Tampilkan postingan dengan label Travel Journal. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Travel Journal. Tampilkan semua postingan

Penutup bulan ini

Senin ini aku datang ke Bandung terlalu pagi, Jam 4.30. Semestinya aku tiba 30 menit lebih awal kalau kereta tidak mengalami gangguan kecil. Surabaya sudah 12 jam di belakang dan rasa-rasanya dalam waktu lama aku tidak akan ke sana lagi. Bertahun-tahun banyak hal terjadi di sana. Masa perkuliahan yang begitu ingin aku ulangi lagi, upayaku bekerja serabutan pasca wisuda agar tidak buru-buru pulang ke Sukabumi dan resmi menjadi penganggur, pertemanan yang begitu kental, lingkungan yang baik, masa-masa itu aku tutup dengan satu perjalanan di penghujung Ramadhan.
Kereta punya sistem pendingin yang kurasa sedikit berlebihan, tetapi untuk kasus ini aku pikir ia jadi semacam 'penghangat' karena begitu keluar gerbong, udara Bandung membuatku harus membongkar tas dan mengambil jaket. Walaupun sama-sama dingin, selisih keduanya membuat gerbong jadi terasa lebih nyaman. Berjalan-Jalan di stasiun aku merasa lebih hangat karena lorong dipenuhi orang-orang yang baru selesai sahur.
Besok adalah hari lebaran dan aku mesti melanjutkan perjalanan ke Sukabumi untuk pulang. Lantaran telat membeli tiket travel, satu-satunya kursi tersisa yaitu mobil yang berangkat jam 10 pagi. aku mencoba berlama-lama di stasiun tapi hanya tahan sampai jam 5.30. Baru setelah itu aku berpikir untuk datang saja dulu ke Balubur Town Square karena Travel sudah buka dari jam 5. Aku mestinya bisa menitipkan satu koper besar dan back pack lantas jalan-jalan sebentar.
Balubur masih gelap, tentu saja. Tapi di rubanah sebagian kios-kios sudah buka. Travel berada di salah satu pojok yang langsung menghadap ke kolong fly over Pasopati. Aku mengobrol sebentar dengan seorang pegawai sebelum minta ijin menitip barang. "Saya mau ke ITB dulu sebentar." Kataku. Pegawai travel mengecek status tiketku sebelum membolehkan aku menitipkan koper besar dan back pack. ITB cukup ditempuh 10 menit berjalan kaki. Aku berniat mengunjungi Masjid Salman untuk tidur.
Besok sudah lebaran saja, pikirku (baru belakangan aku tahu Ramadhan digenapkan dan lebaran diundur jadi hari Rabu). Bandung jadi terasa sepi sekali (Daerah itu jarang sepi). Di jalan depan ITB tidak tampak ada orang atau kuda (biasanya banyak kuda untuk wisatawan, atau barangkali aku jalan terlalu pagi). Begitu memasuki lingkungan masjid salman, keramaian membuatku berpikir ada yang dengan sengaja menumpahkan orang-orang di tempat itu. Awalnya aku ingin tidur di dalam, alih-alih bergabung dengan ratusan orang yang sedang 'Itikaf'.
Aku duduk itikaf di dalam ruangan masjid, tetapi telah sama sekali lupa apa yang awal bulan Ramadhan ini aku rencanakan. Aku ingat salah satunya adalah selesai membaca seluruh ayat Al-quran lengkap dengan terjemahannya. Tapi aku mendapati selama sebulan ini pembatas baru mencapai surat Maryam. Aku tidak ingat berhenti di ayat yang mana dan memilih mulai di ayat tentang Maryam membawa bayi Nabi Isa A.S yang berbicara dan membuat Bani Israil tercengang. Jika membaca terus sampai tengah malam nanti barangkali rencanaku menghabiskan satu Al-Quran penuh bisa tercapai.
Selesai membaca seluruh Surat Maryam aku sangat mengantuk dan pergi ke pojok untuk tidur. Sesaat sebelum berhenti membaca aku beroleh satu kesan yang rasanya persis seperti saat aku telah menyelesaikan satu semester kuliah : Tinggal satu tugas kecil terakhir mata kuliah 1 SKS yang belum aku kumpulkan, tetapi aku kerjakan ogah-ogahan lantaran sehebat apapun nilaiku di tugas ini tidak akan memberi efek banyak pada nilai akhir.
Aku menghela nafas. 'Sudahlah!', lantas memasukan mushaf dan menyetel alarm pukul 9.30. Kupikir sebagian orang di masjid yang tidur setelah itikaf semalaman saat ini tengah bermimpi yang indah-indah. Aku nimbrung bersama mereka. Tapi Jam 8.30 terbangun karena dari pengeras suara ada pemberitahuan bahwa kajian akan dimulai. Masjid seketika menjadi rapi dan tahu-tahu semua orang telah duduk menghadap proyektor besar.
Ya ampun! kenapa orang-orang ini tidak pulang dan siap-siap saja buat besok lebaran. Aku penasaran apa yang hendak orang bicarakan di ujung Ramadhan selain besok adalah hari Lebaran
.
Masih cukup lama sampai jadwal keberangkatan. Aku memutuskan ikut kajian sampai 9.30.
Pagi itu adalah jadwal tafsir Al-Quran. Setengah jam aku menunggu sampai kajian mulai. Begitu kajian di buka, orang-orang di sekitarku telah siap dengan Mushaf dan tanpa diberi intruksi membuka satu ayat untuk melanjutkan kajian sebelumnya. Saat tahu mereka baru mencapai pertengahan Surat Yusuf, aku langsung merasa pencapaianku yang hanya sampai surat Maryam tidak jelek-jelek amat.
Pembicara siap dengan laptop dan proyektor. Di benakku telah muncul potongan-potongan kisah Nabi Yusuf. Apapun yang Ia bicaran kurasa tidak akan jauh dari apa yang pernah aku dengar.
Alih-alih membicaran ayat yang dimaksud, Ia mulai dengan bercerita hari kematian Nabi Muhammad SAW. Apa yang ia ceritakan sudah sering aku dengar : Umar bin Khatab R.A murka dan mengancam untuk membunuh siapapun yang mengatakan Rasul Wafat hanya untuk mendapati Abu Bakarlah yang mengucapkan berita itu, Kota Madinah mendadak mencekam dan semua sahabat tersungkur dalam duka karena merasa mustahil Rasul meninggalkan mereka 'begitu saja', dan seterusnya dan seterusnya.
Kadang aku mendengar kajian dengan pembicara seperti ini. Ada satu hal yang ia tekankan dicaranya berbicara (mungkin nada bicara atau apapun itu). Yang mengherankan Ia berhasil menyampaikan satu hal tanpa mengesani bahwa semua orang sebetulnya telah tahu apa yang Ia bicarakan.
Aku mendengar beberapa orang di dekatku menahan diri untuk tidak menangis ketika pembicara sampai pada bagian Abu Bakar ash-Shiddiq Radhiyallahu ‘anhu membacakan satu buah ayat, yang menurut banyak riwayat entah kenapa semua sahabat lain merasa ayat ini tidak pernah ada dalam Al-Quran. Pembicara menirukan kejadian itu dengan seksama, membacakan ayat yang dimaksud, Surat Ali-Imron-144, dan Ia mengakhiri kisah dengan mengatakan bagaimana semua sahabat tidak bisa berhenti menangis mendengar ayat itu.
Aku menangkap kesan kisah itu dan kupikir pembicara ini sangat brilian memasukan konteks wafatnya Rasulullah dengan berakhirnya Ramadhan.
Ia menutup kisah singkat itu dengan berkata : Ingatlah, barangsiapa menyembah 'Ramadhan' Ia akan segera pergi, dan barangsiapa menyembah pemilik Ramadhan, maka Ia akan selalu ada di setiap bulan.
---
Sedikit yang aku peroleh pagi itu. Tapi kadang-kadang prasangka bisa begitu saja berputar, atau mungkin memang sudah semestinya hal-hal kecil yang boleh berjalan menuju sesuatu teramat penting. Aku ingat ungkapan yang suatu hari aku temukan : 'singkaplah keset tua dan lihatlah apa yang ada di bawahnya'.
Aku tidak bisa berpuas diri dengan kajian singkat yang hanya bisa aku ikuti separuhnya. Seseorang dari travel menelfon. Karena tidak aku angkat Ia mengirim pesan "Bapak jadi berangkat atau tidak?".
Aku balas singkat. "Jadi." Kemudian berjalan gupuh menuju Baltos. Setelah selesai memakai sepatu, dari pengeras suara aku mendengar pembicara baru mulai membahas surat Yusuf.

3 Syawal

Memperbaharui Resolusi

--Tulisan ini sebetulnya aku buat lebih dari setahun lalu. Aku sedang berada di dalam Bus kramat djati yang merayap menuju Jakarta. Surabaya sudah tertinggal 7 atau 8 jam dan aku tidak bisa tidur karena suara mesin--


(2 atau 3 Januari tahun lalu)

Aku pernah meyakini bahwa menulis adalah usaha menjaga kewarasan. Jika demikian, maka selama berbulan-bulan kewarasanku pastinya terganggu, dan barangkali akan butuh usaha sulit untuk mengembalikannya ke jalur normal. Tetapi ternyata tidak seperti itu. Kesukaran hidup, tantangan, dan kesedihanlah yang justru menjaga diri kebanyakan orang tetap pada jalur. Aku pernah menertawakan pikiran semacam itu. Mencemoohnya dan bersikeras bahwa kebahagiaan, kemudahan, dan ketenanganlah yang mampu membawa seseorang pada kewajaran.

Awalnya aku menulis karena perasaan resahku yang selalu minta untuk disalurkan. Semua orang mempunyai perasaan resah dan masing-masing punya cara bagaimana menghilangkannya (sering kali menyalurkannya). Sebagian orang mulai menulis untuk mengubah perasaan resah menjadi semacam energi penggerak ide-ide di kepalanya. Beberapa orang menyarlurkannya begitu rupa dalam bentuk lain yang lebih sigifikan hingga akhirnya menjadi faktor pembentuk dunia seperti adanya sekarang. Sejarah dunia bergerak akibat perasaan resah yang kelewatan membuat sadar segelintir orang hingga satu-satunya cara untuk lepas darinya adalah melakukan tindakan-tindakan diluar jangkauan orang-orang kebanyakan. Penyaluran perasaan resah nyatanya telah menjadi sumber dari banyak berlangsungnya hal-hal besar. Bagaimana mungkin Muhammad SAW akan menjadi Rasul jika hidupnya tenang-tenang saja? Family man yang sedang menikmati kesuksesannya sebagai pengusaha ini justru menjauh pergi ke atas bukit selama berminggu-minggu. Atau bagaimana Adolf Hitler membangkitkan Jerman sehingga maju ke urutan puncak padahal semula dianggap negara sakit yang bangrut pasca PD1, kalau ia hidup nyaman sepanjang umur mudanya di kampungnya di Austria. Berleha-leha atas keberhasilan karirnya sebagai seniman. Faktanya Hitler nyaris menggelandang dan mesti bersusah-susah hidup dengan lukisan-lukisannya yang ia jual murah di jalan-jalan kota Berlin. Dalam Most Notably of 100 –nya Michael H.Hart saja masih ada 98 orang lain lagi yang jika mau aku tulis singkat satu-satu disini akan sangat membosankan jadinya.

Menerima kenyataan bahwa mayoritas manusia (aku termasuk didalamya) adalah pribadi yang ‘biasa-biasa’ saja, menurutku adalah penemuan paling penting saat aku masuk usia 20-an. Sebelum itu aku kerap menatap ke kejauahan melalui jendela. Dihadapanku merupakan hal yang sungguh-sungguh besar, dan di kaca jendela terpantul samar bayanganku yang nyata sekali terlihat begitu menyedihkan sekaligus arogan dan dipenuhi keinginan-keinginan serta ambisi yang sebagian telah berumpuk-tumpuk terlupakan. Jika dua pemandangan kontras itu (dunia yang besar dan bayanganku yang buruk sekali) berbaur menjadi gambar yang saling menumpuk pada mataku, aku merasa ingin kembali pada ibuku segaimana sering aku lakukan saat masih kecil dan mulai menangis tanpa sedikitpun merasa malu.

Menulis seharusnya bukanlah lagi menjadi usaha menjaga kewarasan tetapi menjadi salah satu cara untuk menghindari rasa malu. Aku malu pada semua hal yang ada disekitarku, pada Tuhan, pada Ibuku, pada Bapakku, setiap kali aku berdiri di dekat jendela dan mulai menatap keluar sedangkan bayanganku terpantul pada kaca, sebuah tubuh yang selama ini menjadi ruang jasmani yang aku tempati, dan berisi benak serta kepribadian ini. Ketika aku melihat dengan teliti pantulan tubuhku pada kaca, pertama-tama muncul perasaan bahwa aku tidak mengenali sosok itu. Aku terhenyak karena begitu yakin bahwa aku merupakan sebuah sudut pandang, atau sebuah kamera yang melayang-layang yang tengah menyoroti orang tersebut. Lalu pada satu titik ketika sudut pandang berhenti bergerak dan kamera menyorot bagian matanya dan mulai membeku, aku mulai menyadari bahwa sebentuk tubuh ini merupakan “aku”.

Begitulah bagaimana aku melalui tempat jasmani yang selama ini semua orang kenal sebgai “aku”, akhirnya mulai menerawang jauh dan meneliti dengan seksama waktu yang telah aku lewati. Aku membayangkan (mengharapkan) diri berada pada tubuh ini bertahun-tahun yang lalu, akan tetapi dengan kesadaran yang aku punya saat ini. Kesadaran seorang yang telah berumur 23 tahun berada pada bentuk jasmaninya yang baru berusia belasan. Saat itulah aku mulai merasa malu karena berharap pada masa lalu dan merubahnya sesuai seperti yang aku inginkan, alih-alih berharap pada titik sekarang, dimana tubuh “aku” tengah berada dan merasakan dengan penuh puncak eksistensinya.

Kadang-kadang, dari jendela sebuah ruangan aku melamun pada deretan sepeda motor yang salah satunya adalah milikku. Udara di ruang itu terasa asing saat aku mulai membayangkan diriku mencapai tempat parkir (kenyataanya aku masih di dalam ruangan). Aku membayangkan sedang berjalan keluar ruangan, mengangguk pamit pada penjaga perpustakaan, meraih motor di parkiran, menyalakannya, lalu melesat sembari merenungkan betapa ratusan pengendara motor lain melewatiku begitu saja setiap harinya. Aku dengan kesadaran yang aneh merasakan tubuh yang sedang menghadap jendela adalah tubuh yang saat ini sedang duduk di kendaraan, terguncang-guncang di jalan. Satu menit kemudian aku telah benar-benar berada di atas motor, melasat melaui jalan-jalan paving block. Berpapasan dengan pengendara-pengendara motor lain. Apa yang membedakan antara diriku pada satu menit sebelumnya adalah perasaan yang melingkupku. Hanya pikiranlah yang merasakan banyak hal secara khas saat ia dikatikan dengan waktu yang sedang terjadi tatkala tubuh mengalami pengalaman yang nyata. Perbedaan itu seperti pikiran tubuh basah kuyup dan kenyataan bahwa tubuh benar-benar basah kuyup; pikiran (angan-angan) tubuh sedang menikmati sesuatu dan kenyataan bahwa ia sedang benar-benar menikmati itu. Hanya saja, satu hal yang membuatku merasa ngeri adalah betapa seringnya rasa takut, khawatir, malu, memenuhiku tanpa mempedulikan apakah ia hanya berupa pikiran atau sunggu terjadi.

Menerima kenyataan bahwa mayoritas manusia (aku termasuk didalamya) adalah pribadi yang ‘biasa-biasa’ saja, menurutku adalah penemuan paling penting saat aku masuk usia 20-an. Karena saat diri mau lebih sering berbaik-baik pada dirinya sendiri, tidak berkutat pada rasa khawatir, tidak ‘gupuh’ mengejar resolusi yang setiap awal tahun selalu diperbaharui hanya untuk disesali pada akhir Desember, ia akan mulai memahami bahwa peran kecilnya di kehidupan ini patut dinilai tinggi, dan bahwa 100 orang saja dalam daftar Michael H. Hart sudah cukup.

Tainan

02-05 September 2018

Perjalanan ini berlangsung sebelum wisuda. Aku yakin ini terakhir kalinya sebelum aku meninggalkan kampus. Tapi aku bersyukur Taiwan bisa aku kunjungi lagi akhirnya. Andy kebetulan tinggal di Tainan sehingga aku bisa menghabiskan satu malam menelusuri kota itu.







Singapore #Jurnal perjalanan sebelum wisuda

Aku jarang ingin jalan-jalan. Hanya saja sesekali kesempatan datang dan cukup menyenangkan jika bisa merasakan atmosfir berbeda. Aku mungkin berdiri di tempat yang sama dengan seorang kolonel Inggris ratusan tahun lalu yang tidak menyadari betapa negeri yang jauh dari tempatnya tinggal, yang jadi semacam alat penyadap di pucuk pohon yang tingginya puluhan meter demi meraup cairan manis, akan menjadi begini hebatnya.



Aku harusnya di foto dengan latar patung


Maksdunya patung ini. Tidak se 'hebat' kelihatannya. Alih-alih singa, aku medapat kesan lain. Entahlah, mungkin kucing berukuran besar yang makmur dan suka dielus.


Aku repot-repot ke India Town untuk mendapat makanan halal. 


Lab Exchange, Mei - Juli 2018

Aku hendak membuat semacam jurnal perjalanan selama masa pertukaran pelajar di Jepang. Banyak hal terjadi, sayangnya aku tidak cukup sadar atau punya waktu untuk mengabadikan semuanya dalam foto.




Aku sempat tertahan di imigrasi selama 1 Jam. Petugas menelfon kampus Shibaura sebelum mengijinkanku 'masuk' ke Jepang. Mungkin mereka curiga lantaran aku membuat visa Visitor, alih-alih pelajar.





Untuk membayar sewa kamar aku harus pergi ke daerah Shinjuku. Musim semi akhir udara cukup dingin dan hujan sering turun. Aku terlalu terlambar untuk menyaksikan bunga Sakura yang kabarnya sudah berminggu-minggu lalu berguguran. 





Kabukicho adalah kantung prostitusi terkenal di Tokyo. Aku harus masuk area itu lantaran perlu mendatangi satu-satunya masjid yang bisa aku temui. 


Halaman depan Masjid Al Ikhlas Kabukicho


Suasana di dapur masjid, beberapa orang memasak untuk buka puasa



Sebagian besar yang datang ke masjid adalah pekerja dari Indonesia. Aku tidak heran makanan yang dibuat aku kenali semuanya.





Aku dapat kamar sempit, tapi lengkap dengan AC, TV, dan Kulkas. Menurut orang-orang di sana itu adalah standar minimum kamar untuk mahasiswa. Pukul 11 malam aku baru sampai kamar dan ibuku terus-menerus menelfon lantaran aku belum memberinya kabar. Ia sedang siap-siap memasak untuk sahur (Di Indonesia sudah hampir jam 3 pagi). Begitu sampai aku mengirim foto ini, "Just in touch safely.." kataku, Ia pasti sangat lega karena takut aku berakhir di sebuah kapal sebagai korban human trafficking. Untuk membuatnya fokus memasak aku mempercepat perbincangan itu dengan melewatkan cerita tersesat selama lebih dari satu jam berkeliling mencari dorm yang letaknya agak terpencil. Jepang sangat menakutkan di malam hari dan setiap taksi yang berusaha aku stop selalu menghindar. Aku paham karena banyak kasus kejahatan yang terjadi melibatkan orang asing. Pria Asia Tenggara kucel dengan banyak tas bawaan adalah orang terakhir yang pengemudi-pengemudi taksi itu ingin temui di atas jam 10 malam.




Buku "Note From Underground" nya Dostoyefsky dalam versi bahas Jepang ini aku peroleh dari apartemen temanku di dekat Shinjuku.


Aku kesulitan menuliskan caption untuk tiap-tiap foto yang ada. Tapi kejadian yang berlangsung tiap hari lambat laut membuatku bosan. Sebagian karena aku hanya menghabiskan waktu seorang diri.


Pasca kelas


Stasion Tokyo


kalau tidak salah professor menunjuk ke sebuah bangunan Tua


Aku lupa ini di mana


Base Isolator sebagai alat peredam gempa













Di belakang adalah menara sky tree


Di atas menara sky tree


Agak susah cari makanan halal, akhirnya teman2 mengajaku makan ke restoran see food

Bukan coca-cola, isinya semacam jus sayuran. 



Selanjutnya beberapa alasan kenapa aku datang ke Jepang, tidak banyak yg bisa dijelaskan. Tapi merasakan sedikit atmosfir pendidikan di sana membuatku sadar satu hal bahwa Indonesia sebetulnya tidak jauh tertinggal lantaran semua yang aku peroleh di sini tidak berbeda dengan apa yang aku peroleh di kampus ku di Surabaya











Reflux - Embargo

--Shibaura Institute of Technology, SIT.
   2 Syawal.. Sabtu 16 Juni 2018


Jose Samarago melalui 'Reflux' membuat analogi yang menarik tentang kehidupan satu negara. Setelah diam beberapa menit dan mencoba membaca ulang 'embargo', meninjau lagi beberapa hal penting dari simbol2 yang secara sederhana menjelaskan dengan begitu gamblang rapuhnya sebuah negara(kumpulan individu yang secara sistematis menentukan gerakan besar mekanis : mesin hukum  yang memiliki daya besar), dan bagaimana satu individu bisa terlibat dalam perasaan rawan yang menyeretnya menuju pikiran yang dilebih-lebihkan bahwa dirinya telah secara harfiah 'bersatu' dengan mobilnya, maka kalau saja semua negara penghasil minyak utama serentak bersekongkol menolak menjual barang paling pokok itu, seperti yang digambarkan lewat cerita kafkasque Samarago yang kelam, dunia bisa melorot menuju ketidakmampuan.

Embargo minyak, dengan demikian adalah sebentuk kajahatan kemanusiaan yang jika sebuah negara memutuskan melakukannya, akan menyeret keluar kembali keadaan yang lebih buruk dari depresi ekonomi paling parah yang pernah terjadi, kemudian manusia akan mati dengan konyol dalam mobil2 nya.
Kurang lebih pesan itu yang kutangkap dari cerita kelam 'embargo'.

'Reflux' tadinya ingin aku tunda esok hari. Tetapi Sabtu  dalam cuaca buruk tidak banyak yang bisa aku lakukan di tempat ini, dan aku sangat merindukan untuk bisa mengobrol. Hal itu begitu kecil kemungkinannya sekarang. Untung saja Jepang punya kebiasaan yang lain, sehingga aku bisa menghabiskan waktu di perpustakaan  walau pun hari minggu. Kupikir dalam cuaca seburuk ini orang2 akan enggan memasuki perpus, tetapi begitu masuk aku harus berjalan melalui beberapa lorong untuk memperoleh kursi kosong.

Reflux aku habiskan segera, dan setelahnya aku mengambil catatan lantas menggambar sebuah tabung reaksi.

Kurang lebih seperti ini deskripsi dari tabung yang aku gambar :

Tabung sebelah kiri, berisi air yang mengandung beragam hal. Saat dipanaskan, uap air murni akan bergerak melalui spiral. konsentrasi gas yang bergerak melewati media dengan suhu lebih rendah itu pelan-pelan terkondensasi, kemudian air yang murni lama2 masuk ke tabung kanan.

pada dasarnya dua tabung menampung air yang sama. Satu-satunya yang jadi perbedaan ialah tabung kiri telah menampung air jauh lebih lama dan entah karena hal apa lama-kelamaan kemasukan zat-zat kotor yang kini mengendap di dasar sebagai bentuk padat.

di dalam cerita yang yang sangat pendek itu, tidak ada sama sekali kalimat tentang tabung kiri atau tabung kanan.  Tapi waktu aku membaca keseluruhan kisah, dan penasaran mengapa  ia diberi judul seperti itu, aku segera mencari tahu makna 'reflux', dan tabung kiri-tabung kanan adalah apa yang aku pahami.

Nah, sekarang api dapat dianggap sebagai satu 'penyebab'; penyulut terjadinya hal-hal penting, yang selanjutnya bisa kita sebut reformasi, revolusi, perang, konflik atau apapun.

disinilah proses dimulai. kupikir tabung kanan pada akhirnya akan mulai tercemari, dan secara alami akan terjadi rangkaian sama, pada gilirannya 'reflux', lalu tabung ketiga kini berdiri sebagai perwujudan negeri yang baru, murni, memiliki semangat dan masa depan, mengenang tabung kedua yang berisi endapan 'sejarah'.


Surabaya, Beberapa hari sebelum Ramadhan

Jurusan Arsitektur ITS

Di sebuah jalan kota Bangkok dekat sungai yang jika kusebarangi akan tampak kuil besar

Dalam bus, kota Bangkok. Aku baru saja setuju menerima jasa Tour Guide


Rasa-rasanya aku ingin kembali dan menemui Bapak ini lagi sedang duduk di bis, setengah putus asa berbicara bahasa Inggris menawarkan jasa Tour Guide.

Saat berdiri di lantai dua gedung departemen teknik sipil, aku bisa melihat dengan jelas bangku-bangku beton di depan ruangan kelas departemen arsitektur yang kosong. Tempat itu selalu ramai. Tapi karena hari ini minggu tidak ada apa-apa yang bisa kulihat di situ. 
Awalnya aku berniat mengerjakan beberapa tugas kuliah yang seharusnya sudah selesai, kalau saja aku tidak pergi meninggalkan surabaya selama seminggu. Alih-alih duduk di depan laptop, aku malah berdiri di dekat pagar, tidak bisa berhenti memikirkan bagaimana selama 2 jam bapak yang duduk di bus itu menemani berkeliling di satu tempat di Bangkok. Sebelum pergi Ia berkata "give me little money, 20 Is oke." dan aku hanya memberikan 30 Baht (Sekitar 14 Ribu Rupiah)..

Saat pulang ke kamar asrama yang sepi hari minggu ini, aku mengambil amplop di tas, dan melamun pada uang koin sejumlah 120 baht yang tidak akan berguna (dan rasanya terlalu kecil untuk bisa ditukarkan lagi).  Aku berkesimpulan bahwa kebodohan adalah satu-satunya yang tepat untuk menjelaskan siapa manusia yang telah hidup 24 tahun lebih ini.

Bangkok - Musim Hujan

This blog is suppose to be a place where I merely put my thought. I have visited some places, mostly I never bother my self with spending time to make a journal (detail Journal with photos inside and caption). But Bangkok is quite different because as soon as I walked in the city, I kinda feel 'being at home', it was no different with ordinary Indonesia city like Jakarta, Surabaya, or Yogyakarta. 
I always being told that everything had happened in my life is not solely because of my merrit. It was because someone inspired me, and God want them to done that. I want to make this Journal as a reminder to their virtue.

---------------------


-- Bangkok National Archives (Inside)
In highschool, I told my family that I want to be a journalist. Of course my parrent didn't agree. I instead spending my time with stress behaviour of concrete and steel. 


-- Bangkok National Archives (Outside)
Just like in Indonesia, Thailander's (is it correct??)  building has unique and eccentric roofing style. 


-- Bangkok National Archives (Outside)
The birds like to crowding around people, for food of course.


-- Just street food court





-- Book Store
About 100 meters to my hostel where I spent the night, there is a book store. I got a IDR 40.000 good novel
























A little piece of Indonesia





























Remind me to Skywalk at Cihampelas Bandung





Delicate!