanya nyaris lima tahun lalu, dan kehidupan baruku membuat cerita dalam buku itu terngiang-ngiang kembali. 

Novel itu adalah tulisan Orhan Pamuk yang pertama kali aku selesaikan. Ia kubaca dua kali lantaran saat itu cerita yang ada di dalamnnya berhasil membuatku mengesampingkan rasa tertekan akibat perkuliahan yang kurasa semakin berat. Osman yang menjadi tokoh "Aku" dalam buku itu adalah mahasiswa teknik sipil yang kehidupannya nyaris berantakan. Di satu segi cerita, perjalanan yang ia lalui di seantero Turki mengarahkan cerita pada kesimpulan bahwa kehidupan manusia adalah sebuah bangunan yang konstruksinya berlangsung tanpa henti. Proses itu bisa tersendat tiba-tiba, melesat cepat, terhenti sama sekali dalam jangka waktu sebentar hingga sangat lama, atau mengalami kerusakan dalam berbagai tingkatan sehingga person yang menderita hal itu mesti berbenah di sana-sini. Kadang kala goncangan besar yang menerpa disusul oleh satu pencerahan yang membuat bangunan itu tidak sama lagi. Atau keruntuhan terjadi secara masif dan bangunan tinggal puing-puing. Dalam kasus Osman, kurasa bangunan adalah apa yang seperti telah ada sebelumnya, hanya saja terjadi banyak rombakan di bagian dalam seolah seseorang dengan sengaja menukar semua furnitur dalam bangunan itu. 

Aku menyadari kebanyakan novel  adalah bentuk dramatisasi atau romantisasi dari kehidupan yang apa adanya. Tetapi semuanya adalah upaya pikiran manusia untuk meniru-niru kreatifitas Tuhan. Bagaimana Tuhan mengatur jalan hidup seseorang adalah misteri terbesar, tetapi barangkali perjalanan manusia boleh digambarkan seperti ini:

Manusia bergerak dalam satu arah tertentu dalam hidupnya, menemukan banyak hal, sebut saja "furniture" atau apapun, dan semakin lama potongan-potongan kecil menutup celah-celah seperti permainan Puzzle. Aku yang pada saat ini sedang berkutat dengan kehidupan baru yang sepi sebagai pekerja, merasa bahwa masa-masa sekolah adalah bagian terbaik dalam hidupku lantaran pada batas itulah jumlah "furniture" yang telah masuk dalam bangunan yang aku buat. Aku nyaris berusia 25 tahun, kini telah sama sekali lupa apa yang pernah dan telah aku pikirkan 10, 7 atau bahkan 3 tahun lalu. Kesimpulan-kesimpulan apa yang telah aku buat pada masa lampau adalah apa yang dijelaskan "Inside Out" sebagai bola-bola dalam ribuan rak-rak terlupakan. Di situ semua emosi, cinta, kebencian, atau apapun itu yang terkandung dalam bola-bola, mengendap tanpa bisa aku akses begitu saja. Jika semua furniture yang telah masuk dalam bangunan ini aku bagi menjadi satu kelompok hal yang indah-indah dan satu kelompok benda-benda yang jelek, itu semua semata-mata adalah apa yang aku kumpulkan dalam 24 tahun hidupku. 

Dalam "The new life", pada satu titik hidupnya Osman mendapati dirinya seolah berada pada pesawat yang mesti membung semua muatan, kemudian mengganti dengan muatan baru, akan tetapi pada akhirnya tetap membuat pesawat terlalu berat dan jatuh. Di bagian ini aku boleh merasa ngeri tentang bagaimana hidup bisa berjalan.

di satu segi, memikirkan kisah dalam Novel itu membuatku merasa bahwa kehidupan akan menyediakan banyak hal yang pada gilirannya akan membuatku lupa siapa diriku pada eksistensi puncaknya kini. Kehidupan sepi, perasaan rawan, atau kekhawatiran memikirkan masa yang akan datang, nantinya akan menjadi furnitur tua yang bergeser di satu sudut.
Tidak seperti biasanya, pada awal tahun 2019 ini aku enggan menulis sesuatu. Bahkan menulis  sesuatu yang tidak ada artinya untuk apapun (seperti biasa aku lakukan).

Persoalannya adalah aku tidak bisa menemukan hal lebih baik yang bisa aku lakukan untuk sekedar melewati kekosongan, kekosangan di antara waktu yang berjalan ketika aku begitu ingin melompatinya dengan tertidur tetapi sekeras apapun berusaha tetap saja tidak ada hasilnya.

Sekarang tidak ada yang lebih aku mau selain mengobrol dengan seseorang.

Berbicara memang paling mudah dengan seseorang. Pembicaraan tentang, ya, banyak hal. Sehingga barangkali aku bisa meminta susuatu untuk dijadikan pertimbangan dalam mengambil langkah. Minimal aku bisa mendengar 'ya' atau 'hmm'. Jika perlu kami bisa membahas tentang rencana-rencana atau jenis pembicaraan lain yang hanya dilakukan orang pada jam 2 pagi. Pada intinya setiap lawan bicara yang aku hadapi pasti akan memunculkan gagasannya masing-masing dan berbeda dengan orang lain.

Tapi tidak dengan ini.

Aku seolah-olah bicara pada seseorang yang kubentuk di dalam kepalaku sendiri. Seseorang yang tidak eksis, yang jika berkata sesuatu tidak pernah ujung nya. Pada akhirnya setiap hal harus aku selesaikan sendiri. Aku sekarang sadar kalau setiap ide, atau apapun yang aku tuliskan, kemudian aku jadikan semacam protokol untuk menjalani hari-hari, seringnya tidak bekerja dengan baik. Lantas, apa gunanya membesarkan hati dengan omong kosong yang muncul dari dalam diri ? agak berlebihan memang. Tapi rasanya aku kesulitan untuk bisa menemukan istilah yang lebih halus dari pada ini : rasanya, lambat laun aku telah kehilangan rasa percaya pada diriku sendiri.

(Ada kemungkinan besar aku spoiler)

Aku Ingin bercerita. Dalam salah satu usahanya memahami apa yang dirinya inginkan, tokoh ‘Aku’ dalam buku The Temple of the Golden Pavilion-nya Yukio Mishima berakhir pada keadaan yang penuh 'kekosongan’ di batinnya. Ia mulai kehabisan hal-hal yang menjaganya tetap memandang 'kuil kencana’ sebagai perwujudan dari puncak keindahan, dan saat menatap api mulai malahap puncak atap kuil yang indah itu, Ia tenggelam dalam kekosongan yang disertai aroma tembakau. Ia menghisap rokoknya pelan-pelan penuh kepuasan.

Paling tidak kalimat itulah satu-satunya yang berhasil aku tulis untuk menyimpulkan cerita dalam buku The Temple of the Golden Pavilion.

Yukio Mishima mati dalam keadaan pisau membelah perutnya. Kenyataan itu membuatku pernah berpikir bahwa penulis yang mampu melahirkan karya2 semacam The Old Man and the Sea atau The Temple of the Golden Pavilion, rasanya punya ciri-ciri sama dengan Mishima : mereka terlibat sangat dalam dengan tokoh karangannya.

Aku berpikir barangkali metafora berlebihan yang Mishima coba ungkapkan dalam tokoh yang menderita banyak kehilangan itu (dan berakhir pada kesimpulan bahwa sumber keindahan terbesar yang menjadi pusat hidupnya layak menjadi abu) adalah gambaran penuh dramatisir dari ujung kehidupan orang-orang yang sepanjang hidupnya resah, bahkan oleh pertanyaan sederhana sekalipun seperti 'kenapa aku hidup, mau kemana, dan untuk apa.’

Beberapa kali aku pernah terlibat (sebagai pendengar pasif) diskusi kecil-kecilan bersama beberapa senior di kampus (kebanyakan dari mereka aktif di masjid atau berkiprah sebagai pentolan BEM). Aku nyaris selalu mendengar pertanyaan paling mendasar tersebut dilontarkan. Kebanyakan punya pandangan yang begitu gamblang : mempersiapkan kehidupan setelah mati. Beberapa yang lain berputar-putar pada logika yang sesekali diselingi istilah seperti eksistensialis, dialektika, atau semacamnya yang kurasa belum lama ini mereka dengar.

…..

Aku ingin menulis lebih jauh lagi. Tetapi rasanya pendapatku nanti hanya akan berakhir seperti ini : manusia akan bertanya soal hakikat hidupnya, soal bagaimana hal-hal terjadi dan meninggalkannya, bagaimana di dunia ini keindahan banyak diciptakan sementara ia tidak kebagian jatah.

Dan jawaban 'mempersiapkan kehidupan setelah mati’ adalah kesimpulan terbaik yang bisa aku pikirkan.

Pecahan-pecahan tidak berguna

Setelah melewati hampir 2 minggu  hingga bulan Februari berakhir, hari ini aku kembali mengikuti kelas pagi. Selama 2 minggu ke belakang aku menjalani aktivitasku yang penghabisan sebagai sukarelawan di satu kegiatan (satu-satunya yang aku sukai dari kehidupan kampus). Begitu kegiatan itu selesai dan aku memulai kembali kehidupan yang biasa-bisa ini, rasanya aku telah tertinggal 1 semester saat mendengarkan ceramah dosen tentang mekanisme tegangan yang berlaku di dalam beton prategang. Aku tidak pernah berminat membahas bidang keilmuan yang telah bertahun2 ini aku dalami, tetapi mendapati diriku seperti anak sekolah dasar yang tersesat di ruang kelas kedokteran membuatku merasa malu. Masih tersisa satu minggu untuk men-drop subjek ini. Aku berpikir panjang selama duduk, dan berkesimpulan bahwa aku masih sangat rasional jika mengambil opsi tersebut. Aku sebetulnya agak menyesal karena kehilangan banyak waktu padahal kuliahku yang tersisa tinggal 1 semester ini. Jika mengambil semua kelas pilihan yang aku mau, yang dulu tidak aku ambil lantaran malas, aku harus berada di kampus sepanjang hari, dari senin sampai rabu, seperti mahasiswa tingkat 1.

Sepanjang pagi ini aku terus menerus memikirkan bagaimana sebuah minat pada akhirnya mulai tumbuh dalam diriku, bahwa bidang keilmuwan yang aku geluti bertahun-tahun ini mesti menjadi jalan aku beroleh penghidupan. Jika mengingat beberapa tahun kebelakang, di awal masa kuliah pekerjaan yang kulakukan kebanyakan adalah menyesal habis-habisan karena memilih bidang ini.  Sekarang aku idak mengira bisa menyesal habis-habisan karena telah melewati banyak perkuliahan dengan ogah-ogahan.

Aku ingat percakapanku dengan Ilalang Dzahira, sepupuku yang sekarang baru  masuk kuliah, tentang kehidupan kami masing-masing yang tengah berjalan menuju kedewasaan secara peculiar (aku suka memakai isitilah ini). Rasa-rasanya baru kemarin kami membahas game PC dengan keranjingan, lupa bahwa spesifikasi laptop yang kami berdua miliki jauh dari memadai untuk menjalankan game2 yang kami bicarakan. Itu bertahun-tahun lalu, aku berkunjung di bulan puasa dan dalam liburan yang membosankan itu aku sedang mencoba membunuh waktu. Waktuku memang benar-benar habis berbicara dengan sepupuku itu, walau aku kebanyakan hanya bilang 'Ya' saja selama ber jam-jam.

Ia baru-baru ini mempelajari seni melinting rokok kretek. Aku memperhatikan. Dalam hitungan detik rokok telah jadi. Aku tidak tahu ia merokok. Tetapi aku senang karena ia minta izin dulu sebelum menghanguskan karya seninya. Kalau tidak suka asap bilang saja, katanya. Aku bilang tidak masalah.
Kemudian kami ngobrol sambil makan mie instan.

Ia bercerita kehidupannya di jurusan sastra. Kukatakan puisi-puisinya yang dibagikan di Line sangat bagus dan aku berpikir untuk mengumpulkannya menjadi kompilasi. Kehidupan sebagai seniman rupanya enak dijalani. Tetapi aku terlanjur berkutat dengan ilmu mekanika tegangan. Jadi, lagi-lagi dalam kesempatan itu aku paling banyak jadi pendengar (sebetulnya di banyak jenis pembicaraan aku memang seperti itu). Untungnya Lalang pembicara yang bartangan dingin, atau bermulut dingin, ya, apapun istilahnya, yang penting Ia sangat puas jika mendominasi percakapan, dan aku cukup senang karena tidak harus merasa bersalah lantaran khawatir orang mengira aku terlalu membosankan setengah mati.

Aku mengatakan minatku pada teknik kini sedang berada di titik yang cukup tinggi. Dan aku sudah memutuskan untuk berdedikasi penuh pada bidang yang aku (terlanjur) dalami ini. Jika mengingat beberapa tahun kebelakang, saat aku sedang jenuh-jenuhnya kuliah dan menghabiskan waktu dengan Trilogi J.R.R Tolkien atau Crime and Punishment-nya Dostoyefsky, alih-alih membaca karya Braja M.Das tentang konsolidasi tanah, aku dirundung perasaan penuh sesal karena telah mengabaikan banyak pengetahuan yang sekarang aku dapati sangat menarik.

"Ilmu teknik sebetulnya buah pikiran filosofis." Kadang-kadang ia terasa sederhana seperti seni meilinting rokok yang menyenangkan.


------

Perhatianku kembali pada dosen yang tengah bercerita (aku ketinggalan separuh cerita karena melamun. Kupikir ia dosen terbaik yang aku jumpai dalam dua tahun ini. Ia sejenis pengajar yang sering membuatku tersenyum sendiri saat mendengar kuliah. Aku agak menyesal kenapa pengajar-pengajar bermulut dingin (bertangan besi? atau apalah istilahnya) baru muncul di saat-saat terakhir. Jika dipikirkan lagi, apa yang aku pelajari saat ini kurang lebih sama dengan ilmu filsafat. Ini pendapatku saja.

Banyak persoalan terjadi dan manusia secara "lucu" berhasil memperoleh pijakan darinya, paling tidak kini sudah mencapai planet paling jauh. Aku tidak heran kalau filosof yunani juga bekerja paruh waktu sebagai Arsitek, Astronom, atau Penasihat Jendral. 

Kini aku lupa telah berapa banyak memasuki berupa-rupa kelas, tapi hanya lewat saja sehingga yang tersisa sekarang hanya pecahan-pecahan tidak bermakna.

Lobster

Sudah lama aku ingin menulis tentang film berjudul ‘Lobster’. Aku tidak pernah mengulas film atau buku (saat ini pun aku tidak bermaksud membuat sebuah ulasan). Kritik terhadap karya seni adalah pekerjaan yang berat menurutku, dan ketika berhadapan dengan karya besar seorang kritikus sering kali mempertaruhkan reputasinya. Ketika aku berpikir untuk mulai mencatat semua cerita ganjil yang mengispirasiku begitu hebat, seperti cerita ‘Lobster’ ini, nama-Jose Samargo adalah sebuah titik tolak yang tepat kalau-kalau aku hendak mengingat-ingat dari mana ini bisa muncul.

Jika ingin pergi lebih jauh lagi, Samarago juga nama yang bertanggung jawab atas dimulainya keinginanku untuk mengerahkan energi menulis sebesar-besarnya pada genre yang akhirnya membawa Ia (Samarago)  memperoleh penghargaan nobel sastra.

Aku ingin langsung menuju point yang ingin kutulis, dan karena ini bukan ulasan, aku paling-paling hanya akan mengambil satu atau dua potong cerita yang paling banyak ‘menggangguku’.

Pertama, kenyataan yang sudah pasti bahwa setiap orang akan berubah (diubah kata yang lebih tepat) menjadi hewan jika sampai batas waktu yang ditetapkan tidak juga mendapatkan pasangan hidup. karena aku laki-laki maka kalau di tempat-tempat umum aku kedapatan berjalan-jalan sendirian tanpa pasangan (wanita) dalam konteks formal (istri), aku akan “dirazia”. Jika dikonfirmasi lajang, aku akan dikarantina dari kehidupan umum hingga tidak lagi lajang. Dalam akhir masa karantina, aku akan menghadapi dua pilihan yang pasti : kembali ke kehidupan umum bersama pasangan baru atau diubah menjadi hewan.

Kedua, kenyataan bahwa aku bisa memilih opsi lain, yaitu bergabung dengan kelompok ‘lajang’ dalam konteks yang juga formal dan sah secara hukum, tetapi harus hidup terkucil di hutan. Kelompok ini, yang bertahan hidup di alam liar secara sangat efektif, mesti patuh pada sumpah berdarah untuk lajang seumur hidup. Jatuh cinta berarti pengkhianatan. Pengkhianat pada semua kebudayaan di muka bumi adalah kejahatan yang hanya bisa dibayar dengan eksekusi.

Aku sedikit melamun setelah menonton. Sebabnya, saat mengunduh film ini secara ilegal, aku baru masuk usia ke 22. Tidak ada tanda-tanda aku akan segera mendapatkan pasangan hidup dalam waktu dekat. Kehidupan di Surabaya yang sepertinya akan selesai tidak lama lagi belum menunjukan jalan ke arah itu. Opsi ke dua adalah pilihan paling menjanjikan yang aku punya (aku tidak mau jadi hewan). Sampai titik waktu aku memikirkan hal itu, belum banyak gebrakan dalam hidup yang aku lakukan. Niatku yang menggebu belakangan ini untuk segera mendapat sertifikat gitar klasik, mendaftarkan diri menjadi pengajar, dan beroleh banyak murid di Surabaya harus batal; Disamping aku terlalu sering menunda melakukan rencana-rencana yang sudah aku tulis sendiri.

(Beberapa gambar berikut menjadi pertimbangan penting sebelum kau memutuskan ingin menjadi hewan apa..)







Tetapi aku segera ingat pesimistis adalah salah satu prasangka paling buruk yang bisa dimilki seorang  manusia. Kuputuskan bahwa opsi ke dua, mengucil di hutan bersama kelompok yang dibuang, sama sekali tidak lebih baik dari pada mengambil resiko menjadi hewan.

——————————————————————-

Dan beginilah akhirnya setelah lewat berbulan-bulan, aku hanya bisa mulai lagi dengan satu tulisan tidak penting sama sekali.


Demian





















Kurang lebih tiga tahun lalu aku meminjam sebuah buku lama karangan Herman Hesse (sebetulnya aku mengambilnya diam-diam dari rak buku kakak-ku di Bandung). Aku tidak bisa menolak daya tarik dari kertas-kertas usang berwarna kekuning-kuningan yang begitu kubuka menyebarkan bau khas yang mencirikan ia telah 'sangat tua'.'

Yang membuatku heran adalah buku tipis itu, yang hanya terdiri dari sedikit halaman (relatif terhadap buku klasik kebanyakan) baru saja selesai aku baca setelah ia mengendap cukup lama di dalam tasku (ia sangat kecil sampai aku lupa telah menyimpannya di dalam situ) Sebabnya, bukan karena aku malas atau tidak menyukai jalan cerita dalam buku itu. Tetapi barangkali aku merasa takut karena setiap kali membaca satu bagian, aku menemukan hal yang sungguh-sungguh tidak pernah aku pikikan sebelumnya. Setiap kali mendapat tambahan cara berpikir baru yang absurd, mengerikan, sekaligus begitu logis dan rasional, satu bagian dalam kehidupan di sekitarku terungkap, seperti saat aku mengangkat sebuah kain keset yang tidak diganggu bertahun-tahun, lalu kudapati dibawahnya berkumpul kecoak-kecoak.

Cerita itu berpusat pada anak kecil yang mengalami perkembangan spiritual secara ganjil. Di awal-awal bab aku langsung mendapati satu kejadian yang menjadi titik awal dari jalannya seluruh novel itu. Rasa ngeriku dimulai saat tokoh aku, menceritakan betapa hidupnya berada ditengah dua dunia yang teramat kontras. Ia merasakan dua realita itu silih berganti. Pada intinya aku ngeri membayangkan tokoh utama yang terlempar dari kehidupan masa kecil religius ke dalam kegelapan yang dihasilkan oleh pikirannya sendiri.

Pada akhirnya, tokoh 'aku' secara bertahap kehilangan satu per satu hal penting dalam dirinya : cinta, kasih sayang orang tua, ketentraman.  Jika menceritakan semuanya disini, aku khawatir akan menjadi kurang ajar karena karena hal yang terlalu bagus seharusnya dirasakan secara detail.

Buku itu membawaku pada cara membaca yang baru. Saat melewati satu bagian yang memicu pikiranku untuk melamun, aku segera melipat halaman penting itu (sampai ada banyak sekali lipatan), lalu mengulangnya lagi berkali-kali. Hal tersebut aku praktikan pada beberapa buku lain yang aku sukai.

Berkat itu aku membuat banyak penemuan penting, sehingga rasa-rasanya perjalan menyelesaikan satu buku dan berpindah ke buku lain menjadi semacam "telur waktu" yang membuatku melewati berbulan-bulan dengan cara yang halus (In delicate way). Tanpa sadar aku merasakan bahwa tiap-tiap cerita rupanya memiliki keterkaitan dan pola yang mirip. Dan fakta bahwa para penulis sebetulnya selalu merujuk pada penulis-penulis lain yang lebih senior, membuat banyak hal menjadi masuk akal. Aku teringat teori Biologi tentang pohon evolusi, dimana satu spesies akan berkembang menjadi banyak spesies yang dalam beberapa segi serupa.

Kurasa ini akhirnya menjadi penjelasan paling logis mengapa seseorang tidak akan puas ketika selesai membaca 1 buku.
Menyelesaikan satu buku adalah smenyingkap sebuah batu, dibawahnya akan terbaring banyak hal : kecoak, semut, tanah, dan seterusnya.

Chekov

Lama aku tidak menulis jurnal. Rasanya tanganku menjadi tumpul dan kalimat-kalimat yang berhasil aku buat membuatku berpikir barangkali mereka sebaiknya tidak pernah aku tulis. Aku memaksakan diriku untuk tetap membuat tulisan-tulisan kecil meski hasilnya hanya beberapa paragraf saja dalam jangka waktu sangat lama minatku pada menulis sastra nyaris habis.  Karena tidak pernah sungguh-sungguh memahami apa sebetulnya yang mendorongku untuk menulis, aku tidak merasa heran saat minatku pada hal tersebut merosot begitu rendah.

Barangkali hal ini terjadi sejak aku mulai membenci kehidupanku dua atau tiga tahun lalu yang berpusat pada kegiatan mendalami karya sastra secara berlebihan tetapi serampangan dan tanpa arah.  Aku ingat bagaimana buku-buku aku pilih. Sebagian besar yang aku ambil harus mempunyai ciri khas seperti tulisan Dostoyefsky atau Chekov.  Aku tidak tahan dengan buku yang tokoh di dalamnya hidup bahagia, berkepribadian optimis dan penuh semangat, pahlawan bagi orang-orang. Tetapi aku mampu menghabiskan paling tidak dua kali mengulang karya-karya Orhan Pamuk, Haruki Murakami, atau Yukio Mishima.

Melihat kembali banyak hal dalam tiga atau empat tahun ke belakang membuatku diliputi semacam perasaan kebas yang akan muncul ketika aku berlama-lama menatap ke dalam sumur. Aku pernah melakukannya sekali dan melihat pantulan wajahku yang kecil di air rasanya seperti melihat wajah orang yang tidak benyawa.

Kurasa tiga tahun lalu, atau lebih, aku mulai keranjingan dengan karya Chekov. Banyak kalimat-kalimat yang aku buat adalah bangunan yang kebanykan bagiannya merupakan gabungan diksi-diksi yang aku ekstrak dari berbagai buah pikiran Chekov. Begitu menjelajah lebih jauh dalam alam pikiran kesusastraan rusia, kudapati sumbangsih banyak penulis mengisi bagian-bagian yang teramat halus dalam tulisanku. Tetapi apa yang berhasil aku buat tidak lebih dari serentetan cerita yang menurut banyak orang begitu kering seperti seember pasir.

Aku terkadang menganggap betapa konyolnya satu cerita pendek yang telah aku selesaikan. Setelah beberapa kali membacanya aku merasa malu kalau-kalau Chekov sendiri yang membacanya. Banyak tulisan yang kubiarkan mengendap tanpa aku teruskan. Menciptakan satu atau dua cerita kini menjadi hal paling sulit bagiku. Satu-satunya hal baik tersisa adalah menyimpan ide-ide di secarik kertas agar tidak hilang dari pikiranku. Aku tinggal membuka catatan itu kalau-kalau merasa perlu menulis lagi.





2016 – November 11

12:09

Hari sabtu ini aku habiskan di kamar asrama. Paling tidak sampai nanti sore saat aku mesti menghadiri sebuah diskusi kecil mingguan. Setiap Sabtu biasanya aku pergi ke perpustakaan universitas. Berkeliaran di antara rak berisi buku-buku yang sebetulnya tidak begitu menarik minatku. Aku merasa heran karena selama lebih tiga bulan ini, sejak bulan Agustus lalu,tidak satu pun buku habis aku baca. Setiap minggunya aku menambah judul buku baru untuk dibaca, seperti kebiasaanku, tetapi aku selalu berakhir pada bagian tengah tulisan yang belum menyimpulkan apapun. Pada saat-saat ini keinginan untuk menyerap bacaan sedang berada di titik yang paling rendah kurasa. 

Aku mengupayakan banyak hal untuk mencari tahu apa yang sebetulnya aku inginkan. Upaya itu membawaku cukup jauh, hingga dengan mendadak aku menarik diri dari kehidupan menyepiku—yang begitu tentram dan indah—untuk memasuki hidup yang lebih ramai dan penuh oleh orang-orang. Berkat itu, aku telah menghabiskan satu minggu tinggal di asrama mahasiswa yang keadaannya serba bertolak belakang dari kehidupanku semula, yang telah aku jalani selama empat tahun sejak aku mulai merantau dari rumah orang tuaku.

Aku tidak bisa menolak kenyataan bahwa aku menipu habis-habisan diriku dengan mencoba menikmati masa-masa ini, meski pun aku juga tidak membencinya sama sekali. Tetapi kupikir perasaan netral ini yang membuatku jengah. Aku ngeri membayangkan kemampuanku dalam merasa, mengindra emosi manusia, bahkan yang tertanam pada diriku sendiri telah kebas. Yang melegakan adalah pikiran itu rupanya sama sekali tidak beralasan dan semata-mata dampak dari paranoidku.

Di asrama ini aku hidup dengan 30 mahasiswa yang semuanya punya kultur serupa. Aku segera mencium nuansa pesantren begitu memasukinya pertama kali. Anak-anak muda ini, yang keras pada diri sendiri untuk menyerap kitab-kitab berbahasa arab, memiliki sikap disiplin khas hasil bentukan pendidikan ala pesantren. Aku menciut saat seorang supervisor memanggilku untuk menunjukan padanya berapa banyak ayat-ayat Al-Qur’an yang telah aku hapal. Sejak itu aku menyadari mesti mengejar banyak sekali ketinggalan.


Aku membuat daftar hal-hal yang mesti dilakukan dalam dua tahun. Begitu menatapknya, aku diliputi perasaan netral yang lagi-lagi membuatku ngeri. Tidak ada rasa khawatir atau penyesalan tertentu saat mendapati banyak hal yang terlewat. Barangkali aku telah tersesat dalam kegelapan yang tidak mengandung apa-apa, bahkan keinginan sederhana untuk memicu kembali ambisi yang belakangan aku rasa telah pergi meninggalkanku.

Penghiburan terbaikku saat ini adalah tenggelam dalam dua buku yang telah selesai aku habiskan betahun lalu, The Stranger-nya Albert Camus dan Kuil Kencana-nya Yukio Mishima. Membaca beberapa bagian yang paling aku sukai dari kedua buku itu membuatku memperoleh perasaan mengharukan bahwa keindahan sebetulnya dapat ditemukan disela-sela hari yang usang.