Berita pemilihan menteri menjadi sorotan publik. Tampaknya masyarakat yang semakin melek politik masing-masing boleh memiliki pendapat terhadap hal itu. Pemberitaan yang terkesan sangat digembor-gemborkan memicu banyak tanggapan, terutama di jejaring sosial yang rasanya pada dekade ini merupakan media paling sukses dalam membuat viral suatu pemberitaan. Saya termasuk orang yang mendapat informasi sebagian besar melalui media online. Hal itu secara langsung membuat saya ‘kemasukan’ semua jenis opini.
Selanjutnya, karena tidak ingin repot-repot menyaring semua pendapat yang ada, saya merasa perlu untuk mengkaji sendiri berita ini. Walaupun saya sepenuhnya sadar apa yang muncul belakangan dalam pikiran saya mungkin tidak lebih dari sekadar ‘cukup tahu’. Tapi pada gilirannya, terdorong oleh desakan bahwa tidak cukup bagi kita hanya menerima mentah-mentah begitu saja kebijakan yang dibuat pemerintah, saya merasa harus bersuara, dan opini yang tidak berarti apa-apa ini seharusnya sesuai dengan salah satu dari beberapa kelompok pendapat yang muncul.
Pada mulanya saya membuat sebuah pertanyaan untuk saya jawab sendiri. Yaitu, sejauh mana selama ini saya mengikuti jalannya pemerintahan dan secara sungguh-sungguh berniat untuk memahami sistem kerja yang sedang berlangsung tersebut? Satu jawaban singkat segera muncul dalam pikiran saya, dan itu bukan merupakan jawaban dari pertanyaan barusan, melainkan satu pertanyaan balik yang teramat menganggu dan sejujurnya membuat saya sendiri merasa malu : mengapa saya mendadak peduli pada masalah ini, di saat publik membicarakannya ramai-ramai?
Akhirnya saya menyadari penilaian saya barangkali hanyalah selentingan pikiran temporer semata, yang muncul karena terbawa oleh arus deras pemberitaan. Kadang kala saya bertanya apakah sebagian besar orang sungguh-sungguh paham dengan suara mereka sendiri. Saya tidak berniat mengatakan bahwa opini seharusnya muncul dari hasil pemikiran serius yang didasari oleh proses belajar disipilin melalui membaca atau diskusi rutin, karena seharusnya tidak perlu susah-susah bagi kita untuk menilai apa yang berlangsung dengan begitu jelas dan gamblang di depan mata.
Berita ini mungkin sama mudahnya untuk dimengerti sebagaimana berita terorisme yang berulang-ulang mendera Perancis, atau berita mencengangkan dari Turki yang pernah menderita pemberontakan serius lewat beberapa tahun kebelalang. Kita bahkan tidak akan kesulitan mencari berbagai fakta karena semua media cetak atau online saling berkompetisi membeberkannya.
Memahami apa yang terjadi tidak sulit semestinya. Tetapi ada dua persoalan yang saya rasa perlu kita semua jawab. Pertama, apakah pertanyaan yang selanjutnya akan muncul di benak semua orang? (dengan anggapan semua orang tidak begitu saja melupakan berita ini seperti melupakan berita-berita gosip).
Adakah jaminan dengan mengganti mentri kinerja pemerintah (maksudku orang yang sama, Jokowi) akan jauh meningkat? Barangkali pertanyaan itu yang sering muncul. Dalam pikiran paling praktis saya menganggap bahwa apa yang dilakukan Jokowi mungkin adalah tindakan buang-buang waktu. Secara mudah, bayangkan saja sebuah mobil yang harus mengebut agar mencapai tujuan tepat waktu, sementara kita adalah penumpangnya dan apapun yang terjadi bergantung pada bagaimana supir menyetir. Di tengah jalan, pada saat mobil sedang melaju dengan kecepatannya yang paling optimal, mendadak kita diharuskan berhenti guna mengganti sopir (kita bahkan tidak begitu paham kenapanya). Saat hal ini terjadi sebetulnya kita baru saja kehilangan waktu. Tapi sekarang kita belum harus khawatir. Kita baru boleh cemas saat mengetahui bahwa tidak hanya sopir yang diganti, melainkan lengkap dengan kendaraannya (yang kita tidak tahu seperti apa bentuknya). Bagaimana kita tahu sopir baru itu akan paham kondisi jalanan melebihi sopir lama kita yang telah berpengalaman di jalan ini selama satu atau dua tahun? Mungkin sopir baru hanya sebatas melanjutkan kerja sopir lama dengan gaya yang berbeda. Kita boleh merasa khawatir jika ia akan bekerja lebih buruk, bahkan mungkin ia mampu mengebut jauh lebih mahir. Tetapi kita seharusnya tidak mengabaikan kemungkinan supir baru ini alih-alih mengebut, malah sibuk sendiri meraba-raba kondisi jalan, terlebih lagi jika mobil baru nya tidak seefektif mobil lama. Selanjutnya, anggaplah tenggat waktu yang diberikan untuk kita berkendara telah habis, dan anggaplah kebanyakan dari kita tidak begitu tahu percis kemana tujuan mobil ini (yang paling kita sadari hanyalah tahu-tahu mobil telah sampai di suatu tempat). Apa yang akan kita katakan pada supir kita yang baik hati, yang telah membawah kita sejauh ini?
Sekarang memang bukan waktunya kita memikirkan hal itu. Hanya saja, apapapun yang terjadi, kita yang kemarin-kemarin repot-repot beropini (bahkan bersitegang), berkewajiban terus memantau kerja orang-orang baru ini. Apalah pentingnya semua opini yang kita suarakan kalau pada akhirnya, setelah masa pemerintahan ini selesai, kita sama sekali kebingan pada satu pertanyaan yang paling sedehana sekalipun : mana yang lebih ngebut? Supir lama kita atau supir baru? (pertanyaan sejenis ini sering muncul pada saat jabatan satu presiden selesai).
Kedua. Persoalan ini muncul seketika di benak saya begitu berita ini menjadi viral, dan untuk menjabarkannya hanya perlu satu kata.
Mengapa?
Dengan iseng saya membuka browser di ponsel dan mengetik berbagai kata kunci. Terlibat kasus, ingin jadi capres, tetap jadi ketua parpol, dan lain sebagainya, membanjiri artikel-artikel yang saya buka. Yang saya sayangkan adalah ketidakvalidan alasan-alasan yang dikabarkan sebagai sebab beberapa menteri di copot dan diganti oleh Jokowi. Sejauh ini saya harus menyadari begitu lemahnya saya dalam memahami persoalan. Dalam pikiran yang paling naif saya merasa ada perlunya Jokowi mengumumkan alasan-alasan ia memilih atau mengganti beberapa menteri. Menteri (1) Pernah terlibat kasus A, menteri (2) Sangat penurut dan loyal, (3)Ingin jadi wapres lagi, dan sebagainya. Barangkali seperti itu.
Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan
Dalam catatan pinggir majalah Tempo edisi 6 November 2016,
Goenawan Mohammad mangatakan bahwa di Negeri ini, ada orang-orang yang tampil
di atas podium, ada yang berjubel tampak-tak tampak. Sebenarnya yang
tampak-dan-tak-tampak itulah yang membuat sejarah.
“Indonesia” berasal dari bawah.
Sepotong kalimat diatas adalah pembuka yang ditulis Goenawan
Muhammad dalam catatan pinggir majalah Tempo edisi 6 November 2016. “Bawah” dimaknai sebagai mayoritas. Seperti
sebuah piramida, “bawah” merupakan bagain terbesar dan terkokoh; sebuah kelas
dengan jumlah paling banyak menyimpan potensi. Sudah sejak beberapa abad lalu, kelas bawah
ini, yang direpresentasikan oleh kaum
buruh dan petani, menjadi sumber lahirnya banyak peristiwa penting.
Mundur lebih jauh lagi, melalui sejarah kita akan paham bahwa
apa yang kita nikmati kini buah dari kalangan
“bawah”. Perjuangan kelas tani, pedagang (yang pertama-tama berhimpun),
pelajar, adalah perjuangan kelas bawah. Belakangan kaum pelajar behimpun dan lihat bagaimana signifikan dampaknya.
Meskipun terutama hanya karena dorongan media sosial, aku jadi mau ikut-ikutan melihat peristiwa beberapa waktu lalu, dan diliputi rasa
haru bagaimana pemerintah kita dibuat tampak kecil oleh teriakan ‘anak-anak’. Semasa
kuliah aku jarang terlibat aktivitas politik. Faktanya aku memang bukan tipe
itu. Tetapi dari banyak diskusi (aku sering terlibat sebagai pendengar), aku
sadar bahwa apa yang berlangsung sekarang adalah permasalahan milik orang-orang
seusiaku yang dulu berkoar di ere reformasi.
Selentingan pikiran mengatakan apakah teriakan-teriakan itu
akan menggema? Apa yang akan terjadi begitu di masa mendatang generasi kita lah
yang ‘diteriaki’ anak-anak kita.
Soe Hok Gie pernah mengkritik teman-teman sejawatnya yang
setelah perjuangan melawan orde lama usai, duduk enak-enakan di lingkaran
penguasa baru (tampak lupa pada apa yang diperjuangkan dulu). Aku setuju
dengannya bahwa perjuangan kita pada dasarnya hanya akan melahirkan satu
golongan penguasa baru yang bukan 'kita'. Seperti revolusi komunis
rusia yang bermaksud menghapus kelas dalam masyarakat, justru malah memunculkan
kelas baru yaitu golongan partai yang absolut.
Aku sebetulnya hijau pada persoalan ini, tetapi membaca
harian kompas tadi pagi, aku agaknya paham bahwa pemerintahan baru Jokowi
mendatang adalah satu bentuk kemenangan golongan. Bagaimana parlemen kini dipimpin:
ketua DPR Puan Maharani, ketua DPD La Nyala, dan ketua MPR Bambang Susetyo,
memberi petunjuk bagaimana Jokowi nanti akan menyusun kabinet.
Bagi-bagi kekuasaan untuk lingkaran sendiri adalah lumrah,
begitu kata penulis di harian Kompas yang artikelnya kubaca tadi. Advantage dan disadvantage dari cara
Jokowi hendak menjalankan pemerintahan dibeberkan. Aku terima saja itu sebagai
ilmu ‘sebatas tahu’.
Sebagai bagian dari orang-orang
yang di bawah (seperti diibaratkan Goenawan Mohamad), aku boleh merasa agak
kecewa pada Jokowi. Ditambah lagi fakta bahwa unjuk rasa besar beberapa hari
lalu terkait UU KPK tidak digubris (dari berita terakhir aku dengar rancangan UU
itu telah disahkan), aku jadi setuju dengan penulis artikel di harian Kompas
tadi pagi: Kita masyarakat seperti pengantin baru yang diselingkuhi di tengah-tengah bulan madu.
Mengapa Membaca Karya Non-Fiksi Menjadi Begitu Penting [1/4]
Sebagian catatan yang aku tulis berisi pikiran guru-guruku di kampus, atau orang-orang yang telah lama mati yang berbicara denganku lewat buku. Sayangnya catatan-catatan itu berceceran di banyak notebook. Aku takut pecahan-pecahan itu akan hilang, dan rasanya akan sangat baik jika mereka aku himpun di sini. Karena kebanyakan adalah memoar yang tidak bertanggal, aku merasa tidak perlu menyusunnya secara kronologis atau membuatnya tidak tampak berantakan seperti ini.
-----
Beberapa bacaan yang belakangan aku nikmati, kabanyakan digesa-gesa dengan keranjingan, merupakan jenis yang berbeda dari apa yang biasa aku habiskan. Awalnya aku berpikir tulisan lain di luar karya sastra kurang menarik untuk dibaca (berita atau text book kuliah diluar konteks yang aku bicarakan). Tetapi diri ini selalu ingin berkembang, ya, seperti manusia normal kebanyakan yang mengalaminya dari waktu ke waktu. Satu kata saja, berkembang.
Aku menyesal mengapa perkembangan ini muncul belakangan. Fakta baru ini agak mengejutkan karena jauh melampaui karya-karya sastra yang selalu kubaca, tulisan-tulisan non-fiksi mempengaruhiku lebih signifikan. Keinginan-keinginan baru muncul dalam benakku, dan itu membuat frustasi karena kenyataan yang mesti aku telan habis: aku sungguh-sungguh telah melewatkan melakukan banyak hal. Dalam tiga sampai empat tahun terakhir, begitu sering aku berhadapan dengan kesempatan yang kini aku harapkan akan muncul lagi. Kalau boleh naif, enteng saja kukatakan, kesempatan harusnya boleh datang berkali-kali!
Sebetulnya keinginan, yang kini berkembang menjadi semacam kebutuhan untuk membaca tulisan-tulisan di luar fiksi, mulai aku tumbuhkan mula-mula berkat kebiasaan membaca artikel-artikel di dunia maya, atau selentingan status-status sarat pikiran kritis di media sosial usang yang antik bernama facebook. Aku selalu mengagumi ketajaman pikiran teman-temanku di media itu. Bahkan hanya lewat kegiatan sepintas mengisi waktu luang sebelum shalat di hari raya idul Adha, satu pikiran cemerlang bisa muncul dan memicu diskusi yang pada gilirannya membuatku merasa mendapatkan semacam asupan ‘gizi’.
Menulis (termasuk mendokumentasikan, mempetakan, mengilustrasikan, atau apapun semacamnya) merupakan satu sisi dari uang logam ilmu pegetahuan. Berpikir adalah satu sisi lainnya. Karya sastra adalah penemuanku dalam hidup yang sangat penting, karena selain memiliki dua sisi uang logam, juga berisi satu aspek lain, keindahan bahasa.
Tulisan-tulisan lain yang juga merupakan buah pikiran cemerlang, seperti filsafat, politik, esai (atau semacamnya di luar ilmu eksak), yang baru-baru ini aku ‘temukan’ makna terpentingnya, mendorongku untuk secara tidak mendalam membuat kesimpulan-kesimpulan berupa daftar yang aku beri judul ‘mengapa membaca karya-karya non-fiksi adalah penting?’. Aku menyusunnya menjadi kerangka acuan sebagai pengingat sekaligus bentuk apresiasiku pada penemuan yang baru ini, penemuan yang kurasa sangat terlambat. Secara garis besarnya telah rampung aku buat.
-----
Dalam politik, kebangsaan, ekonomi (1926 – 1977) yang ditulis Mohammad Hatta, aku beroleh dorongan untuk mulai memperhatikan keadaan secara mendalam. Hatta, kurasa, adalah salah satu cendikiawan Indonesia terhebat yang pernah aku kenali namanya. Membaca kumpulan tulisannya, atau himpunan pidato-pidato yang Ia dokumentasikan tidaklah membosankan sama sekali. Di halaman-halaman awal aku disuguhi teori-teori sosial, politik, ekonomi, sejarah, dan ilmu-ilmu humaniora lainnya, yang belakangan aku sadari telah membengkokan kekakuan berpikir akibat kemonotonanku dalam belajar yang hanya terfokus pada bidang mekanika teknik dan material. Kuakui selama kurun waktu yang lama dalam perjalananku menuntut ilmu, aku hanya terpaku pada satu pikiran bahwa jalan yang telah aku putuskan untuk kutempuh ini (bidang teknik) merupakan hal yang nanti bakal menjadi pusat dari penghidupanku, penghabis sebagian besar waktu-waktuku, serta satu-satunya objek yang akan aku kembangkan hingga tingkat profesional.
Di halaman-halaman yang lebih lanjut, Hatta membeberkan bulat-bulat kejahatan imperialisme barat, teristimewa kolonial Belanda. Beberapa halaman Ia isi dengan masalah-masalah dan penderitaan yang mendera bangsa Indonesia. Dengan jujur Ia mengatakan bahwa membeberkan semua masalah itu satu per satu hanya akan membuat kita bosan sendiri. Yang membuatku berpikir betapa elegan tulisan-tulisannya adalah, Hatta dengan cermat berhasil mengaitkan fakta mengenai bangsa Indonesia dengan teori-teori sosial barat dan sejarah dunia dari abad-abad lampau hingga masa yang berbarengan dengan waktu tulisan itu dibuat.
Dalam bagian-bagian awal bukunya (yang bahkan belum semuanya selesai aku baca dan berhasil aku maknai), Ia menitikberatkan pada permasalahan yang memang sudah tidak relevan lagi dengan masalah Indonesia hari ini, karena semua masalah-masalah itu, yang Hatta kupas sampai habis, berasal dari satu sumber saja, yaitu Kolonialisme Belanda yang telah runtuh sejak puluhan tahun lalu. Meski begitu, sebagai kaum muda kita mesti memaknai pikiran beliau sebagai refleksi perjuangan bangsa ini yang sampai kapanpun tidak akan pernah berhenti.
-----
Apapun bidang yang digeluti seseorang, panggilan untuk mempelajari ilmu sosial haruslah dipenuhi. Aku seharusnya bisa lebih berpikiran terbuka jika saja buku Dibawah Bendera Revolusi, karangan Soekarno, aku temukan jauh-jauh hari, bahkan mungkin sebelum aku memutuskan untuk terjun ke bidang ilmu yang isinya cuma hitung-hitungan. Aku baru ngeh bahwa Soekarno pun dulunya mendalami bidang teknik yang sama denganku, ilmu bangunan. Hanya saja ia dalam perjalanannya menuntut ilmu meraih berbagai pencapaian gilang-gemilang, yang itu semua terwujud karena ia tidak hanya fokus pada bidang teknik itu. Lagi-lagi aku bertanya, apakah yang telah orang-orang itu lakukan sehingga ‘berhak’ mendapatkan takdir semacam itu. Aku terpukau pada analisanya mengenai Overbevolking, atau ledakan penduduk. Bagi Soekarno, pada dasarnya tidak ada sangkut paut antara kesejahteraan dengan jumlah manusia yang menempati satu wilayah. Pada tahun Ia menulis tentang itu, kurang lebih satu abad lalu, kurva pertumbuhan masyarakat Hindia sedang menukik naik setelah secara fluktuatif naik turun (lebih banyak turun) sejak masa Raffles berkuasa hingga kaum liberal Belanda yang dengan politiknya dianggap lebih sukses mensejahterakan pribumi. Pulau Jawa yang menjadi semacam mutiara kerajaan Belanda mengalami juga apa yang menjadi problem banyak penduduk dunia. Mayoritas merasa lonjakan jumlah orang yang lahir ketimbang yang meninggal tersebut adalah sumber masalah. Soekarno bilang itu bukan apa-apa jika Rezeki yang diperoleh masyarakat mencukupi.
Artikel yang Soekarno tulis itu bagiku lebih terasa seperti analisa seorang pakar demografi alih-alih sarjana Teknik Sipil. Kenyataan itu membuatku berfikir bahwa aku selama ini sibuk menaruh pikirinku dalam sebuah kotak yang didalamnya aku hanya berkutat dengan upaya mencari penghidupan pribadi: beroleh pekerjaan mapan, berkeluarga, dan seterusnya dan seterusnya.
Artikel yang Soekarno tulis itu bagiku lebih terasa seperti analisa seorang pakar demografi alih-alih sarjana Teknik Sipil. Kenyataan itu membuatku berfikir bahwa aku selama ini sibuk menaruh pikirinku dalam sebuah kotak yang didalamnya aku hanya berkutat dengan upaya mencari penghidupan pribadi: beroleh pekerjaan mapan, berkeluarga, dan seterusnya dan seterusnya.
---
Aku menjadi paham bahwa apa yang terjadi pada manusia pada dasarnya (dengan kehendak Tuhan tentunya) adalah buah dari perlakuan manusia lainnya. Seorang prajurit di perang dunia 2 menulis memoar : “… aku bisa melihat apa yang manusia dapat lakukan pada manusia lainnya”…. Al-Quran mencatat hal serupa seperti dalam kisah Nabi Musa, yang menceritakan bagaimana satu bentuk pemerintahan bisa berbuat “apapun” dan merasa memperoleh superioritas Tuhan. Buku sejarah (yang dulu jarang aku beli) kini menempati banyak tempat di rak. Sejarah pada dasarnya adalah apa yang terjadi pada manusia yang saling berinteraksi. Hal menarik tentang manusia adalah di titik waktu manapun hidup, Ia tetaplah sama. Apa yang kita pikirkan persis dengan apa yang manusia ribuan tahun lalu pertanyakan sambil tidur di bawah bulan. Satu-satunya yang berbeda adalah fasilitas yang kita punya hari ini. Begitu pula interaksi antar manusia. Ia berprilaku sama di setiap masa lantaran manusia adalah makhluk yang itu-itu juga.
Aku terkejut menemukan bahwa 3000 tahun silam orang Sumeria telah biasa memperdebatkan hak waris atau mengklaim status kepemilikan tanah dengan menunjukan semacam sertifikat hak milik hanya untuk dibantah bahwa surat itu sudah tidak otentik. Faktanya masalah kompleks seperti itu bukan lagi hal baru dan kita bisa dengan mudah paham kenapa banyak orang Yunani kuno berusaha habis-habisan untuk memahami manusia dan membawa filsafat ke arah yang lebih mikro: bahwa manusia adalah bentuk dari alam semesta. Ujung-ujungnya muncul ilmu politik, sosiologi, dll.
Dari Guns, Germs, & Steel nya Jared Diamond aku beroleh fakta bahwa sains atau produk-produk engineering (taruhlah Roda) adalah buah dari kesuksesan kolektifitas manusia. Sebetulnya, cikal bakal dari munculnya semua itu, adalah di satu titik waktu manusia dalam jumlah besar memutuskan untuk berkumpul setelah sukses mempelajari produksi pangan. Dulunya mereka adalah kaum pemburu biasa seperti semua manusia lainnya di seluruh penjuru dunia.
Setelah tidak perlu repot-repot lagi menjalani hidup nomaden demi mengikuti hewan buruan, masyarakat yang kelebihan anggota itu belajar bahwa surplus pangan juga ternyata menjadi asal-muasal banyak masalah. Munculnya birokrat tidak bisa ditawar lagi dan mereka yang bisa menghitung menjadi pelopornya. Jika masyarakat sudah terdiri atas ribuan orang, satu-satunya cara untuk membagi-bagikan makanan (yang suply nya berlebih) tanpa harus ada ribut-ribut adalah menghitung dulu berapa jumlah yang tersedia. Karena otak manusia terbatas, seorang jenius muncul dengan ide untuk menggoreskan lidi di sebongkah tanah liat: simbol tertentu untuk mewakili jumlah 10 Ton, jumlah panen musim ini adalah 100 tanda goresen yang berarti 1000 ton, dan jika dibagi 1000 keluarga berarti masing-masing dapat jatah 1 Ton.
Kurang lebih sesederhana itu bagaimana birokrat di awal-awal sejarah bekerja (itu pula yang menjadi permulaan munculnya budaya tulisan yang ujung-ujungya adalah perkembangan sains gila-gilaan). Tentu orang-orang akan percaya pada si tukang tulis itu dan mulai menganggapnya punya kapasitas mengatur hal begitu rumit supaya orang tidak ribut-ribut. Juru tulis itu lama-lama perlu banyak personil tambahan sehingga ketika masyarakat ada puluhan ribu dan tersebar di banyak tempat, tahu-tahu satu keluarganya setelah beberapa generasi kemudian telah memonopoli upaya administrasi itu. Bahkan mereka sudah lepas tangan dari hal remeh temeh menggores-goreskan lidi karena banyaknya ahli tulis yang mengabdi. Mereka tidak perlu bekerja seperti orang kebanyakan tapi mengendalikan semua pasokan pangan. Mereka lambat laun semakin kaya dan berpengaruh, lalu berpikir ada baiknya juga jika membayar segelintir tukang pukul yang dipersenjatai untuk sekedar jaga-jaga. Power dan konsentrasi kekuasaan bukan satu hal yang tiba-tiba muncul menimpa seseorang seperti berkah dari langit. Begitulah akhirnya muncul dinasti.
----
[2/4] di Minggu ke-27
Aku terkejut menemukan bahwa 3000 tahun silam orang Sumeria telah biasa memperdebatkan hak waris atau mengklaim status kepemilikan tanah dengan menunjukan semacam sertifikat hak milik hanya untuk dibantah bahwa surat itu sudah tidak otentik. Faktanya masalah kompleks seperti itu bukan lagi hal baru dan kita bisa dengan mudah paham kenapa banyak orang Yunani kuno berusaha habis-habisan untuk memahami manusia dan membawa filsafat ke arah yang lebih mikro: bahwa manusia adalah bentuk dari alam semesta. Ujung-ujungnya muncul ilmu politik, sosiologi, dll.
Dari Guns, Germs, & Steel nya Jared Diamond aku beroleh fakta bahwa sains atau produk-produk engineering (taruhlah Roda) adalah buah dari kesuksesan kolektifitas manusia. Sebetulnya, cikal bakal dari munculnya semua itu, adalah di satu titik waktu manusia dalam jumlah besar memutuskan untuk berkumpul setelah sukses mempelajari produksi pangan. Dulunya mereka adalah kaum pemburu biasa seperti semua manusia lainnya di seluruh penjuru dunia.
Setelah tidak perlu repot-repot lagi menjalani hidup nomaden demi mengikuti hewan buruan, masyarakat yang kelebihan anggota itu belajar bahwa surplus pangan juga ternyata menjadi asal-muasal banyak masalah. Munculnya birokrat tidak bisa ditawar lagi dan mereka yang bisa menghitung menjadi pelopornya. Jika masyarakat sudah terdiri atas ribuan orang, satu-satunya cara untuk membagi-bagikan makanan (yang suply nya berlebih) tanpa harus ada ribut-ribut adalah menghitung dulu berapa jumlah yang tersedia. Karena otak manusia terbatas, seorang jenius muncul dengan ide untuk menggoreskan lidi di sebongkah tanah liat: simbol tertentu untuk mewakili jumlah 10 Ton, jumlah panen musim ini adalah 100 tanda goresen yang berarti 1000 ton, dan jika dibagi 1000 keluarga berarti masing-masing dapat jatah 1 Ton.
Kurang lebih sesederhana itu bagaimana birokrat di awal-awal sejarah bekerja (itu pula yang menjadi permulaan munculnya budaya tulisan yang ujung-ujungya adalah perkembangan sains gila-gilaan). Tentu orang-orang akan percaya pada si tukang tulis itu dan mulai menganggapnya punya kapasitas mengatur hal begitu rumit supaya orang tidak ribut-ribut. Juru tulis itu lama-lama perlu banyak personil tambahan sehingga ketika masyarakat ada puluhan ribu dan tersebar di banyak tempat, tahu-tahu satu keluarganya setelah beberapa generasi kemudian telah memonopoli upaya administrasi itu. Bahkan mereka sudah lepas tangan dari hal remeh temeh menggores-goreskan lidi karena banyaknya ahli tulis yang mengabdi. Mereka tidak perlu bekerja seperti orang kebanyakan tapi mengendalikan semua pasokan pangan. Mereka lambat laun semakin kaya dan berpengaruh, lalu berpikir ada baiknya juga jika membayar segelintir tukang pukul yang dipersenjatai untuk sekedar jaga-jaga. Power dan konsentrasi kekuasaan bukan satu hal yang tiba-tiba muncul menimpa seseorang seperti berkah dari langit. Begitulah akhirnya muncul dinasti.
----
[2/4] di Minggu ke-27
Mendalami Agama, Metodologi yang digunakan, serta konsekuensinya
Institut Teknologi Sepuluh Nopember
Surabaya, 2016/09/16
Catatan ini bukan merupakan buah dari hasil pikiranku sendiri. Aku merasa perlu mendokumentasikan ceramah Jumat tadi siang (hal yang belum pernah aku lakukan sebelumnya) lantaran apa yang diungkapkan khatib betul-betul baru aku dengar. Saat menyadari bahwa sifat ceramah siang tadi adalah universal, aku merubah judul yang semula ‘mendalami Islam serta konsekuensinya’, menjadi seperti apa yang tertera di atas.
Penceramah adalah Prof.Abdullah Sahab, seorang dosen di bidang mechanical engineering (ceramahnya banyak bertebaran di Youtube). Aku kira paparannya akan terbatas seputar ‘Sains dan kaitannya dengan Islam’, sebagaimana dilakukan dosen-dosen di bidang itu pada umumnya saat menyampaikan ceramah (ini berdasar pada pengalamanku). Pemaparan ceramah melalui pendekatan seperti itu, dengan menyertakan sentuhan iptek, memang rasanya lebih menarik dan tidak membuat ngantuk. Terlebih lagi jika pendengar yang notabene mahasiswa punya rasa ingin tahu terutama di bidang-bidang itu.
Hal penting tentang keseluruhan isi paparan itu langsung ia katakan pada kalimat pertama pembicaraannya. Kalimat pembuka itu langsung membuatku tertarik karena ternyata isinya bukan persoalan iptek. Hingga ceramah selesai, aku terus mencoba meresap semuanya meski agak sulit karena konten yang terlalu banyak mesti aku ingat dalam satu kali pembahasan selama 45 menit. Setelah memaknainya, aku menyusun sebuah tulisan yang isinya tidak berbeda jauh dari paparan penceramah pada kesempatan khutbah Jumat tersebut.
Metodologi dalam mempelajari sains
Bagian terpenting dari ilmu pengetahuan, di samping kandungan yang ada di dalam disiplin ilmu itu sendiri, adalah bagaimana mempelajarinya. Dalam skala yang lebih kecil, saat membuat sebuah jurnal ilmiah kita mengenal metodologi sebagai kerangka acuan yang memberitahu secara sistematis bagaimana tulisan itu akan meraih kesimpulan.
Metodologi sering dianggap sebagai pembentuk kekhasan antar berbagai disiplin ilmu. Dalam mempelajari sejarah, mungkin uji laboratorium jarang dilakukan. Lain hal dengan bidang kimia atau kedokteran. Dalam sejarah, kesimpulan-kesimpulan dari hipotesis secara prinsip didapatkan melalui survei yang cermat terhadap manuskrip-manuskrip kuno, prasasti-prasasti, dan sebagainya. Beberapa diantaranya mungkin perlu diuji, misalnya dalam kasus membuktikan bangsa Peru adalah cikal-bakal penghuni sebuah kepulauan tertentu di Pasifik. Fakta bahwa bangsa Peru tidak pernah mengenal perahu, membuat ilmuwan bersangkutan mesti mencoba sendiri mengarungi laut dari negara di Benua Amerika itu menggunakan rakit.
Meski metodologi berbeda-beda terdapat kesamaan yang mendasar : semua disiplin ilmu eksak bersandar pada keragu-raguan. Dalam mengkaji kebenaran kita selalu berangkat dari sikap skepti, pertanyaan-pertanyaan yang jawabannya mungkin bertentangan dengan keyakinan kita semula, serta pada kebutuhan mendesak untuk menguji keabsahan keberan tersebut. Dengan demikian adalah wajar dalam satu disiplin ilmu sebuah teori menggantikan teori yang lain. Semakin tua sebuah teori, semakin usang jadinya. Ilmu yang kebenarannya diyakini secara luas ratusan tahun lalu barangkali akan menjadi omong kosong terbesar masa kini.
Jika lahir pada tahun 500 masehi, kita tentu akan ketakutan membayangkan bahwa semua lautan memiliki ujung berupa air terjun yang mengarah langsung ke ruang angkasa disebabkan otoritas ilmu saat itu menyakini bahwa bumi merupakan meja.
Otoritas-mutlak atas pengetahuan merupakan titik paling lemah dari semua disiplin ilmu. Otoritas dalam konteks ini sama artinya dengan menentang hal paling prinsip dalam mempelajari sesuatu, yaitu mendasarkan semua pada keragua-raguan. Menyimpulkan begitu saja suatu tanpa melakukan pengujian berarti membuat sains menjadi kebohongan semata, atau dalam kata lain mitos. Manusia telah sejak lama meninggalkan mitos-mitos sebagai sumber sains. Kita tidak akan pernah lupa pada Gelileo yang dihukum gereja karena menentang otoritas ilmu saat itu.
Galileo adalah bukti nyata ilmuwan sejati, disamping ribuan lain yang hidup bertebaran sejak ratusan tahun sebelum masehi.
Ada satu pertanyaan menarik yang sebetulnya bersifat paradoks. Jika seandainya mempercayai begitu saja sebuah teori tanpa membuktikannya sama sekali adalah bentuk penentangan atas prinsip fundamental sains, maka kita mesti meragukan bahwa bumi ini bulat, sebab dapat dipastikan bahwa nyaris semua orang tidak pernah memastikannya secara langsung. Kita mendapat informasi itu terbatas pada buku-buku dan foto-foto satelit. Bagaimana jika semua itu kebohongan semata?
Tentu saja kita tidak bisa serta-merta menentang sesuatu hanya karena belum pernah memastikannya secara langsung. Teori-teori yang menyatakan bahwa bumi bulat telah dikemukakan sejak lama dan pembuktian-pembuktiannya tidak bisa terbantahkan lagi, paling tidak sampai teori baru berkata bahwa bumi tidak sepenuhnya bulat seperti bola sebab pada bagian khatulistiwa bumi menjorok lebih keluar, gravitasi matahari dibagian itu lebih kuat. Dengan demikian dalam pemahaman manusia bumi telah beberapa kali berubah bentuk, bergantung pada otoritas yang berlaku.
Otoritas nyatanya merupakan satu bagian penting dari ilmu pengetahuan. Semua orang tentu saja berhak menentang dan mengajukan teori baru atas sebuah pengetahuan. Tetapi umur seorang ilmuwan terlalu singkat untuk bisa memastikan kebenaran semua teori yang ada.
Lantas, apakah metode yang digunakan untuk mempelajari ilmu pengetahuan juga berlaku dalam mempelajari Agama? Singkat saja, Tidak. Di dalam agama, satu-satunya dasar pegangan dalam menggali pengetahuan adalah otoritas dari ajaran yang bersangkutan. Dalam Islam, satu-satunya sumber otoritas itu adalah perintah Allah SWT yang disampaikan melalui Nabi Muhammad. Di banyak perkara furu’iah (semisal menggunakan qunut atau tidak saat solat subuh) pertentangan memang diizinkan. Tapi pada hal fundamental, semisal Tauhid, tidak ada pertentangan yang muncul. Dalam beberapa perkara yang lebih khusus, kita akan menemukan hukum yang tampaknya tidak masuk akal, bahkan seakan saling bertentangan, seperti dalam hukum memakan daging sapi yang dasarnya adalah halal, tetapi menjadi terlarang ketika hewan tersebut tidak disembelih atas nama Allah dan menghadap ke arah lain selain Ka’bah. Pertanyaan yang mungkin muncul adalah bagaimana mungkin sesuatu bisa menjadi terlarang hanya karena satu sebab yang sulit dipahami oleh nalar.
Bagi kebanyakan orang, agama pada prinsipnya telah mematikan proses berpikir; bentuk pengkhianatan sejati terhadap rasionalisme. Alasan itu sudah lebih dari cukup untuk mendorong penentangan atas agama. Prasyarat utama dalam mendalami agama, yaitu meyakini seutuh-utuhnya tanpa peduli apakah itu rasional atau tidak, adalah musuh paling besar dalam mempelajari sains. Kini tidaklah sulit untuk memahami jalan pikiran para cendikiawan-cendikiawan anti Tuhan, yang kebanyakan bahkan terang-terangan menghimpun upaya untuk melakukan perlawanan lewat buku-buku atau ceramah-ceramah.
Kebeneran agama sesungguhnya tidak diukur lewat rasional. Penekanan perlu diberikan pada kalimat ini. Itulah sebabnya tingkat intelektual sama sekali bukan menjadi jaminan keimanan bisa diraih. Sipapun tidak bisa menyangkal kecerdasan gemilang para intelek Atheis. Argumen menentang agama yang mereka kemas dalam bungkus ‘sains’ teramat elegen untuk sebuah penistaan yang keji. Orang-orang ini secara kasar memberondong keyakinan beragama dengan membabi buta, sering kali tanpa mempedulikan moral dan etika. Teori-teori dipaksakan sejalan dengan keinginan, argumen-argumen diungkapkan dengan penuh kepuasan, sementara pujian-pujian atas penistaan itu mengalir deras membuat nama mereka menjadi kian besar.
Ambil contoh salah satu filsuf terpenting di Eropa, Friedrich Nietzsche, yang pemikiran-pemikirannya dianggap memberi pengaruh sangat besar. Kita mungkin bertanya-tanya apa yang kurang dari kepintaran cendikiawan ini, sehingga bahkan ia tidak mampu lewat otaknya yang luar biasa cerdas itu menemukan setitik saja kebenaran agama. Ia yang berlatar belakang keluarga katolik saleh sebetulnya dididik untuk menjadi seorang pastur, tetapi kini dunia mengenalnya sebagai salah satu penentang kristen nomer satu, the antichrist. Untuk catatan saja, Nietzche yang gila-gilaan menentang kristen bukan berarti punya simpati terhadap Islam.
Kita kenal Stephen Hawking yang percaya bahwa alam semesta terjadi begitu sempurna tanpa perlu ada sangkut pautnya dengan Tuhan. Bill Gates yang tampak ‘ignorant’ dan lebih suka untuk tidak repot-repot memikirkan kebenaran Tuhan atau menentangnya.
Agama dapat menjadi komoditas sains
Kita pernah mendengar bagaimana kerajaan Aceh pada akhirnya takluk pada Kolonial Belanda setelah Snouck Hurgronje menjadi game changer dengan mengerahkan pengetahuan luasnya tentang Islam. Ia begitu hebat mempelajari Islam, bersyahadat (menurut banyak sejarawan hanya untuk bisa ke Makkah), belajar melalui banyak ulama besar di Arab bahkan di Turki Ottoman. Faktanya ia adalah mata-mata, dan upayanya menjadi penasihat kerajaan Belanda berbuah pada kalahnya orang-orang Aceh.
Beratus-ratus tahun orang-orang barat (orientalis) tertarik Al-Quran dan memandangnya semata-mata sebagai prodak sains. Mereka mengupas semua aspek dalam diri umat Islam hingga pada taraf bagaimana orang-orang Timur Tengah bersikap sehari-hari (yang menurut mereka kekanak-kanakan).
Terlepas dari pembahasan Prof.Abdullah Sahab, secara pribadi aku pernah membaca buku Edward W.Said, Orientalism, yaitu sebuah biang kajian berfokus pada Timur Tengah (otomatis secara khusus pada orang-orang Islam). Salah satu yang hendak diungkapkan adalah kenyataan bahwa bangsa besar yang dulu pernah begitu signifikan, bangsa besar yang gemilang, yang dulu pernah Nabi Muhammad bina menjadi begitu mulia, kini bukan lagi apa-apa dihadapan orang-orang Barat, selain sepetak tanah luas yang boleh dibagi-bagi dengan layak. Aku dikenalkan oleh nama seperti Arthur James Balfour (belakangan jadi salah satu tokoh kunci permasalahan Israel-Palestina). Di depan parlemen Inggris ia mengatakan :
“…Is it a good thing for these great nations-I admit their greatness. -that this absolute government should be exercised by us? I think it is a good thing. I think that experience shows that they have got under it far better government than in the whole history of the world they ever had before, and which not only is a benefit to them, but is undoubtedly a benefit to the whole of the civilised West .... We are in Egypt not merely for the sake of the Egyptians, though we are there for their sake; we are there also for the sake of Europe at large…”
Kemudian nama lain, Lord Cromer yang hidup sejaman dengan Balfour mangatakan:
“…To be more explicit, what is meant when it is said that the commercial spirit should be under some control is this-that in dealing with Indians or Egyptians, or Shilluks, or Zulus, the first question is to consider what these people, who are all, nationally speaking, more or less in stalu pupillari, themselves think is best in their own interests, although this is a point which deserves serious consideration..”
Balfour dan Lord Cromer sebagai patriot Inggris berkepentingan untuk memenangkan bangsanya tentu saja. Mesir yang kala itu jatuh ke tangan Inggris setelah Khilafah Utsmani (Ottoman) tidak mampu lagi mempertahankannya, adalah semacam berlian paling penting yang dipunyainya selain India di sisi lain Asia. Apa yang mereka perbuat, termasuk secara mendalam mempelajari orang-orang mesir yang pada dasarnya adalah kaum Muslimin, semata-mata for the sake of Europe at Large. Memahami Islam sedalam-dalamnya adalah kepentingan yang besar karena bagi mereka in dealing with Indians or Egyptians (maksudnya orang Islam), the first question is to consider ‘what’ these people...
Satu poin penting di sini adalah pertanyaan apakah orientalis tidak kurang baik dari pada ulama-ulama besar dalam mempelajari Islam, memahami Al-Qur’an?
Kita semestinya kini bisa paham alih-alih menjadi jalan menuju keimanan, bagi kebanyakan orang mendalami agama hanyalah upaya mengeksploitasi semacam komoditas sains sebagai alat untuk mencapai satu tujuan tertentu.
Celah keraguan dalam memahami Agama
Adakah celah untuk kita memperoleh keraguan dalam Islam jika melihat banyaknya hal 'tidak' masuk di nalar. Sebagai contoh, coba perhatikan hukum tentang pernikahan. Bagaimana satu aktivitas manusiawi (melestarikan keturunan), Seks, menjadi satu hal paling Allah SWT benci jika dilakukan tanpa melalui akad pernikahan. Orang-orang yang menentang tentu bertanya bagaimana aktivitas kurang dari satu menit, di mana ayah (atau wali) dari wanita berjabat tangan dengan pria yang mengucapkan sepenggal kalimat, disaksikan minimal 3 orang, bisa mengubah sama sekali sifat dari Seks yang sebelumnya sangat dibenci. Apakah moralitas manusia begitu rendah hingga hal-hal semacam itu diperlukan?
Kita boleh berargumen bahwa akad nikah adalah bentuk proteksi yang masuk akal, dimana kesaksian 3 orang adalah penjamin di masa depan bahwa pria yang memutuskan untuk menikahi wanita tersebut bertanggung jawab penuh. Mengungkapkan semua hikmah yang terkandung dari proses akad nikah akan memakan satu buku penuh. Dan semua itu bukanlah menjadi jawaban utama tentang mengapa Islam mengharuskan proses akad nikah sebagaimana disyaratkan. Jawaban awal yang kita berikan adalah: Allah SWT yang telah menetapkannya entah apapun yang dimaksudkan.
Al-Qur’an sebagai sumber otoritas mutlak tetap memberi peluang untuk proses berpikir. Memahami hukum pernikahan, memberitahu kita bahwa Al-Qur’an adalah sumber tertulis pengetahuan Islam yang memegang otoritas penuh (di samping sumber hukum lain yaitu Hadist dan Sunnah). Meski demikian, Allah tidak sama sekali menyuruh manusia untuk menjalankan perintah tanpa melalui proses berpikir. Saat mempelajari Al-Qur’an kita akan menyadari banyaknya perintah untuk berpikir, mengobservasi, dan menarik kesimpulan. Satu kisah di dalamnya bahkan menunjukan bagaimana proses Nabi Ibrahim hingga sampai pada kesimpulan bahwa Allah SWT adalah Tuhan yang Haq. Nabi Ibrahim secara sadar memahami bahwa satu-satunya yang ia punya untuk memahami Tuhan adalah melalui akal dan indranya. Kita semua pernah mendengar kisah ini, bagaimana Ia memandang Matahari dan menganggap itu sebagai Tuhan, hingga pada satu titik Ia berkesimpulan bahwa apapun yang bisa Ia jangkau dengan akalnya tidak lebih dari ciptaan..
(Berlanjut)
Institut Teknologi Sepuluh Nopember
Surabaya, 2016/09/16
Catatan ini bukan merupakan buah dari hasil pikiranku sendiri. Aku merasa perlu mendokumentasikan ceramah Jumat tadi siang (hal yang belum pernah aku lakukan sebelumnya) lantaran apa yang diungkapkan khatib betul-betul baru aku dengar. Saat menyadari bahwa sifat ceramah siang tadi adalah universal, aku merubah judul yang semula ‘mendalami Islam serta konsekuensinya’, menjadi seperti apa yang tertera di atas.
Penceramah adalah Prof.Abdullah Sahab, seorang dosen di bidang mechanical engineering (ceramahnya banyak bertebaran di Youtube). Aku kira paparannya akan terbatas seputar ‘Sains dan kaitannya dengan Islam’, sebagaimana dilakukan dosen-dosen di bidang itu pada umumnya saat menyampaikan ceramah (ini berdasar pada pengalamanku). Pemaparan ceramah melalui pendekatan seperti itu, dengan menyertakan sentuhan iptek, memang rasanya lebih menarik dan tidak membuat ngantuk. Terlebih lagi jika pendengar yang notabene mahasiswa punya rasa ingin tahu terutama di bidang-bidang itu.
Hal penting tentang keseluruhan isi paparan itu langsung ia katakan pada kalimat pertama pembicaraannya. Kalimat pembuka itu langsung membuatku tertarik karena ternyata isinya bukan persoalan iptek. Hingga ceramah selesai, aku terus mencoba meresap semuanya meski agak sulit karena konten yang terlalu banyak mesti aku ingat dalam satu kali pembahasan selama 45 menit. Setelah memaknainya, aku menyusun sebuah tulisan yang isinya tidak berbeda jauh dari paparan penceramah pada kesempatan khutbah Jumat tersebut.
Metodologi dalam mempelajari sains
Bagian terpenting dari ilmu pengetahuan, di samping kandungan yang ada di dalam disiplin ilmu itu sendiri, adalah bagaimana mempelajarinya. Dalam skala yang lebih kecil, saat membuat sebuah jurnal ilmiah kita mengenal metodologi sebagai kerangka acuan yang memberitahu secara sistematis bagaimana tulisan itu akan meraih kesimpulan.
Metodologi sering dianggap sebagai pembentuk kekhasan antar berbagai disiplin ilmu. Dalam mempelajari sejarah, mungkin uji laboratorium jarang dilakukan. Lain hal dengan bidang kimia atau kedokteran. Dalam sejarah, kesimpulan-kesimpulan dari hipotesis secara prinsip didapatkan melalui survei yang cermat terhadap manuskrip-manuskrip kuno, prasasti-prasasti, dan sebagainya. Beberapa diantaranya mungkin perlu diuji, misalnya dalam kasus membuktikan bangsa Peru adalah cikal-bakal penghuni sebuah kepulauan tertentu di Pasifik. Fakta bahwa bangsa Peru tidak pernah mengenal perahu, membuat ilmuwan bersangkutan mesti mencoba sendiri mengarungi laut dari negara di Benua Amerika itu menggunakan rakit.
Meski metodologi berbeda-beda terdapat kesamaan yang mendasar : semua disiplin ilmu eksak bersandar pada keragu-raguan. Dalam mengkaji kebenaran kita selalu berangkat dari sikap skepti, pertanyaan-pertanyaan yang jawabannya mungkin bertentangan dengan keyakinan kita semula, serta pada kebutuhan mendesak untuk menguji keabsahan keberan tersebut. Dengan demikian adalah wajar dalam satu disiplin ilmu sebuah teori menggantikan teori yang lain. Semakin tua sebuah teori, semakin usang jadinya. Ilmu yang kebenarannya diyakini secara luas ratusan tahun lalu barangkali akan menjadi omong kosong terbesar masa kini.
Jika lahir pada tahun 500 masehi, kita tentu akan ketakutan membayangkan bahwa semua lautan memiliki ujung berupa air terjun yang mengarah langsung ke ruang angkasa disebabkan otoritas ilmu saat itu menyakini bahwa bumi merupakan meja.
Otoritas-mutlak atas pengetahuan merupakan titik paling lemah dari semua disiplin ilmu. Otoritas dalam konteks ini sama artinya dengan menentang hal paling prinsip dalam mempelajari sesuatu, yaitu mendasarkan semua pada keragua-raguan. Menyimpulkan begitu saja suatu tanpa melakukan pengujian berarti membuat sains menjadi kebohongan semata, atau dalam kata lain mitos. Manusia telah sejak lama meninggalkan mitos-mitos sebagai sumber sains. Kita tidak akan pernah lupa pada Gelileo yang dihukum gereja karena menentang otoritas ilmu saat itu.
Galileo adalah bukti nyata ilmuwan sejati, disamping ribuan lain yang hidup bertebaran sejak ratusan tahun sebelum masehi.
Ada satu pertanyaan menarik yang sebetulnya bersifat paradoks. Jika seandainya mempercayai begitu saja sebuah teori tanpa membuktikannya sama sekali adalah bentuk penentangan atas prinsip fundamental sains, maka kita mesti meragukan bahwa bumi ini bulat, sebab dapat dipastikan bahwa nyaris semua orang tidak pernah memastikannya secara langsung. Kita mendapat informasi itu terbatas pada buku-buku dan foto-foto satelit. Bagaimana jika semua itu kebohongan semata?
Tentu saja kita tidak bisa serta-merta menentang sesuatu hanya karena belum pernah memastikannya secara langsung. Teori-teori yang menyatakan bahwa bumi bulat telah dikemukakan sejak lama dan pembuktian-pembuktiannya tidak bisa terbantahkan lagi, paling tidak sampai teori baru berkata bahwa bumi tidak sepenuhnya bulat seperti bola sebab pada bagian khatulistiwa bumi menjorok lebih keluar, gravitasi matahari dibagian itu lebih kuat. Dengan demikian dalam pemahaman manusia bumi telah beberapa kali berubah bentuk, bergantung pada otoritas yang berlaku.
Otoritas nyatanya merupakan satu bagian penting dari ilmu pengetahuan. Semua orang tentu saja berhak menentang dan mengajukan teori baru atas sebuah pengetahuan. Tetapi umur seorang ilmuwan terlalu singkat untuk bisa memastikan kebenaran semua teori yang ada.
Lantas, apakah metode yang digunakan untuk mempelajari ilmu pengetahuan juga berlaku dalam mempelajari Agama? Singkat saja, Tidak. Di dalam agama, satu-satunya dasar pegangan dalam menggali pengetahuan adalah otoritas dari ajaran yang bersangkutan. Dalam Islam, satu-satunya sumber otoritas itu adalah perintah Allah SWT yang disampaikan melalui Nabi Muhammad. Di banyak perkara furu’iah (semisal menggunakan qunut atau tidak saat solat subuh) pertentangan memang diizinkan. Tapi pada hal fundamental, semisal Tauhid, tidak ada pertentangan yang muncul. Dalam beberapa perkara yang lebih khusus, kita akan menemukan hukum yang tampaknya tidak masuk akal, bahkan seakan saling bertentangan, seperti dalam hukum memakan daging sapi yang dasarnya adalah halal, tetapi menjadi terlarang ketika hewan tersebut tidak disembelih atas nama Allah dan menghadap ke arah lain selain Ka’bah. Pertanyaan yang mungkin muncul adalah bagaimana mungkin sesuatu bisa menjadi terlarang hanya karena satu sebab yang sulit dipahami oleh nalar.
Bagi kebanyakan orang, agama pada prinsipnya telah mematikan proses berpikir; bentuk pengkhianatan sejati terhadap rasionalisme. Alasan itu sudah lebih dari cukup untuk mendorong penentangan atas agama. Prasyarat utama dalam mendalami agama, yaitu meyakini seutuh-utuhnya tanpa peduli apakah itu rasional atau tidak, adalah musuh paling besar dalam mempelajari sains. Kini tidaklah sulit untuk memahami jalan pikiran para cendikiawan-cendikiawan anti Tuhan, yang kebanyakan bahkan terang-terangan menghimpun upaya untuk melakukan perlawanan lewat buku-buku atau ceramah-ceramah.
Kebeneran agama sesungguhnya tidak diukur lewat rasional. Penekanan perlu diberikan pada kalimat ini. Itulah sebabnya tingkat intelektual sama sekali bukan menjadi jaminan keimanan bisa diraih. Sipapun tidak bisa menyangkal kecerdasan gemilang para intelek Atheis. Argumen menentang agama yang mereka kemas dalam bungkus ‘sains’ teramat elegen untuk sebuah penistaan yang keji. Orang-orang ini secara kasar memberondong keyakinan beragama dengan membabi buta, sering kali tanpa mempedulikan moral dan etika. Teori-teori dipaksakan sejalan dengan keinginan, argumen-argumen diungkapkan dengan penuh kepuasan, sementara pujian-pujian atas penistaan itu mengalir deras membuat nama mereka menjadi kian besar.
Ambil contoh salah satu filsuf terpenting di Eropa, Friedrich Nietzsche, yang pemikiran-pemikirannya dianggap memberi pengaruh sangat besar. Kita mungkin bertanya-tanya apa yang kurang dari kepintaran cendikiawan ini, sehingga bahkan ia tidak mampu lewat otaknya yang luar biasa cerdas itu menemukan setitik saja kebenaran agama. Ia yang berlatar belakang keluarga katolik saleh sebetulnya dididik untuk menjadi seorang pastur, tetapi kini dunia mengenalnya sebagai salah satu penentang kristen nomer satu, the antichrist. Untuk catatan saja, Nietzche yang gila-gilaan menentang kristen bukan berarti punya simpati terhadap Islam.
Kita kenal Stephen Hawking yang percaya bahwa alam semesta terjadi begitu sempurna tanpa perlu ada sangkut pautnya dengan Tuhan. Bill Gates yang tampak ‘ignorant’ dan lebih suka untuk tidak repot-repot memikirkan kebenaran Tuhan atau menentangnya.
Agama dapat menjadi komoditas sains
Kita pernah mendengar bagaimana kerajaan Aceh pada akhirnya takluk pada Kolonial Belanda setelah Snouck Hurgronje menjadi game changer dengan mengerahkan pengetahuan luasnya tentang Islam. Ia begitu hebat mempelajari Islam, bersyahadat (menurut banyak sejarawan hanya untuk bisa ke Makkah), belajar melalui banyak ulama besar di Arab bahkan di Turki Ottoman. Faktanya ia adalah mata-mata, dan upayanya menjadi penasihat kerajaan Belanda berbuah pada kalahnya orang-orang Aceh.
Beratus-ratus tahun orang-orang barat (orientalis) tertarik Al-Quran dan memandangnya semata-mata sebagai prodak sains. Mereka mengupas semua aspek dalam diri umat Islam hingga pada taraf bagaimana orang-orang Timur Tengah bersikap sehari-hari (yang menurut mereka kekanak-kanakan).
Terlepas dari pembahasan Prof.Abdullah Sahab, secara pribadi aku pernah membaca buku Edward W.Said, Orientalism, yaitu sebuah biang kajian berfokus pada Timur Tengah (otomatis secara khusus pada orang-orang Islam). Salah satu yang hendak diungkapkan adalah kenyataan bahwa bangsa besar yang dulu pernah begitu signifikan, bangsa besar yang gemilang, yang dulu pernah Nabi Muhammad bina menjadi begitu mulia, kini bukan lagi apa-apa dihadapan orang-orang Barat, selain sepetak tanah luas yang boleh dibagi-bagi dengan layak. Aku dikenalkan oleh nama seperti Arthur James Balfour (belakangan jadi salah satu tokoh kunci permasalahan Israel-Palestina). Di depan parlemen Inggris ia mengatakan :
“…Is it a good thing for these great nations-I admit their greatness. -that this absolute government should be exercised by us? I think it is a good thing. I think that experience shows that they have got under it far better government than in the whole history of the world they ever had before, and which not only is a benefit to them, but is undoubtedly a benefit to the whole of the civilised West .... We are in Egypt not merely for the sake of the Egyptians, though we are there for their sake; we are there also for the sake of Europe at large…”
Kemudian nama lain, Lord Cromer yang hidup sejaman dengan Balfour mangatakan:
“…To be more explicit, what is meant when it is said that the commercial spirit should be under some control is this-that in dealing with Indians or Egyptians, or Shilluks, or Zulus, the first question is to consider what these people, who are all, nationally speaking, more or less in stalu pupillari, themselves think is best in their own interests, although this is a point which deserves serious consideration..”
Balfour dan Lord Cromer sebagai patriot Inggris berkepentingan untuk memenangkan bangsanya tentu saja. Mesir yang kala itu jatuh ke tangan Inggris setelah Khilafah Utsmani (Ottoman) tidak mampu lagi mempertahankannya, adalah semacam berlian paling penting yang dipunyainya selain India di sisi lain Asia. Apa yang mereka perbuat, termasuk secara mendalam mempelajari orang-orang mesir yang pada dasarnya adalah kaum Muslimin, semata-mata for the sake of Europe at Large. Memahami Islam sedalam-dalamnya adalah kepentingan yang besar karena bagi mereka in dealing with Indians or Egyptians (maksudnya orang Islam), the first question is to consider ‘what’ these people...
Satu poin penting di sini adalah pertanyaan apakah orientalis tidak kurang baik dari pada ulama-ulama besar dalam mempelajari Islam, memahami Al-Qur’an?
Kita semestinya kini bisa paham alih-alih menjadi jalan menuju keimanan, bagi kebanyakan orang mendalami agama hanyalah upaya mengeksploitasi semacam komoditas sains sebagai alat untuk mencapai satu tujuan tertentu.
Celah keraguan dalam memahami Agama
Adakah celah untuk kita memperoleh keraguan dalam Islam jika melihat banyaknya hal 'tidak' masuk di nalar. Sebagai contoh, coba perhatikan hukum tentang pernikahan. Bagaimana satu aktivitas manusiawi (melestarikan keturunan), Seks, menjadi satu hal paling Allah SWT benci jika dilakukan tanpa melalui akad pernikahan. Orang-orang yang menentang tentu bertanya bagaimana aktivitas kurang dari satu menit, di mana ayah (atau wali) dari wanita berjabat tangan dengan pria yang mengucapkan sepenggal kalimat, disaksikan minimal 3 orang, bisa mengubah sama sekali sifat dari Seks yang sebelumnya sangat dibenci. Apakah moralitas manusia begitu rendah hingga hal-hal semacam itu diperlukan?
Kita boleh berargumen bahwa akad nikah adalah bentuk proteksi yang masuk akal, dimana kesaksian 3 orang adalah penjamin di masa depan bahwa pria yang memutuskan untuk menikahi wanita tersebut bertanggung jawab penuh. Mengungkapkan semua hikmah yang terkandung dari proses akad nikah akan memakan satu buku penuh. Dan semua itu bukanlah menjadi jawaban utama tentang mengapa Islam mengharuskan proses akad nikah sebagaimana disyaratkan. Jawaban awal yang kita berikan adalah: Allah SWT yang telah menetapkannya entah apapun yang dimaksudkan.
Al-Qur’an sebagai sumber otoritas mutlak tetap memberi peluang untuk proses berpikir. Memahami hukum pernikahan, memberitahu kita bahwa Al-Qur’an adalah sumber tertulis pengetahuan Islam yang memegang otoritas penuh (di samping sumber hukum lain yaitu Hadist dan Sunnah). Meski demikian, Allah tidak sama sekali menyuruh manusia untuk menjalankan perintah tanpa melalui proses berpikir. Saat mempelajari Al-Qur’an kita akan menyadari banyaknya perintah untuk berpikir, mengobservasi, dan menarik kesimpulan. Satu kisah di dalamnya bahkan menunjukan bagaimana proses Nabi Ibrahim hingga sampai pada kesimpulan bahwa Allah SWT adalah Tuhan yang Haq. Nabi Ibrahim secara sadar memahami bahwa satu-satunya yang ia punya untuk memahami Tuhan adalah melalui akal dan indranya. Kita semua pernah mendengar kisah ini, bagaimana Ia memandang Matahari dan menganggap itu sebagai Tuhan, hingga pada satu titik Ia berkesimpulan bahwa apapun yang bisa Ia jangkau dengan akalnya tidak lebih dari ciptaan..
(Berlanjut)
Tebu (Bagian 1)
2017, Perpustakaan Pusat ITS
“Tiada
yang lebih tahu Jawa dari pada diri saya.” Kurang lebih begitu yang diucapkan
Raffles. Ia mengemas pengetahuannya yang melimpah soal pulau tersebut dalam
buku termahsyur History Of Java. Dikatakan pulau yang bentuknya memanjang ini
menurut bahasa berasal dari kata ‘jawawut’, semacam sebutan untuk biji-bijian
tertentu (satu informasi yang baru aku ketahui). Membaca buku itu aku tidak
merasa ngantuk meski pemaparan yang sangat formal demi kepentingan administrasi
itu sarat angka dan tabel.
Sebutan
lain pulau Jawa yang tercantum dalam buku tebal itu adalah Nusa Hara-hara,
berarti pulau liar. Mengingat karya itu ditulis dua ratusan tahun lalu, dapat
dibayangkan pulau Jawa yang dijumpai Raffles barangkali masih berupa tempat
yang belum terbangun seperti sekarang. Menghabiskan buku tebal itu akan makan
cukup banyak waktu.Tetapi kepuasan berkat informasi yang terkandung di dalamnya membuatku rela
begadang; aku seolah sedang membaca sebuah kisah tentang negeri yang asing.
Pikiran bahwa aku merasa sedang menggali informasi tentang sebuah negeri
‘asing’ saat membaca buku itu sebetulnya sangat mengangguku. Dan alasannya baru
aku pahami betul setelah baru-baru ini, karena keperluan pendidikan aku mesti
pulang pergi Sukabumi – Surabaya. Perjalanan panjang yang makan waktu hampir
seharian itu aku tempuh lewat jalur darat, menggunakan bus dan kereta. Rasanya
mudah sekali menebak apa yang ada dalam pikiran seseorang yang hidup seperti
katak dalam tempurung ini, yang karena suatu hal ia dengan enggan mesti menempuh
perjalanan jauh keluar dari tempat tinggalnya yang nyaman. Tempat tinggal yang
telah ditempatinya sapanjang umur.
Dalam
kereta aku melewati banyak daerah yang berderet-deret dari Jawa Barat hingga
Jawa Timur, kebanyakan baru aku ketahui sebatas nama. Dua ratusan tahun lalu
seorang tentara kerajaan Inggris bernama William Thorn terlibat dalam ekspedisi
militer di pulau Jawa—bentuk perjalannya jelas jauh
berbeda dengan yang aku lakukan— dan ia menulis memoar tentang
pengalamannya yang tidak terlupakan itu. Yang menjadi perhatianku adalah
komentarnya tentang Jawa. Ia menyesalkan pulau yang kaya raya itu begitu tidak
terbangun padahal Belanda telah mengukuhkan kekuasaan selama beberapa generasi.
Katanya, orang-orang Belanda begitu tergesa-gesa meraup sebanyak-banyaknya
sumber alam tanpa menunjukan keseriusan untuk membangun pulau yang telah
menjadi sumber penting bagi kemakmuran negeri mereka di seberang lautan.
Kajian-kajian demi memuaskan pengetahuan akademik atas Jawa amat jarang
dilakukan, bahkan yang sifatnya menguntungkan bagi kegiatan eksplorasi. Berbeda
jika dibandingkan dengan pemerintah Inggris yang dalam waktu singkat saja telah
mengumpulkan informasi secara mendetail, salah satu yang hingga kini masih
relefan tersusun secara cermat dalam buku karangan Raffles yang aku sebutkan di
awal. Buku yang dipersembahkan untuk Maharaja itu, yang menunjukan keseriusan
orang-orang Inggris dalam memuaskan keingintahuan akademik mereka (entah apapun
tujuan sebenarnya), sungguh-sugguh membuatku merasa malu karena sepanjang
perjalananku di kereta, aku menyadari begitu sedikit yang aku tahu tentang
pulau tempat aku menghabiskan waktu seumur hidup ini.
Sejak
aku mulai membaca sejarah, terutama tentang bangsa Eropa di sekitar abad 16
yang menjelajah laut untuk menemukan tempat-tempat baru, aku dipenuhi rasa
kagum pada bangsa itu, yang meski pada tahap selanjutnya kedatangan mereka
turut juga membawa bencana bagi masyarakat pribumi.
Penjelajahan
besar-besaran bangsa Eropa yang dalam berlangsungnya sejarah adalah satu babak
yang sangat penting, merujuk pada buku Mohammad
Hatta : politik, kebangsaan, ekonomi, merupakan sebab utama dari munculnya
kolonisasi atas negeri-negeri di Asia dan Afrika. Ada satu teori yang
menjelaskan hubungan antara nafsu menjelajah bangsa Eropa pada masa-masa itu
dengan kebiasaan manusia primitif. Hatta
mengutip dari seorang sarjana Jerman bernama Gustav Klemm, yang menurut
hipotesisnya, keinginan sekumpulan orang (masyarakat, bangsa, dan sebagainya)
untuk melakukan ekspansi bermula dari kecenderungan penghuni dataran tinggi
yang lebih aktif dan maju, dalam mengekspansi masyakat dataran rendah pemilik
sumber daya alam melimpah yang lebih cinta damai meski kurang maju. Pada saat
mereka (masyarakat dataran tinggi) telah berhasil menguasai masyarakat dataran
rendah dan keinginan untuk terus berekspansi akhirnya terhalang lautan, mereka
mulai berpikir untuk menyebaringinya. Jejak penjejahan mereka di lautan kini
dipercaya sebagai cikal bakal jalur pelayaran modern.
Faktor
yang menyebabkan masyarakat dengan peradaban maju melakukan ekspansi menurut
Klemm sebetulnya amat sederhana, hanya terdiri dari beberapa dorongan yaitu, urge of
possession, urge of fame, urge for something new, urge of collectivity,urge of
freedom, dan terakhir (dan rasanya yang paling utama), overpopulation. Di sini jelas terlihat bahwa tampaknya, kelebihan
populasi, sejak masa-masa awal peradaban telah menjadi persoalan yang coba
manusia urai. Melakukan migrasi dan membentuk koloni di ‘negeri baru’ sepertinya
menjadi solusi menjanjikan, yang menurut Klemm juga merupakan motif, meski
dalam bentuk yang berbeda, terjadinya kolonisasi baru yang dilakukan
pertama-tama oleh bangsa Spanyol dan Portugis.
Akan
tetapi, Hatta punya keyakinan bahwa
kolonisasi modern tidak bisa dijelaskan dengan hipotesis itu. Apa yang melatari
kolonisasi modern (atau ‘penjajahan’ dalam bahasa yang lebih familiar di
telinga kita) menurutnya jauh lebih kompleks dari pada sekedar
dorongan-dorongan itu. Masyarakat modern, menurut Hatta, tidak akan serta
merta, tanpa motif-motif yang lebih mendalam,
mengambil risiko terlibat dalam ‘petualangan penuh marabahaya’.
Mengutip
kata-kata yang Mohammad Hatta tulis, mencari sebab-sebab kolonisasi hampir sama
tuanya dengan kolonisasi itu sendiri. Dan lagi-lagi para peneliti menghasilkan
fakta dan sebabnya yang utama, yaitu konflik. Dan apapun pandangan kita
sekarang, faktor konflik tetaplah yang menentukan. Kalimat itu seolah
memberi tahu kita bahwa akan sangat panjang jika membahas sebab-sebab kolonisasi modern
disini. Aku sebetulnya bukan bermaksud untuk membahas hal itu dan lagi pula,
dalam buku yang kini mudah untuk didapat itu,
Hatta menguraikan persoalan kolonisasi (terutama yang dilakukan Belanda
atas Indonesia) dengan sangat lengkap serta memuaskan.
Ada
satu lagi opini dalam buku itu terkait dorongan bangsa Eropa melakukan
penjelajahan. Kutipan ini adalah inti dari argumen Jules Harmand yang Hatta
rujuk, “area-area yang luas dan subur di
dunia bakal hilang bagi ‘kita’ (Maksudnya bangsa Eropa yang beradab) dan bagi
kemanusiaan (dalam sudut pandang bangsa Eropa saja!) karena ketidakmampuan
orang-orang yang berdiam diri di sana dan karena salah pengelolaan mereka
atasnya bila sumber alam itu dibiarkan mereka kelola sendiri”.
Tentunya
Harmand menyadarai bahwa tindakan mendominasi orang lain meski tujuannya ‘mengelola
sumber daya alam demi kemanusiaan’ merupakan tindakan terkutuk. Ia mengatakan
bahwa tindakan itu, imoralitas yang terpaksa dilakukan, tidak lain adalah wujud
the
universal struggle for life. Pembenaran yang dilakukan orang-orang Eropa
atas dominasi terhadap bangsa lain serta alasan-alasan yang mereka anut, tentunya bersifat sangat urgen
ketimbang dorongan-dorongan dalam hipotesis Klemm, bahkan mereka harus
mengabaikan sisi kemanusiaan. Hal yang sungguh paradoks jika memperhatikan asas
hidup mereka yang mengedepankan ‘keberadaban’. (berlanjut)
Khayalan
Aku kemarin selesai membaca sebuah esai yang dibuat Sigmund Freud berkaitan dengan inspirasi, khayalan, dan mimpi. Dalam pembahasan yang tidak panjang lebar itu, aku paling tertarik pada bagian bagaimana seorang penulis dapat menemukan isnspirasinya, membentuk khayalannya menjadi semacam ‘kenyataan’ yang dipercayai oleh pembaca sungguh-sungguh terjadi. Kita memang menyadari bahwa apa yang berlangsung di dalam cerita fiksi hanyalah karangan semata. Tapi bahkan kebohongan yang paling murahan sekalipun tidak membuat kita begitu saja melempar buku tersebut, apalagi saat kita sudah terlanjur tenggelam dalam cerita. Saat aku mencoba menyimpulan maksud esai itu, mendadak aku tersenyum seorang diri, dan mulai mengagumi bagaimana aku bisa melewatkan pemikiran yang begitu mudahnya untuk dipahami itu. (isi esai tersebut bukan hanya membicarakan masalah fiksi, tetap bagian itu yang paling mudah aku asosiasikan pada kepribadianku.)
Secara kebetulan, tidak lama sebelum menemukan esai itu, aku membaca sebuah majalah sains populer. Aku terkejut pada fakta bahwa banyak sekali penemu yang menciptakan benda-benda hebat dari pikiran sederhana yang ia kembangkan secara otodidak. Pada saat aku membaca fakta itu, aku sedang dilanda perasaan murung bahwa barangkali usahaku selama ini dalam mendalami fisika bangunan, yang sebagain besar aku nikmati sepenuh hati, tidak akan banyak gunanya, mengingat bahwa di lapangan kerja orang-orang bertindak atas logika yang tidak dibangun oleh pendidikan tinggi yang didapat di bagku kuliah. Bahkan beberapa atasan yang aku kenal secara terbuka mengunggkapkan bahwa ‘engineering judgment’ yang ia lakukan semata-mata instuisi belaka yang dibangun oleh pengalaman nekat terjun langsung dengan tangan kosong dan pengetahuan alakadarnya ke lapangan. Aku sepintas merasa ngeri saat menatap menara beton yang rupanya dibangun oleh tangan-tangan nekat nan berpengalaman itu.
Kembali pada persoalan para penemu, aku sedikit terkejut saat membaca sejarah alat perekam suara, yang inspirasi atas temuan itu hanya berdasarkan pada pemikiran sederhana, bahwa sebuah membran yang bergetar karena suara nyaring (contohnya nyanyian), dapat dimanfaatkan untuk meggerakan semacam pena yang selanjutnya akan menggores kertas tertentu, sehingga suara dapat ‘dicatat’. Untuk menghasilkan suara imitasi, cukup membalik alurnya. Tugas sulit yang tersisa tinggal menemukan membran yang paling bagus dalam besuara mirip manusia. Kemudian cerita melompat menuju berabad-abad sebelumnya dan aku disuguhi lukisan pemuda berambut aut-autan tengah menatap apel dengan ansusias. Lalu cerita tentang orang yunani kuno yang belari telanjang di jalan dan berteriak eureka. Aku tidak akan membahas majalah sains populer itu secara panjang lebar.
Dalam kaitannya dengan sulitnya membangun motivasi diri, esai yang aku baca kemarin, serta majalah sains populer anak-anak yang iseng-iseng aku buka di perpustakaan, tampaknya merupakan semacam pertolongan Ilahi yang selama ini aku cari-cari dalam masa transisi yang aneh setelah aku menyelesaikan studi diploma di perguran tinggi. Aku merasa sangat berdosa saat menyadari selama ini aku mengabaikan nasihat universal itu, bahwa disaat-saat sulit dan membingungkan, pertama-tema kita seharusnya 'mencari' pada hal-hal kecil dan sederhana. Aku memiliki tujuan yang begitu jauh melampaui kata ‘realistis’, yang bahkan terkadang aku sendiri malu mengungkapkannya dalam sebuah do’a malam hari. Tujuan itu begitu besarnya sehingga dalam masa transisi tanggung ini, aku merasa seperti semut yang memandangi kaki manusia dari jarak satu sentimeter. Aku ngeri saat mendapati diriku yang terkadang meragukan kemampuannya sendiri, hanya karena takut pada tujuan yang aku buat dan khayalan yang aku ciptakan tanpa menindahkan kata ‘realistis’ jauh-jauh hari.
“Coba kita berkenalan dengan beberapa segi dari berkhayal. Kelihatannya orang yang bahagia tidak berkhayal, tetapi orang yang tidak puas justru melakukannya. Motiv bekhayal adalah keinginan yang tidak tercapai, dan setiap khayalan adalah tercapainya keinginan, suatu perbaikan dari kenyataan yang ada. Keinginan itu berbeda-beda sesuai jenis kelamin, sifat, dan keadaan orang yang berkhayal, tetapi secara umum terdapat dua golongan. Pertama , keiginan ambisius, yang mengangkat kepribadian subjek—dan yang kedua, keinginan erotis.” –Sigmund Freud.
Kalimat itu agak mengerikan, kurasa, jika mengingat bagaimana orang bisa begitu keranjingan dalam berkhayal sampai tidak mampu lagi memebedakannya dengan kenyataan. Tetapi hingga kini, aku selalu mendapati diriku berada dalam situasi yang memungkinkanku untuk berkhayal tanpa merasa menyesal atau malu. Anehnya aku tidak berani mengungkapkan khayalan-khayalan itu bahkan pada Tuhan sekalipun.
Fakta yang baru aku sadari belakangan itu memberiku sebuah kesimpulan sederhana. Barangkali aku hanya perlu mengumpulkan dan menyusun berbagai tujuan-tujuan praktis kecil-kecilan sehingga aku tidak perlu lagi merasa akan ditertawakan karena mungungkapakan tujuan-tujuan itu. Memulainya dengan kegiatan seperti menyusun semua tulisan yang kubuat, mengobrol dengan sebanyak mungkin tema lama yang kini sedang sama-sama berjuang dalam jalan masing-masing, atau membaca tulisan-tulisan beberapa orang teman dekat yang begitu jauh, mungkin akan mengakhiri saat-saat membingungkan ini.
-30 Ramadhan-
Secara kebetulan, tidak lama sebelum menemukan esai itu, aku membaca sebuah majalah sains populer. Aku terkejut pada fakta bahwa banyak sekali penemu yang menciptakan benda-benda hebat dari pikiran sederhana yang ia kembangkan secara otodidak. Pada saat aku membaca fakta itu, aku sedang dilanda perasaan murung bahwa barangkali usahaku selama ini dalam mendalami fisika bangunan, yang sebagain besar aku nikmati sepenuh hati, tidak akan banyak gunanya, mengingat bahwa di lapangan kerja orang-orang bertindak atas logika yang tidak dibangun oleh pendidikan tinggi yang didapat di bagku kuliah. Bahkan beberapa atasan yang aku kenal secara terbuka mengunggkapkan bahwa ‘engineering judgment’ yang ia lakukan semata-mata instuisi belaka yang dibangun oleh pengalaman nekat terjun langsung dengan tangan kosong dan pengetahuan alakadarnya ke lapangan. Aku sepintas merasa ngeri saat menatap menara beton yang rupanya dibangun oleh tangan-tangan nekat nan berpengalaman itu.
Kembali pada persoalan para penemu, aku sedikit terkejut saat membaca sejarah alat perekam suara, yang inspirasi atas temuan itu hanya berdasarkan pada pemikiran sederhana, bahwa sebuah membran yang bergetar karena suara nyaring (contohnya nyanyian), dapat dimanfaatkan untuk meggerakan semacam pena yang selanjutnya akan menggores kertas tertentu, sehingga suara dapat ‘dicatat’. Untuk menghasilkan suara imitasi, cukup membalik alurnya. Tugas sulit yang tersisa tinggal menemukan membran yang paling bagus dalam besuara mirip manusia. Kemudian cerita melompat menuju berabad-abad sebelumnya dan aku disuguhi lukisan pemuda berambut aut-autan tengah menatap apel dengan ansusias. Lalu cerita tentang orang yunani kuno yang belari telanjang di jalan dan berteriak eureka. Aku tidak akan membahas majalah sains populer itu secara panjang lebar.
Dalam kaitannya dengan sulitnya membangun motivasi diri, esai yang aku baca kemarin, serta majalah sains populer anak-anak yang iseng-iseng aku buka di perpustakaan, tampaknya merupakan semacam pertolongan Ilahi yang selama ini aku cari-cari dalam masa transisi yang aneh setelah aku menyelesaikan studi diploma di perguran tinggi. Aku merasa sangat berdosa saat menyadari selama ini aku mengabaikan nasihat universal itu, bahwa disaat-saat sulit dan membingungkan, pertama-tema kita seharusnya 'mencari' pada hal-hal kecil dan sederhana. Aku memiliki tujuan yang begitu jauh melampaui kata ‘realistis’, yang bahkan terkadang aku sendiri malu mengungkapkannya dalam sebuah do’a malam hari. Tujuan itu begitu besarnya sehingga dalam masa transisi tanggung ini, aku merasa seperti semut yang memandangi kaki manusia dari jarak satu sentimeter. Aku ngeri saat mendapati diriku yang terkadang meragukan kemampuannya sendiri, hanya karena takut pada tujuan yang aku buat dan khayalan yang aku ciptakan tanpa menindahkan kata ‘realistis’ jauh-jauh hari.
“Coba kita berkenalan dengan beberapa segi dari berkhayal. Kelihatannya orang yang bahagia tidak berkhayal, tetapi orang yang tidak puas justru melakukannya. Motiv bekhayal adalah keinginan yang tidak tercapai, dan setiap khayalan adalah tercapainya keinginan, suatu perbaikan dari kenyataan yang ada. Keinginan itu berbeda-beda sesuai jenis kelamin, sifat, dan keadaan orang yang berkhayal, tetapi secara umum terdapat dua golongan. Pertama , keiginan ambisius, yang mengangkat kepribadian subjek—dan yang kedua, keinginan erotis.” –Sigmund Freud.
Kalimat itu agak mengerikan, kurasa, jika mengingat bagaimana orang bisa begitu keranjingan dalam berkhayal sampai tidak mampu lagi memebedakannya dengan kenyataan. Tetapi hingga kini, aku selalu mendapati diriku berada dalam situasi yang memungkinkanku untuk berkhayal tanpa merasa menyesal atau malu. Anehnya aku tidak berani mengungkapkan khayalan-khayalan itu bahkan pada Tuhan sekalipun.
Fakta yang baru aku sadari belakangan itu memberiku sebuah kesimpulan sederhana. Barangkali aku hanya perlu mengumpulkan dan menyusun berbagai tujuan-tujuan praktis kecil-kecilan sehingga aku tidak perlu lagi merasa akan ditertawakan karena mungungkapakan tujuan-tujuan itu. Memulainya dengan kegiatan seperti menyusun semua tulisan yang kubuat, mengobrol dengan sebanyak mungkin tema lama yang kini sedang sama-sama berjuang dalam jalan masing-masing, atau membaca tulisan-tulisan beberapa orang teman dekat yang begitu jauh, mungkin akan mengakhiri saat-saat membingungkan ini.
-30 Ramadhan-
LABEL
- Opini (6)
- Poet. (6)
- Rambling (35)
- Teknik Sipil (5)
- Travel Journal (14)