Tampilkan postingan dengan label Teknik Sipil. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Teknik Sipil. Tampilkan semua postingan

Lab Exchange, Mei - Juli 2018

Aku hendak membuat semacam jurnal perjalanan selama masa pertukaran pelajar di Jepang. Banyak hal terjadi, sayangnya aku tidak cukup sadar atau punya waktu untuk mengabadikan semuanya dalam foto.




Aku sempat tertahan di imigrasi selama 1 Jam. Petugas menelfon kampus Shibaura sebelum mengijinkanku 'masuk' ke Jepang. Mungkin mereka curiga lantaran aku membuat visa Visitor, alih-alih pelajar.





Untuk membayar sewa kamar aku harus pergi ke daerah Shinjuku. Musim semi akhir udara cukup dingin dan hujan sering turun. Aku terlalu terlambar untuk menyaksikan bunga Sakura yang kabarnya sudah berminggu-minggu lalu berguguran. 





Kabukicho adalah kantung prostitusi terkenal di Tokyo. Aku harus masuk area itu lantaran perlu mendatangi satu-satunya masjid yang bisa aku temui. 


Halaman depan Masjid Al Ikhlas Kabukicho


Suasana di dapur masjid, beberapa orang memasak untuk buka puasa



Sebagian besar yang datang ke masjid adalah pekerja dari Indonesia. Aku tidak heran makanan yang dibuat aku kenali semuanya.





Aku dapat kamar sempit, tapi lengkap dengan AC, TV, dan Kulkas. Menurut orang-orang di sana itu adalah standar minimum kamar untuk mahasiswa. Pukul 11 malam aku baru sampai kamar dan ibuku terus-menerus menelfon lantaran aku belum memberinya kabar. Ia sedang siap-siap memasak untuk sahur (Di Indonesia sudah hampir jam 3 pagi). Begitu sampai aku mengirim foto ini, "Just in touch safely.." kataku, Ia pasti sangat lega karena takut aku berakhir di sebuah kapal sebagai korban human trafficking. Untuk membuatnya fokus memasak aku mempercepat perbincangan itu dengan melewatkan cerita tersesat selama lebih dari satu jam berkeliling mencari dorm yang letaknya agak terpencil. Jepang sangat menakutkan di malam hari dan setiap taksi yang berusaha aku stop selalu menghindar. Aku paham karena banyak kasus kejahatan yang terjadi melibatkan orang asing. Pria Asia Tenggara kucel dengan banyak tas bawaan adalah orang terakhir yang pengemudi-pengemudi taksi itu ingin temui di atas jam 10 malam.




Buku "Note From Underground" nya Dostoyefsky dalam versi bahas Jepang ini aku peroleh dari apartemen temanku di dekat Shinjuku.


Aku kesulitan menuliskan caption untuk tiap-tiap foto yang ada. Tapi kejadian yang berlangsung tiap hari lambat laut membuatku bosan. Sebagian karena aku hanya menghabiskan waktu seorang diri.


Pasca kelas


Stasion Tokyo


kalau tidak salah professor menunjuk ke sebuah bangunan Tua


Aku lupa ini di mana


Base Isolator sebagai alat peredam gempa













Di belakang adalah menara sky tree


Di atas menara sky tree


Agak susah cari makanan halal, akhirnya teman2 mengajaku makan ke restoran see food

Bukan coca-cola, isinya semacam jus sayuran. 



Selanjutnya beberapa alasan kenapa aku datang ke Jepang, tidak banyak yg bisa dijelaskan. Tapi merasakan sedikit atmosfir pendidikan di sana membuatku sadar satu hal bahwa Indonesia sebetulnya tidak jauh tertinggal lantaran semua yang aku peroleh di sini tidak berbeda dengan apa yang aku peroleh di kampus ku di Surabaya











Pecahan-pecahan tidak berguna

Setelah melewati hampir 2 minggu  hingga bulan Februari berakhir, hari ini aku kembali mengikuti kelas pagi. Selama 2 minggu ke belakang aku menjalani aktivitasku yang penghabisan sebagai sukarelawan di satu kegiatan (satu-satunya yang aku sukai dari kehidupan kampus). Begitu kegiatan itu selesai dan aku memulai kembali kehidupan yang biasa-bisa ini, rasanya aku telah tertinggal 1 semester saat mendengarkan ceramah dosen tentang mekanisme tegangan yang berlaku di dalam beton prategang. Aku tidak pernah berminat membahas bidang keilmuan yang telah bertahun2 ini aku dalami, tetapi mendapati diriku seperti anak sekolah dasar yang tersesat di ruang kelas kedokteran membuatku merasa malu. Masih tersisa satu minggu untuk men-drop subjek ini. Aku berpikir panjang selama duduk, dan berkesimpulan bahwa aku masih sangat rasional jika mengambil opsi tersebut. Aku sebetulnya agak menyesal karena kehilangan banyak waktu padahal kuliahku yang tersisa tinggal 1 semester ini. Jika mengambil semua kelas pilihan yang aku mau, yang dulu tidak aku ambil lantaran malas, aku harus berada di kampus sepanjang hari, dari senin sampai rabu, seperti mahasiswa tingkat 1.

Sepanjang pagi ini aku terus menerus memikirkan bagaimana sebuah minat pada akhirnya mulai tumbuh dalam diriku, bahwa bidang keilmuwan yang aku geluti bertahun-tahun ini mesti menjadi jalan aku beroleh penghidupan. Jika mengingat beberapa tahun kebelakang, di awal masa kuliah pekerjaan yang kulakukan kebanyakan adalah menyesal habis-habisan karena memilih bidang ini.  Sekarang aku idak mengira bisa menyesal habis-habisan karena telah melewati banyak perkuliahan dengan ogah-ogahan.

Aku ingat percakapanku dengan Ilalang Dzahira, sepupuku yang sekarang baru  masuk kuliah, tentang kehidupan kami masing-masing yang tengah berjalan menuju kedewasaan secara peculiar (aku suka memakai isitilah ini). Rasa-rasanya baru kemarin kami membahas game PC dengan keranjingan, lupa bahwa spesifikasi laptop yang kami berdua miliki jauh dari memadai untuk menjalankan game2 yang kami bicarakan. Itu bertahun-tahun lalu, aku berkunjung di bulan puasa dan dalam liburan yang membosankan itu aku sedang mencoba membunuh waktu. Waktuku memang benar-benar habis berbicara dengan sepupuku itu, walau aku kebanyakan hanya bilang 'Ya' saja selama ber jam-jam.

Ia baru-baru ini mempelajari seni melinting rokok kretek. Aku memperhatikan. Dalam hitungan detik rokok telah jadi. Aku tidak tahu ia merokok. Tetapi aku senang karena ia minta izin dulu sebelum menghanguskan karya seninya. Kalau tidak suka asap bilang saja, katanya. Aku bilang tidak masalah.
Kemudian kami ngobrol sambil makan mie instan.

Ia bercerita kehidupannya di jurusan sastra. Kukatakan puisi-puisinya yang dibagikan di Line sangat bagus dan aku berpikir untuk mengumpulkannya menjadi kompilasi. Kehidupan sebagai seniman rupanya enak dijalani. Tetapi aku terlanjur berkutat dengan ilmu mekanika tegangan. Jadi, lagi-lagi dalam kesempatan itu aku paling banyak jadi pendengar (sebetulnya di banyak jenis pembicaraan aku memang seperti itu). Untungnya Lalang pembicara yang bartangan dingin, atau bermulut dingin, ya, apapun istilahnya, yang penting Ia sangat puas jika mendominasi percakapan, dan aku cukup senang karena tidak harus merasa bersalah lantaran khawatir orang mengira aku terlalu membosankan setengah mati.

Aku mengatakan minatku pada teknik kini sedang berada di titik yang cukup tinggi. Dan aku sudah memutuskan untuk berdedikasi penuh pada bidang yang aku (terlanjur) dalami ini. Jika mengingat beberapa tahun kebelakang, saat aku sedang jenuh-jenuhnya kuliah dan menghabiskan waktu dengan Trilogi J.R.R Tolkien atau Crime and Punishment-nya Dostoyefsky, alih-alih membaca karya Braja M.Das tentang konsolidasi tanah, aku dirundung perasaan penuh sesal karena telah mengabaikan banyak pengetahuan yang sekarang aku dapati sangat menarik.

"Ilmu teknik sebetulnya buah pikiran filosofis." Kadang-kadang ia terasa sederhana seperti seni meilinting rokok yang menyenangkan.


------

Perhatianku kembali pada dosen yang tengah bercerita (aku ketinggalan separuh cerita karena melamun. Kupikir ia dosen terbaik yang aku jumpai dalam dua tahun ini. Ia sejenis pengajar yang sering membuatku tersenyum sendiri saat mendengar kuliah. Aku agak menyesal kenapa pengajar-pengajar bermulut dingin (bertangan besi? atau apalah istilahnya) baru muncul di saat-saat terakhir. Jika dipikirkan lagi, apa yang aku pelajari saat ini kurang lebih sama dengan ilmu filsafat. Ini pendapatku saja.

Banyak persoalan terjadi dan manusia secara "lucu" berhasil memperoleh pijakan darinya, paling tidak kini sudah mencapai planet paling jauh. Aku tidak heran kalau filosof yunani juga bekerja paruh waktu sebagai Arsitek, Astronom, atau Penasihat Jendral. 

Kini aku lupa telah berapa banyak memasuki berupa-rupa kelas, tapi hanya lewat saja sehingga yang tersisa sekarang hanya pecahan-pecahan tidak bermakna.

Bicara Gempa dan Moralitas Agama

2017 akhir tahun ajaran. Aku masuk fase yang menegangkan dari kuliahku lantaran harus siap-siap untuk sidang akhir. Sebetulnya masih ada dua semester lagi yang mesti aku habiskan. Tapi men-carter dosen pembimbing yang enak jauh-jauh hari merupakan persoalan yang penting. Aku merasa tidak menjadi pragmatis setelah meyakinkan diri kalau upayaku hanya silaturahmi semata, dan kudengar biasanya teknik itu bekerja dengan baik karena satu alasan, siapa cepat dia dapat.

Akhirnya di tengah-tengah liburan aku kembali ke Surabaya dan menjadi rajin bertemu seorang professor yang menurut pendapat banyak orang bisa aku temui kalau aku berminat bicara struktur bangunan tahan gempa. Awalnya aku tergagap-gagap dan bicaraku berantakan sekali, tetapi aku memang seperti itu di banyak kesempatan. Untungnya dosen itu tipikal Ilalang, sepupu dekatku di Bandung yang suka sekali bicara. Baru 15 menit aku sudah dihujani banyak hal. Dalam satu jeda karena ia harus membalas pesan WA, aku buru-buru menyalakan perekam suara. Kira-kira pembicaraan satu jam lebih itu bisa aku singkat begini :

1) Gempa adalah fenomena alam, dan seperti fenomena lainnya (gelombang besar, tsunami, angin topan, badai, dll), tidak ada yang bisa manusia lakukan untuk mencegahnya. Tetapi ilmu pengetahuan bergerak pada tahap di mana superioritas alam telah dipahami dengan jauh lebih baik, sehingga (tanpa mengurangi superioritasnya) alam bukan lagi tantangan yang membuat manusia tidak berkutik sama sekali. Mengingat banyak peristiwa yang tercatat oleh sejarawan-sejarawan kuno atau kitab suci, dapat kita pahami bahwa bencana adalah satu titik waktu di mana peradaban berhenti. Katakanlah Pompeii yang musnah oleh letusan merapi, bangsa Ad yang dalam Al-quran diceritakan dikubur dalam badai pasir, kaum Nabi Luth secara abstrak digambarkan lenyap ditelan bumi, dan sebagainya. Semua peristiwa itu berarti satu hal : tidak ada yang patut manusia sombongkan dihadapan pencipta. Al-Quran mengatakan kaum Ad adalah bangsa yang dapat mendirikan bangunan yang belum pernah ada satu kelompok orang pernah melakukannya. Aku yang hendak terjun dibidang teknik pembangunan merasa apa yang manusia capai saat ini (gedung pencakar langit, jalan tol yang dibangun tanpa henti, dst) adalah pencapaian luar biasa. Melalui kisah dalam Al-Quran kita paham bahwa semua ini dapat Allah ratakan dalam sekejap.

2) Masih berkaitan dengan poin satu, ilmu pengetahuan kini telah dengan sangat baik memprediksi perilaku alam. Apa apa yang pernah terjadi pada peradaban kuno nyaris tidak kita dengar lagi. Manusia bisa menyikapi hal ini dengan beberapa hal:

  • Apa yang manusia capai pada dasarnya hanyalah sebongkah kerang di pinggir laut. Kata Newton, kita seperti anak kecil yang bermain-main di pinggir pantai, menyingkap sebuah kulit kerang dan mengagumi keindahannya, lupa pada kenyataan bahwa di hadapan kita adalah lautan luas yang tidak kita pahami. (Bagian ini akan aku bahas lebih dalam di poin 3)
  • Tidak ada yang perlu ditakutkan karena superioritas manusia telah melampaui alam, lihat lah bagaimana kita telah mencapai bulan, menjangkau planet-planet jauh, dan menjawab banyak teka-teki yang tidak satu pun pernah. Jika apa yang menimpa Sodom dan Gomorah betul-betul terjadi, mengapa Holywood dan Las Vegas, tetap dibiarkan.
3) Dalam surat Ali-Imron ayat 190, semua yang berlangsung di langit dan bumi adalah tanda-tanda kebesaran Allah bagi orang yang berpikir. Ini memberikan aku pemahaman bahwa gempa (aku akan mulai secara khusu bicara hal ini) yang kini telah dengan baik kita pahami hanyalah satu hal dari apa yang Allah tetapkan untuk terjadi. Sehebat apa pun terjadi, Allah menakarnya sedemikian rupa melalui hukum alam sehingga gempa selalu terjadi pada taraf yang masih bisa manusia terima. Jika gempa adalah ujian, maka semestinya itu merupakan satu beban yang manusia tetap bisa pikul. Menyadari hal itu kita mesti berkesimpulan bahwa sedikit saja Allah berkehendak untuk mengubah hukum-Nya, maka apa yang manusia pikirkan puluhan tahun dan kini kita bicarakan (dosenku yang mengatakan hal ini) adalah satu bentuk kesia-siaan. Aku bisa membuat stuktur sehebat apapun dengan asumsi gempa terbesar yang bisa aku pahami dan prediksikan mungkin terjadi. Ketika Allah menghendaki terjadi gempa yang sedikit saja melempau prediksiku, maka semua yang aku lakukan tidak ada artinya. 

4) Ikhtiar penjadi poin penting di sini. Tujuan Allah memerintahkan kita memahami alam semesta, melihat bagaimana siang dan malam silih berganti, dalam kasusku memahami gempa bumi, adalah bentuk kasih sayang yang begitu hebat. Seakan Ia berkata: "berusaha saja sebaik mungkin dengan akalmu yang aku berikan, tetaplah pada rasa takut dan hati yang rendah, perhatikan bahwa apa yang terjadi tidak satupun Bathil, dengan itu jangan khawatir akan aku turunkan ujian yang lebih besar dari melampaui kemampuanmu"





--Catatan ini di buat tidak lama setelah aku melaksanakan Praktek Kerja Lapangan di bulan Juli 2014-- 

Tempo hari, terhitung dua minggu lalu, ditengah kegiatan PKL yang membosankan, sudah lebih dari satu jam hujan turun cukup lebat dan tidak ada satupun yang bisa dilakukan selain berdiri di bawah atap pos pengawasan. Tanpa minat sama sekali aku mengamati sekeliling area proyek gedung itu. Pemandangan yang sama seperti hari-hari lain. Kesibukan yang baru aku rasakan berkat bidang keilmuan yang telah aku dalami dua tahun ini lama-lama membuatku muak. Aku boleh bersyukur selama hujan lebat itu turun di siang hari yang panas. Sebabnya, hujan yang seenaknya turun itu membuatku beserta tiga orang rekan bisa duduk-duduk  saja dan tidak melakukan rutinitas pkl seperti biasa. Waktu yang terasa singkat itu aku habiskan untuk melamun pada 'kekacauan' di depanku. Selain Beton dan baja yang tampak sangat berantakan, turut pula sampah-sampah konstruksi yang tidak terurus menjadi bagian dari objek yang aku pandangi tanpa minat.

Satu-satunya yang mengisi pikiranku hanyalah, betapa memualkannya hidupku nanti jika seharian harus berada di dalam 'kekacauan' ini. Aku mencoba menghibur diri dengan mengingat kenyataan bahwa luasnya bidang keilmuwan ini memungkinkanku untuk meraih banyak peluang pekerjaan dalam bentuk yang lain. Segera saja aku berfantasi menjadi insinyur sipil yang tidak perlu repot-repot menceburkan diri dalam kebisingan sebuah proyek. Aku membayangkan ruangan yang berpendingin, dengan diriku yang duduk dimeja, mengenakan pakaian rapih, mengerjakan sesuatu yang teramat penting sehingga sebuah proyek tidak akan berjalan sebagaimana mestinya kalau aku berbuat kesalahan. Aku adalah semacam manusia yang ditangannya nasib banyak orang bergantung. Di bawah pos itu kami melamun dan tampaknya tidak ada yang berminat sama sekali untuk bercakap-cakap.

Kemudian sayup-sayup, ditengah suara hujan deras (hanya itu satu-satunya suara yang masuk telingaku) terdengar suara adzan dzuhur. Aku mengabaikan suara adzan itu sampai habis kudengar dari setiap masjid yang ada di sekitaran situ. Kembali suara hujan yang ada.
Selain itu terdengar suara lain, para insinyur lapangan yang menggerutu karena proyek harus dihentikan akibat derasnya hujan, dan mereka semakin bertambah cemas ketika melihat lubang galian sebesar dua kali lapangan basket dibanjiri air. Barangkali mereka geram karena harus memompa genangan itu sampai kering, satu tambahan pekerjaan yang menghambat. Selain itu aku mendengar para pekerja bangunan yang tidak kurang senangnya dariku karena bisa istirahat lebih lama dari biasanya, mereka bergurau dan tertawa. Entah apa yang mereka tertawakan, barangkali menertawakan para mandor dan engineer yang mukanya berubah muram.

Aku sudah mengakui sejak awal bahwa aku tidak begitu suka pada orang-orang itu (ini merupakan kesombonganku yang pertama). Aku tidak pernah suka cara mereka bergurau, menggerutu, membangkang, dan melanggar aturan. Jarang kulihat pekerja-pekerja bangunan itu mematuhi peraturan. Cara mereka mengabaikan safety helmet dan pengaman lainnya merupakan bentuk sikap meremehkan yang membuatku kesal dan mulai berpikir andai kecelakaan terjadi pada mereka, aku pasti akan tertawa dulu sebelum menolong (ini merupakan salah satu pikiranku yang paling busuk). Bahkan banyak yang memanjat perancah dengan tangan kosong seolah itu adalah pohon sedangkan di bawahnya adalah lubang yang menerus sampai ke dasar pondasi.

Aku merasa prihatin pada mereka yang kurang mendapat edukasi yang memadai, bahkan hingga yang sepele seperti persoalan keselamatan pribadi. Pada saat itu kutemukan kesombonganku yang ke dua dan ke tiga : (2) sebagai warga yang bisa meraih pendidikan  tinggi, aku dilanda perasaan superior yang membuatku merendahkan para pekerja kasar itu (yang notabane kurang mendapat pendidikan memadai). (3) selama ini aku menolak realitas yang ada. Alih alih memiliki tujuan sebagai perubah keadaan sekitar, setiap hari aku semakin disibukan dengan usaha mengejar satu gaya hidup tertentu yang kurasa semua pemuda kepalang tanggung semacamku tahu seperti apa bentuknya. Dengan begitu, aku menciptakan semacam gap, garis khayal antara 'kelompok' manusia yang ingin aku masuki, dimana kami sama-sama dimabuk oleh angan-angan akan menjadi 'corong bangsa' yang teramat penting, sementara di sekitar kami, bergelimpangan masyarakat Indonesia, yang kebanyakan hidup di bawah  batas lapisan terendah, hingga sedikit menyerempet lapisan di atasnya.

Sejak manusia mulai hidup berkelompok, selalu terbentuk tiga lapisan di masyarakat : rendah, menengah, dan atas. Sejauh yang aku tahu, status mahasiswa ada di tiap-tiap lapisan itu. Masyarakat menengah merupakan mayoritas, dan sebagiannya betingkah sebagai kalangan lapisan atas. Hal itu tidak perlu susah-susah dibuktikan dengan kegiatan survei yang sangat merepotkan, karena dengan berkeliling kampus satu kali saja dari satu departemen ke departemen lain, atau mengunjungi setiap kantin, aku segera tahu siapakah para mahasiswa itu. Aku teringat sebuah memoar yang ditulis Soe  Hok Gi, mahasiswa angkatan 60-an yang menemui ajal di gunung semeru pada usia mudanya, katanya, setiap kelompok intelekual yang berdiam diri telah melunturkan semua kemanusiaannya. Nah, rasanya sebagai mahasiswa aku boleh merasa malu.

Lalu aku teringat bahwa selama ini aku bukan hanya berdiam diri, tapi dengan kebanggaan yang memuakkan aku merasa diri sangat tinggi dan akibatnya aku lupa pada realitas.
Keyakinan bahwa mengejar satu gaya hidup merupakan hal paling penting dan usaha melampaui lapisan menengah menuju tinggi dengan jalan yang begitu egois, barangkali berkali-kali lebih buruk dari apa yang ditulis dalam memoar Soe Hok Gie barusan.

Gap tadi semakin kentara dengan adanya berbagai alat yang mulanya diciptakan untuk kepentingan teramat vital seperti komunikasi, dengan sendirinya, pada satu sisi bergerak ke arah yang akhirnya membentuk tembok. Hal yang tampak sepele ini mengkotomi beberapa kalangan. Hampir semua pemuda, remaja, atau mahasiswa angkatan ini tahu betul seperti apa yang terjadi di dunia 'luar-realita' ini. Kita tahu percis siapa mereka yang boleh disebut 'alay', dan tampaknya semua pemuda yang tinggal di daerah atau pinggiran, kadang dianggap remeh oleh orang-orang kota atau bahkan oleh mereka yang berhijrah dari daerah ke tempat yang lebih tampak seperti kota dan 'berperadaban maju', 'modern', atau istilah lainnya, bahkan hanya karena perbedaan jenis hiburan, cara berpakaian, dan gaya hidup. Aku merasa disinilah asal lahirnya istilah kampungan, alay, atau apapun yang habis-habisan coba aku (kita) hindari. Hal ini merupakan salah satu alasan selain aku sebagai mahasiswa merasa berkedudukan lebih tinggi, yang jadi asal dari kesombongan no.2 dan no.3.

Satu lagi yang paling memuakkan, dengan pendidikan tinggi yang telah didapatkan, aku merasa dekat dengan angan-angan yang menjadi alasan aku belajar : mencapai lapisan masyarakat paling tinggi dengan jalan menjadikan diri sebagai tujuan (egosentris?). Ironinya, timbul keyakinan bahwa kamilah kelak yang akan menjadi corong bangsa, ujung tombak, generasi emas, generasi pilihan, dan sebagainya, dan sebagainya. Aku pernah mendengar perkataan yang teramat subjektif dari seorang pengamat pendidikan, "sepanjang cara berkendara (serta jenis kendaraan) menjadi fokus, pelajar akan menjadi robot setelah lulus". Perkataan pengamat itu, walaupun tampak tidak nyambung, Kalau dicerna baik-baik ada benarnya. Katanya lagi, sungguh ajaib, sesorang bisa merasa lebih tinggi statusnya di masyarakat saat turun dari mobil pribadi. Soal ini aku setuju sekaligus tidak, tapi rasanya tidak perlu di pikirkan.

Di tengah hari yang tiba-tiba menjadi dingin itu hujan masih deras. Aku bersyukur terus karena hujan membuat proyek yang terletak di Jalan.Otto Iskandar Dinata, salah satu tempat terpadat dan terpanas di kota Bandung itu, mendadak menjadi tempat yang dingin dan menenangkan.
Semua orang sepertinya merasa harus diam mendengarkan suara limpahan air. Para pekerja pun terdiam, mungkin karena saat itu waktunya makan siang.

Adzan sudah sama sekali tidak terdengar lebih dari setengah jam lalu. Aku sempat berpikir untuk berlari menembus hujan, melewati sampah-sampah proyek yang berserakan, mungkin sesekali tersandung, untuk pergi menuju mushola di ujung yang berseberangan. Sebetulnya Aku lebih termotivasi untuk berbaring di mushola itu ketimbang melaksanakan sholat. Mushola itu satu-satunya nya tempat yang aku sukai di proyek. Sebabnya, tempat itu selalu bersih, berpendigin, dan khusus disediakan hanya untuk staf, para engineer, satpam, dan kami, mahasiswa pkl. Tempat itu pun hampir selalu kosong sepanjang waktu.
Pikiran lari menembus hujan itu tidak berusaha aku wujudkan. Walau bosan aku kembali menatapi proyek. Yang jadi perhatianku waktu itu adalah acuan dan perancah yang berfugsi untuk membentuk struktur beton dan menahannya hingga beton itu mengeras. Beberapa kali aku diserang paranoid ketika aku berjalan di bawah beton yang baru saja dituang malam sebelumnya. Alasannya, sering aku dengar satu proyek besar menemui ajalnya dalam hitungan detik karena acuan dan perancah yang buruk. Pandanganku mengarah pada lantai paling atas. Disitu tampak banyak pekerja yang sedang duduk-duduk dan makan siang dengan tenang, tanpa sedikitpun khawatir pada lantai beton yang baru saja dituang pada malam sebelumnya di atas kepala mereka, lantai beton rapuh itu berubah fungsi jadi atap pelindung dari hujan. Semakin bertambah saja paranoidku. Bagaimana jika air yang menggenang jadi terlalu berat dan tiang-tiang beton yang baru jadi itu tidak kuat menahan? Aku mencoba membuang pikiran itu jauh-jauh.

Pandanganku menyapu semua bagian proyek yang kacau dan berantakan itu, hingga akhirnya sampai di sudut yang sepi. Aku memicingkan mata begitu melihat seorang pekerja sedang melakukan sesuatu yang agak ganjil karena baru sekali itu saja aku lihat. Ia berkali-kali mengambil segenggam air dari curahan air hujan yang merembes melalui sebuah celah beton. Sadarlah aku kalau pria tua itu sedang berwudhu. Di antara perancah ia menggelar sejadahnya, kemudian sholat. Ia melakukan kegiatan itu 'begitu saja' tanpa mempedulikan sekitarnya, dan dengan kekhusukan yang mengatakan "persetan dengan sekitarku". Dari ekspresi wajahnya yang begitu dalam aku tahu kalau ia menikmati pelerjaannya itu. Pekerjaan yang selama ini kurasa hanya bisa dilakukan ditempat nyaman, seperti mushola yang selalu sejuk, kosong, dan bersih karena khusus disediakan  untuk orang-orang di proyek ini yang 'berpendidikan'. Aku merasa barangkali pekerja tua itu pun paham, walaupun tidak ada aturannya, bahwa kuli tidak boleh sholat di mushola. Makanya ia solat di bawah lantai beton yang belum begitu kering.

Setelah sholat, pekerja tua itu bergabung ke dalam kerumunan pekerja. Bersama-sama mereka makan nasi bungkus di tempat menyedihkan itu, kebanyakan masih dengan tangan yang kotor dan perkakas di sampingnya. Sambil makan mereka bergurau dan tertawa, entah menertawakan siapa.
Saat itulah aku menyadari betapa sederhananya hidup di mata para pekerja kasar itu. Mungkin bagi mereka hujan hanya sekedar curahan air yang patut disyukuri karena membuat jam istirahat jadi lebih panjang, mereka tidak repot-repot memikirkan genangan air yang merendam lubang, mereka hanya perlu menggali dan mengoperasikan pompa. Barangkali memereka sering tertawa dan bergurau karena sudah merasa cukup puas dengan hidupnya. Seorang peraih nobel sastra pernah berkata, di dalam diri seorang yang merasa puas dengan kehidupan tersimpan rahasia besar kebahagiaan,

Nah, begitulah hari itu, hujan turun terus sampai sore. Proyek itu menjadi banjir, aku memaksakan diri berlari menuju mushola lalu tidur. Sampai waktu pulang tiba, hujan masih turun sebatas gerimis kecil.

Saya baru benar-benar paham dengan bidang keilmuwan yang saya geluti setelah hampir setahun setengah kuliah. Maksudnya bukan 'paham' setingkat profesor. Paham disini adalah banyak hal yang remang-remang berubah jadi jelas. Dan pertanyaan 'mau dibawa kemana hidup saya setelah wisuda nanti?' terjawab sudah.

Menurut saya, banyak sekali pertanyaan-perntanyaan yang gak mungkin bisa dijawab oleh seseorang tanpa ada campur tangan dari orang lain. Dalam upaya 'pencarian', terutama jati diri, seseroang butuh lebih dari dirinya sendiri sebagai 'alat pencari'. Ah, susah sekali menemukan kata-kata yang sederhana. Pokonya saya sadar betul kalau selama ini ternyata saya sangat tergantung pada orang lain untuk dapat menemukan diri yang sebenarnya. Dan dalam persoalan yang satu ini (bidang keilmuwan yang saya geluti), semakin saya paham, semakin saya tahu ada dimana posisi diri saya dalam bidang keilmuwan yang luas ini, semakin saya merasa kalau semuanya itu bukanlah hal yang bisa saya lakukan seolah-olah itu adalah passion saya. Terus apa passion saya yang sebenarnya? Bahkan itu masih jadi pertanyaan besar yang rumit sekali.

Saya bisa saja disebut si pendengki yang iri dengan orang-orang. Orang-orang yang berhasil menjalani hari-hari sesuai dengan apa yang diinginkan, dan yang dilakukannya itu benar-benar passionnya.

Ya begitulah, persoalan ini  memang gak sepantasnya hadir disaat-saat 'nanggung' seperti ini. Tapi bagaimanapun, persolan tetap persoalan. Mau mata di tutup, mau berlari kabur, persoalan itu tetap diam dan gak akan pergi begitu saja. 

Disisni kali yah point paling penting dalam kalimat 'harus punya banyak kawan'. Saya rasa kalau saya cuma mengandalkan diri sendiri dalam menghadapi persoalan ini, yang ada malah perasaan kacau yang semakin berlarut-larut. lalu, kenapa kesadaran itu baru muncul sekarang-sekarang? jadi, selama ini saya begitu bodoh karena tidak mau peduli dengan ucapan-ucapan orang kaya "kamu harusnya aktif, cari orang-orang baru. Banyak orang-orang baru yang bisa jadi bahan buat kamu belajar banyak."...

Pada akhirnya pertanyaan rumit ini harus saya temukan jawabanya dari orang lain. Dan dari perasaan bahwa apa yang saya kerjakan saat ini bukanlah passion saya, muncul keinginan buat berorganisasi. Berorganisasi? kenapa tiba-tiba jadi terfikirkan hal ini? waktu sma dulu saya beberapa kali melompat-lompat dari satu organisasi ke organisasi yang lain. Walaupun sebagian besar cuma jadi tempat transit doang. Dan saya sering merasa dapat julukan si pasif (siapa yang tahu?). Sudahlah, sma cuma masa lalu. Masa lalu memang kadang kurang baik, tapi hari ini belum tentu lebih baik dari masa lalu. Dan pada kenyataannya pun, di kampus minat saya buat berorganisasi merosot sampai ke dalam kaus kaki. 
Sampai blog ini di buka lagi pun, minat saya pada organisasi masih rendah. Tapi saya rasa ini waktu yang paling pas untuk mulai berjalan tanpa mengikuti naluri yang mengebu. 

Lalu, saya harus mulai dari mana?